Sekotong, antara Obyek Wisata dan Pertambangan

Kompas 2009-07-06/e-Paper: Nusantara

Kalau pagi hingga sore, tempat itu kelihatannya seperti bungker, macam orang sedang perang gerilya. Tetapi, kalau malam, dari kejauhan tampak temaram sinar lampu listrik, tak ubahnya sebuah kompleks perumahan, bahkan pasar malam,” ujar Agus, sopir jip Toyota Hard Top, saat ditemui di perbukitan Kecamatan Sekotong, Lombong Barat, Nusa Tenggara Barat. Pekerjaannya saat ini adalah mengangkut bongkahan tanah yang mengandung emas dari lokasi pertambangan di perbukitan itu ke tempat penggilingan.

Lokasi penggalian tanah emas di Kecamatan Sekotong ada di tiga lokasi: Kayu Putih, Batu Montor, dan Pondok Ganjar. Para penambang biasanya menginap di tenda berbulan-bulan. Saat ini diperkirakan ada sekitar 4.000 penambang di lokasi tersebut. Bongkahan tanah yang digali pada umumnya dijual kepada pembeli yang sebagian besar juga pemilik mesin penggilingan (gelondongan) di Kecamatan Sekotong.

Ongkos angkut hasil tambang ke tempat penggilingan Rp 25.000-Rp 50.000 per karung (40 kg). Satu jip seperti yang disopiri Agus mampu mengangkut 25 karung. ”Satu karung batu kandungan emasnya sekitar satu gram,” papar Agus.

Batuan itu dihancurkan dengan mesin penggiling (gelondongan) sehingga menjadi ekstrak (0,5 milimeter). Selanjutnya, didulang menggunakan air hingga fraksi yang membawa butiran emas tertinggal. Proses ini menggunakan air raksa (Hg) sebagai bahan penangkap/pengikat butiran emas. Setelah itu, air raksa yang mengandung emas dimasukkan ke dalam kain penyaring, kemudian diperas sampai sebagian besar air raksa keluar dan butiran emas tertinggal dalam kain.

Celakanya, limbah yang mengandung merkuri dibuang sembarangan di halaman rumah maupun saluran air, seperti terjadi yang di sentra kerajinan emas Kelurahan Karang Pule, Kota Mataram.

”Memang dampaknya (untuk kesehatan) tidak bisa dilihat dan dirasakan satu-dua minggu, tetapi lima sampai sepuluh tahun kemudian,” komentar Ir Mutawalli, Kepala Kantor Lingkungan Hidup Kota Mataram, tentang pembuangan merkuri yang sembarangan itu.

Keprihatinan semakin mendalam, mengingat pekerja memproses emas itu dengan tangan telanjang dan tanpa masker.

Tak hanya itu, cara penambangan pun cukup berisiko. Pekerja membuat lubang parit atau lorong dengan kedalaman lebih dari lima meter. Penambang kemudian menggali lorong tersebut mengikuti urat tanah yang diduga mengandung emas. Panjang parit bisa mencapai 50 meter.

Pola penambangan yang demikian tidak jarang menelan korban jiwa. Menurut catatan Pemerintah Lombok Barat, sejak Januari hingga Juni, setidaknya enam penambang tewas tertimbun longsoran tanah. Baru-baru ini, dua pekerja juga tewas tertimbun longsoran.

Sejumlah warga mencurigai, jumlah korban di pertambangan itu cukup banyak. ”Ini terindikasi dari ratusan sepeda motor yang diparkir sampai berbulan- bulan di seputar lokasi penambangan dan tidak ada yang mengambilnya,” kata mereka. Diduga kuat pemilik kendaraan roda dua itu adalah penambang yang terkubur dalam lorong dan tidak dilaporkan kepada aparat berwenang.

Itulah sebabnya Bupati Lombok Barat Zaini Arony sejak Mei lalu menutup penambangan, yang tergolong liar itu. Namun, perintah untuk meninggalkan lokasi pertambangan tak pernah digubris. ”Mereka tetap menambang secara sembunyi-sembunyi. Malam hari baru mereka nambang. Kalau siang hari kan takut ditangkap petugas,” tutur Agus.

Peruntukan

Lokasi itu, jika ditilik dari peruntukan, bukan area penambangan. Peraturan Daerah (Perda) Nusa Tenggara Barat (NTB) Nomor 11 Tahun 2006 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah NTB menyebutkan, di Pulau Lombok sesuai bentuk bentang kenampakan alamnya tidak diizinkan usaha penambangan galian B. Hanya Pulau Sumbawa yang diizinkan ada galian B.

Perda itu agaknya melihat realitas, seperti sering terjadinya erosi tanah dan lumpur pada musim hujan. Belakangan ini, longsor dan banjir bahkan kian parah. Hal itu diduga akibat hutan di sekitar wilayah tersebut terus dibabat penebang liar. Padahal, selama ini wilayah Sekotong merupakan kawasan wisata pantai yang diincar investor.

Keunggulan itulah yang mendorong Bupati Zaini ingin menata wilayah tersebut sebaik mungkin. Ia berharap, perda di atas direvisi. Area penambangan diatur zonasinya.

Revisi perda dinilai memungkinkan, dengan merujuk Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang penambangan mineral dan batu bara—Lombok sebagai salah satu cadangan pertambangan.

”Yang jelas, penambangan yang diinginkan adalah yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan dan bersinergi dengan sektor lain,” ujar Surahaman, Kepala Bidang Pertambangan Umum Dinas Pertambangan dan Energi Lombok Barat.

Meski demikian, tentunya patut dipertimbangkan masak-masak, wilayah Sekotong selama ini lebih dikenal sebagai obyek wisata yang menawarkan panorama sumber daya alam, khususnya pantai dan air laut. Jika ada pertambangan di sana, mungkinkah daerah itu masih menarik minat investor di bidang pariwisata?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: