Jumlah Komodo Turun

Kompas 2009-07-03/E paper halaman 13 Lingkungan & Kesehatan

Labuan Bajo – Populasi komodo di kawasan cagar alam Wae Wuul, Kabupaten Manggarai Barat, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, sangat terancam atau rentan untuk punah. Jumlahnya terus menurun secara signifikan dalam kurun waktu 18 tahun.

Hal itu disampaikan Ketua Komodo Survival Program Jeri Imansyah yang dihubungi dari dari Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (1/8). Penegasan ini menguatkan siaran pers hasil penelitian lembaga swadaya masyarakat Komodo Survival Program yang dikirim kepada Kompas sebelumnya.

Dari survei populasi komodo (Varanus komodoensis) dan mangsanya pada 22 Juni-19 Juli 2009 di Cagar Alam Wae Wuul, hanya tersisa 17 ekor komodo. Survei itu dilakukan bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) NTT.

Telah terjadi penurunan signifikan karena pada 1991 di tempat yang sama ditemukan 66 ekor komodo, menyusut menjadi 19 ekor (2000). Tingkat kepadatan populasi komodo pada 2000, 10 kali lebih rendah daripada yang ada di Taman Nasional Komodo.

Komodo yang berhasil ditangkap dalam survei ini ukurannya di bawah 4 kilogram dan paling besar (seekor) adalah 19 kg.

Di sisi lain, populasi mangsa komodo, seperti rusa timor (Cervus timorensis) juga turun. Nilai kepadatan di bawah 1 ekor per kilometer persegi, sedangkan pada penelitian tahun 2008 masih sekitar 1,4 ekor per kilometer.

Penurunan juga terjadi pada populasi mangsa komodo, antara lain karena perburuan rusa dan pembakaran padang rumput di sekitar dan di cagar alam. ”Dengan kondisi seperti ini, perlu dilakukan pengelolaan habitat lebih baik lagi,” kata Jeri.

Dari penelitian itu disimpulkan, penurunan populasi komodo di Wae Wuul menunjukkan rendahnya perhatian pihak terkait, baik dari sisi kajian ilmiah maupun pengelolaan (monitoring berkala, pengamanan, dan pembinaan habitat).

Dengan kondisi seperti itu, kata Jeri, rencana Dephut memindahkan lima pasang komodo untuk pemurnian genetik dari Wae Wuul ke Taman Safari Bali justru akan mengancam kepunahan komodo Flores.

Pihak survival program mendesak Menteri Kehutanan membatalkan Surat Keputusan Nomor SK.384/Menhut-II/2009 tanggal 13 Mei 2009 tentang pemberian izin menangkap 10 komodo di wilayah kerja Balai Besar KSDA NTT.

Sementara itu, Koordinator Pelestarian Komodo Flores Rofino Kant menyatakan, hasil pengumpulan tanda tangan sebagai pernyataan penolakan pemindahan komodo oleh masyarakat Flores direncanakan akan dilaporkan juga kepada Presiden dan DPR. ”Biar Presiden mengetahui dan diharapkan meminta Menteri Kehutanan mencabut SK itu,” kata Rofino.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: