Suku Bajo: Bubu Ikan Kini Jadi Andalan

Kompas 2009-07-01/e-Paper: Nusantara: Sultra

Ronjong (82) menjinjing dua bubu ikan menuju sampan bercadik di pantai belakang rumahnya di Desa Mekar, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Satu per satu bubu dinaikkan ke sampan, diikat, dan dibawa menuju padang lamun di Teluk Kendari.

Hal itu sudah dijalani lelaki suku Bajo itu sejak remaja. Bagi suku Bajo, bubu ibarat cangkul untuk mengolah sawah. Mereka mengenal bubu dari nelayan Buton yang sama-sama mencari ikan di Laut Banda.

Bubu tradisional dibuat dari jalinan bilah bambu. Bubu berbentuk seperti simbol hati dengan lubang jebakan ikan di atas. Ukurannya, tebal 0,5 meter dan panjang satu meter.

Bubu ikan dipasang di perairan dangkal. Ronjong mampu menyelam tanpa tabung oksigen hingga kedalaman tiga meter untuk memasang 17 bubunya. Tiap dua hari ia mengangkat bubu. Hasil tangkapannya rata-rata 35 tusuk ikan yang dijual Rp 10.000 per tusuk.

”Di zaman Jepang, dari satu bubu bisa mendapat 50 tusuk ikan,” katanya.

Ronjong gemas karena kini banyak terumbu karang hancur akibat bom ikan dan racun. Di tengah kerusakan lingkungan laut, Ronjong bersyukur karena tersisa padang lamun yang lolos dari keserakahan para nelayan muda yang mau cepat kaya.

Parman (23), pemuda Bajo yang aktif dalam Paguyuban Kerukunan Keluarga Bajo Sultra, menilai jalan pintas yang dilakukan para nelayan muda itu dipengaruhi budaya konsumtif. Sejak mereka menetap di sisi timur Teluk Kendari tahun 1986, terjadi interaksi dengan masyarakat kota. Gemerlap modernisasi menyilaukan banyak anak muda yang kemudian melupakan kearifan suku Bajo.

Menurut Parman, Teluk Kendari dan sekitarnya pernah disebut daerah dollar karena orang mudah mendapat uang. Banyak nelayan Bajo menggunakan bom dan racun ikan. Hasil tangkapan melonjak drastis, namun hanya sesaat. Kini hasil tangkapan turun, nelayan harus menjelajah lebih jauh untuk dapat ikan.

”Tiga tahun terakhir ini tinggal beberapa orang yang menggunakan bom ikan. Mereka kapok terkena bom. Banyak yang cacat, bahkan mati kena bom ikan,” kata Parman.

Transformasi sosial suku Bajo setelah meninggalkan pola hidup mengembara merembet ke cara bertahan hidup. Saat masih mengembara mereka hidup dengan menangkap ikan. Kini orang Bajo di pantai timur Teluk Kendari mulai membudidayakan ikan dalam karamba. Ikan diperoleh dari ikan-ikan kecil yang ditangkap dengan bubu.

Perkenalan dengan karamba dimulai saat banyak permintaan ikan hidup dari industri perikanan.

Abdul Saban, staf World Wildlife Fund Indonesia di Kendari yang mendampingi suku Bajo, menyatakan, budidaya ikan mulai berkembang tahun 2005. Karamba diadopsi untuk menyiasati hasil tangkapan ikan yang terus turun akibat kerusakan lingkungan laut.

Hasil ikan karamba juga menjadi sumber pendapatan pada musim angin timur. ”Saat angin timur nelayan Bajo tidak bisa melaut karena gelombang terlalu besar,” kata Saban.

Suku Bajo terus menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Para nelayan muda mengganti bubu dari bambu dengan bubu dari besi yang bisa dipasang di kedalaman 10 meter.

Sebagian anak muda Bajo berupaya mengimbangi laju perubahan sosial melalui Paguyuban Kerukunan Keluarga Bajo Sultra. Mereka ingin generasi Bajo terikat akar budayanya yang arif mengelola laut. Tanpa laut yang lestari, suku Bajo ibarat ikan tanpa air, menggelepar dilindas perubahan zaman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: