Carut-Marut Tambang Emas Bombana

Kendari Ekspres 2009-07-06/Sultra Raya: hal 16

Kassipute- Secretaris Corperate PT Panca Logam, Lukman Aziz, nampak gundah. Karena sebagai salah satu perusahhan memegang hak Kuasa Pertambangan Emas di Bombana, perusahaan tersebut diharuskan menormalisasikan aliran air sungai (DAS), di sekitar kawasan lahan konsesi perusahaan PT Panca Logam  yang seluas 1.200 meter yang tidak semudah dengan apa yang diperkirakan selama ini.

Menurut Aziz kepada Kendari Ekspres bahwa awalnya kami menargetkan normalisasi DAS ini bisa dikerjakan paling lambat dua hingga tiga bulan ke depan. Namun, fakta yang terjadi di lapangan, kami sudah melewati target.

Menurutnya, selain luas kawasan yang telah rusak akibat penambangan illegal  yang mencapai lebih 60 persen dari total luas lahan konsesi milik perusahaan PT Panca Logam Makmur, sejumlah penambang liar juga masih melakukan aktivitas pertambangan di sekitar lokasi.

Maka tak heran, areal yang sudah dinormalisasi tak sampai seminggu sudah diporak-porandakan kembali oleh penambang liar.

Sehingga kondisi ini berakibat pada banyaknya sawah milik petani di Kecamatan Rarowatu terairi. Pasalnya, sungai Wumbubangka yang menjadi sumber pengairan sawah dan kebun mereka rusak akibat aktivitas pertambangan.

Abdul Madjid, salah satu petani mengaku sejak dua bulan terkahir ia terpaksa banting stir menjadi penambang emas liar.

Keberadaan para penambang liar ini juga diakui oleh Slamet Rigay, Ketua Tim Penertiban Tambang Emas Bombana.

Menurut Slamet Rigay, pihaknya sudah berkali-kali sudah melakukan penertiban mulai dari cara yang halus seperti himbauan dan sosialisasi bahkan hingaa melakukan tindakan keras seperti pengusiran dan menyita alat-alat menambang yang digunakan penambang liar.

Meski telah dibantu oleh aparat keamanan dan TNI, upaya untuk menertibkan kawasan tambang di Kabupaten Bombana bukan perkara mudah.

Luas kawasan tambang emas yang harus diawasi tambah lagi minimnya jumlah personil, merupakan kendala utama dalam upaya penertiban tambang emas. Belum lagi, soal anggaran untuk membiayai operasi penertiban  tersebut.

Masalahnya, tidak mudah menggunakan dana yang tersimpan di kas daerah Pemerintah Kabupaten Bombana. Selain harus melalui prosedur birokrasi yang berbelit, juga harus dibekali persetujuan dari para wakil rakyat di parlemen.

Kendala yang dihadapi pemerintah Kabupaten Bombana ini rupanya dimanfaatkan betul oleh penambang liar. Minimnya jumlah aparat keamanan yang menjaga pintu masuk di lokasi tambang emas diakali oleh para penambang liar dengan memanfaatkan jalan-jalan tikus yang jumlahnya ribuan dan tersebar di Tahi Ite, Wububangka hingga SP 8.

Slamet Rigay tak menampik banyaknya isu yang menyebut keterlibatan sejumlah pejabat yang menjadi “backing” dari para penambang liar ini. Hanya saja, untuk membuktikannya sangat susah.

Kabar burung soal keterlibatan oknum pejabat yang menjadi backing dari aktivitas penambang liar ini semakin mengemuka saat tim penertiban tambang emas Bombana yang terdiri atas pemerintah Kabupaten Bombana, polisi, dan TNI, memergoki dan menangkap sejumlah penambang liar di kawasan Wumbubangka sekitar awal bulan Juni lalu.

Dari tangan para penambang liar disita sebanyak 11 mesin penyedot lumpur yang digunakan untuk menambang emas.

Saat diinterogasi, para penambang ini mecatut nama sejumlah pejabat pemerintah Kabupaten Bombana hingga pejabat yang dilakukan para penambang liar.

Setali tiga uang, baik pihak PT Panca Logam Makmur hingga pemerintah agaknya satu kata terkait catut-mencatut nama pejabat yang dilakukan para penambang liar.

“Cara-cara yang dilakukan para penambang liar dengan mencatut nama pejabat hanyalah sekedar taktik untuk menakut-nakuti tim penertiban agar tidak menangkap dan menyita mesin-mesin serta berbagai peralatan menambang mereka. Tapi nyatanya mereka tetap ditangkap , dan mesinnya tetap disita”, ungkap Lukman.

Kberadaan ribuan penmabang liar ini Kabupaten Bombana, seolah mengingatkan kita pada era tahun 1990-an saat eksodus ribuan bangsa Eropa ke Benua Amerika untuk mencari emas.

Tak hanya pengelolaannya yang tak jelas dan membabi buta, perburuan emas pasca ditemukannya Benua Amerika, banyak mengorbankan nyawa suku Indian selaku penduduk asli Benua Amerika.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: