Nelayan Samas, Bantul Rintis Karamba Muara

Antara News 2009-06-29/Peristiwa

YogyakartaNelayan asal pantai Samas, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merintis usaha budidaya perikanan laut sistem karamba di muara pantai, untuk mengantisipasi kemungkinan terjadi perubahan cuaca yang mengakibatkan mereka tidak dapat melaut.

Menurut Mugari (34), nelayan pantai Samas yang memprakarsai karamba muara pantai, Minggu menyatakan karamba di muara pantai ini masih dalam taraf uji coba, harapan kami jika berhasil maka dapat menjadi alternatif budidaya ikan laut.

Karamba ini dibuat di `segara anakan` atau muara pantai yang tidak terlalu banyak terkena gelombang pasang agar tidak mudah hanyut.

“Selama ini para nelayan hanya mengandalkan mencari ikan dengan melaut, dan ini sering menghadapi kendala jika gelombang laut sedang tinggi atau cuaca yang mengakibatkan nelayan tidak berani melaut,” katanya.

Dengan budidaya ikan laut melalui karamba ini diharapkan jika kondisi cuaca tidak memungkinkan maka nelayan masih dapat mengelola karamba dan ada alternatif usaha selain dari ikan tangkapan.

“Dengan budidaya sistem karamba ini maka jika hasil tangkapan kurang menggembirakan atau cuaca tidak memungkinkan untuk melaut maka nelayan dapat menangkap atau memanen ikan dari karamba,” jelasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, dirinya bersama dengan rekannya sesama nelayan Tri Jarwanto semula ragu untuk mengembangkan budidaya ikan sistem karamba muara pantai ini karena selama ini muara pantai Samas selalu berubah-ubah bentuknya sesuai dengan besaran air laut Pantai Samas yang melimpah ke muara atau suangan.

“Awalnya kami memang ragu untuk membuat keramba, namun dengan kondisi laut yang tak menentu maka kami nekat untuk mencoba usaha keramba yang belum pernah dilakukan nelayan maupun warga lain di Pantai Samas,” katanya.

Mugari mengatakan, untuk mewujudkan niatnya membangun usaha budidaya ikan sistem keramba, ia bersama dengan Tri Jarwanto memberanikan diri mencoba merakit karamba dari bambu dan gabus.

“Kami berdua membeli sekitar 15 batang bambu untuk membuat keramba dan agar keramba mengapung kami juga mencari gabus yang banyak tersebar di pinggir pantai,” katanya.

Mugari menambahkan setelah selesai dirakit dan keramba sudah mengapung selanjutnya diberi jala yang berfungsi menjaga ikan yang ditabur dalam keramba tidak hilang dan hanya berenang di dalam jaring yang dipasang di keramba.

“Biaya pembuatan karaba ini mencapai sekitar Rp2 juta, dan awalnya keramba akan diisi dengan bibit ikan bandeng yang didatangkan dari Gunungkidul, namun karena saat ini belum tersedia maka diganti dengan jenis ikan nila emas yang relatif tahan penyakit dan harganya tidak terlalu mahal,” jelasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: