Perdagangan Karbon dari Laut

Kompas 2009-07-02/e-Paper: Humaniora

Oleh: Muhamad Karim

Menjelang pertemuan World Ocean Conference di Manado, 11-15 Mei 2009, mencuat usulan perdagangan karbon bersumber dari lautan. Menteri Kelautan dan Perikanan mengklaim bahwa laut dan pantai Indonesia mampu menyerap karbon 66,9 juta ton per tahun dan karbon dioksida (CO) 245,6 juta ton per tahun (Kompas, 11/4).

Pemerintah meyakini, dengan mengusung gagasan ini di WOC akan mendapatkan keuntungan dari negara-negara penghasil emisi atas jasa serapan lautnya terhadap karbon. Jika demikian, negara-negara industri maju tetap leluasa melepaskan emisi karbon. Pertanyaannya, apakah laut sebagai penyerap karbon atau pelepas karbon?

Masih dalam perdebatan

Kalangan ilmuwan kelautan dunia masih berdebat soal apakah laut menyerap atau melepas karbon. Sampai kini pendapat ilmuwan terpolarisasi atas tiga kelompok. Pertama, kelompok ilmuwan ”teoretis” yang mengacu pada teori pertukaran karbon di alam.

Mereka meyakini, di dalam lautan yang luasnya ¾ permukaan bumi hidup fitoplankton yang berfotosintesis sehingga menyerap karbon dioksida dari atmosfer. Tesis ini mendasari teori, lautan adalah reservoir raksasa penyerap karbon. Mereka menduga laut mampu menyerap 6 peta gram (6.000 juta ton) karbon per tahun dari CO atmosfer akibat pembakaran bahan bakar fosil (JGOFS, 2000).

Padahal, perairan laut tropis, subtropis, ataupun daerah kutub memiliki karakteristik berbeda secara oseanografis.

Kedua, kelompok ilmuwan yang belum bisa memastikan apakah lautan dan sumber dayanya sebagai penyerap atau pelepas karbon. Pasalnya, semua hasil penelitian memosisikan laut sebagai pelepas karbon (carbon sources) ke atmosfer, kecuali Laut Utara, Atlantik Utara, dan Samudra bagian Selatan. Hasil penelitian ilmuwan di perairan lintang tinggi 20-40 memosisikan perairan Atlantik Utara dan Samudra bagian Selatan mampu menyerap CO melalui proses pompa fisis ataupun biologis yang mengendalikan siklus karbonat di lautan (JGOFS, 2000).

Amat berbeda dengan hasil penelitian tekanan parsial CO oleh ilmuwan Jepang di pantai barat Sumatera (+16 atm-+27 atm), perairan selatan Selat Lombok, dan Selat Makassar sampai Laut Sulawesi (+4 atm-+20 atm), serta Laut Jawa. Semua positif sebagai sumber karbon (Koropitan, 2008).

Ada tiga parameter yang memosisikan laut sebagai penyerap atau pelepas karbon, yaitu (i) tekanan parsial CO (pCO), (ii) suhu permukaan laut, dan (iii) kandungan karbon anorganik (disolved inorganic carbon) penyubur pertumbuhan plankton di laut.

Ketiga, kelompok ilmuwan ”ortodoks” meyakini teori pertukaran karbon di alam dan khawatir ancaman perubahan iklim global. Bisa direkayasa bagaimana lautan mampu menyerap karbon. Penelitian ilmiah di Samudra Pasifik Utara, Sub-Artik, Pasifik Khatulistiwa, dan wilayah Samudra bagian Selatan yang memiliki konsentrasi nutrien tinggi, kandungan klorofilnya rendah (high nutrient-low chlorophyll). Ini membingungkan.

Kondisi ini mengindikasikan kegiatan biologis (fotosintesis) rendah. Padahal semua perairan itu mencakup 30% perairan lautan global. Muncul tesis; ada faktor pembatas yang memengaruhi aktivitas biologis fitoplankton, selain nitrat, fosfat, dan silikat. Kesimpulannya jatuh pada besi (Fe).

Dilakukan uji coba membenamkan ratusan ton besi di perairan laut selatan agar merangsang pertumbuhan fitoplankton. Para ilmuwan melakukan percobaan penyuburan besi di Samudra bagian Selatan (SOIREE: 1999)—sebelumnya diujicobakan di Pasifik Khatulistiwa sebelah timur (IronEx I, 1993 dan IronEx II, 1995). Hasilnya, (i) terjadi peningkatan pertumbuhan fitoplankton, (ii) terjadi peningkatan penyerapan CO atmosfer di kawasan penyuburan, dan (iii) terjadi perubahan ”struktur komunitas plankton”, yakni sel-sel fitoplankton yang kecil menjadi diatom besar cepat tenggelam.

Perbincangan karbon

Merujuk penelitian ilmuwan, mustahil menerapkan Mekanisme Pembangunan Bersih (CDM) ala Protokol Kyoto di laut untuk atasi perubahan iklim. Alasannya, pertama, pelbagai penelitian di lautan yang ingin mengetahui lautan sebagai carbon sink masih kontroversial.

Kedua, penelitian lautan tropis menunjukkan lebih condong sebagai carbon sources ketimbang carbon sink (Koropitan).

Ketiga, percobaan fertilisasi besi di lautan hasilnya kurang memuaskan. Karena, hanya menyuburkan kawasan lokasi eksperimen dan gagal total pada tahun 2009. Percobaan oleh PBB diminta dihentikan karena prosesnya menggunakan radioaktif Torium233 dan Uranium238 (Soetrisno, 2009).

Keempat, hasil penelitian terumbu karang belum terbukti sebagai penyerap karbon. Ini amat berbahaya bagi Indonesia karena mendeklarasikan kawasan Coral Triangle Inisiative (CTI) sebagai kawasan konservasi laut. Itu karena akan berujung pada penggusuran dan pencabutan hak-hak nelayan tradisional untuk mengakses sumber daya. Parahnya, premis ini diamini kalangan intelektual/akademis yang mencari keuntungan di balik penderitaan nelayan.

Kelima, kolaborasi antara pengambil kebijakan, kalangan intelektual/akademisi pragmatis-oportunis dari perguruan tinggi dan multinational corporation, lembaga keuangan internasional, serta lembaga konservasi internasional sebaiknya menghentikan inisiatif dan perbincangan terkait ”perdagangan karbon” dari lautan. Lebih baik meminta negara industri maju menghentikan industrinya yang memproduksi emisi karbon.

Keenam, Indonesia harusnya memastikan dulu apakah perairannya, 5,8 juta km sebagai penyerap karbon atau emisi karbon.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: