555 Ha Lahan Tak Terairi

Kompas 2009-07-07/e-Paper: Nusantara

Banyumas- Musim kemarau baru berlangsung sebulan, tetapi kekeringan sudah mendera sejumlah areal pertanian di Banyumas, Jawa Tengah. Di Kecamatan Kedungbanteng, 555 hektar lahan tak terairi menyusul keringnya Bendung Karangnangka di Desa Karangnangka.

Pintu utama bendungan yang membendung Kali Banjaran tersebut setidaknya sudah dua pekan tak lagi mengalirkan air. Padahal, airnya sangat dibutuhkan tanaman yang ada di Desa Kebocoran, Karangsalam, Keniten, dan Kedungbanteng. Kini, lahan pertanian di keempat desa tersebut kekeringan.

Pintu air samping bendung itu memang masih mengalirkan air. Namun, elevasinya tinggal seperempat dari biasanya. Air dari bagian ini dimanfaatkan untuk mengaliri sawah di Desa Beji dan Karangnangka.

Akibat makin tipisnya air irigasi untuk lahan di Desa Beji dan Karangnangka, petani di kedua desa itu akhir-akhir ini kerap berkonflik, rebutan air.

”Konflik air hampir setiap malam terjadi,” ujar Ketua Kelompok Tani Karangnangka Khodirin, Senin (6/7) di Banyumas.

”Memang belum sampai terjadi bentrok fisik. Tetapi, kami lelah tiap malam ada adu mulut. Bahkan, sampai mengacung- acungkan parang dan berjaga-jaga agar tak ada penyerobotan air,” kata Khodirin.

Seharusnya, lanjutnya, masalah ini mendapatkan perhatian dari pemerintah. Setidaknya, lakukan penghijauan di daerah hulu Kali Banjaran.

”Dari tahun ke tahun, elevasi Bendung Karangnangka terus menurun. Tiap musim kemarau tiba, air bendung mengering. Tahun ini paling parah. Buktinya, kemarau baru satu bulan, bendungan sudah kering seperti ini,” katanya.

Rusak

Daerah aliran sungai Kali Banjaran yang berhulu di lereng Gunung Slamet selama ini mengalami kerusakan. Alih fungsi lahan—dari hutan menjadi ladang pertanian, tanaman industri, dan bangunan—menyebabkan debit air dari hulu kian kecil.

Selain untuk irigasi pertanian, air dari Bendung Karangnangka juga dimanfaatkan petani Kedungbanteng untuk perikanan darat. Sekitar 75 persen warga di Desa Karangnangka dan Beji adalah peternak ikan. Artinya, pengguna air dari bendungan tersebut sangat banyak.

Dampak menurunnya elevasi bendung mengakibatkan 300 hektar lahan padi, yang sebagian besar berusia satu bulan, terancam puso. Selain itu, sekitar 250 hektar lahan pertanian lainnya tak dapat ditanami padi.

”Petani di sini banyak yang salah mangsa. Waktu tanam (menanam padi), hujan masih turun, air irigasi lancar. Tetapi, sekarang cepat sekali air tak ada, hujan tak turun,” keluh Kilen (50), petani di Desa Karangnangka,.

Petani yang belum menanam padi kini sebagian memanfaatkan lahannya untuk bertanam jagung, timun, atau palawija. Beberapa di antaranya mengaku sudah mulai pembenihan padi.

”Tetapi, karena suplai air kurang, benih padi menguning dan sebagian mengering sehingga tak dapat ditanam,” demikian penjelasan mereka.

Menurut Kepala Dinas Pertanian Banyumas Wisnu Hermawanto, Bendungan Karangnangka masuk dalam wilayah kerja dinas pekerjaan umum. Karena itu, dinas pertanian tak memiliki otoritas penuh untuk mengatasi masalah itu.

”Tetapi, kalau petani mempunyai keluhan, silakan mengirimkan surat kepada kami dengan tembusan dinas pekerjaan umum,” katanya, seraya menambahkan, pihaknya belum mendapatkan laporan soal keringnya Bendung Karangnangka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: