Tak Habis Di Panen Tiga Generasi

Media Indonesia 2009-06-26/e-Paper Hal 9 Nusantara

Oleh: Sulistiono

Rumput laut di pesisir pantai selatan, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta
Rumput laut di punggung kuda, sedangkan petani berjalan kaki menuntun kudanya menuju Kota Yogyakarta yang berjarak 62 kilometer. Satu malam perjalanan dihabiskan untuk menjual rumput laut.

Keduanya giat bergulat di jalur berbatu yang becek kala hujan. Prapto Paidi, 48, salah seorang pengepul rumput laut yang sudah bertahan dengan bisnis warisan keluarganya sejak 1983 menguraikan bahwa pesisir timur Gunungkidul EJAK 40 tahun lalu, kuda menjadi alat transportasi andalan untuk mengangkut secara alami punya kekayaan rumput laut yang berlimpah.

Di wilayah Pantai Krakal ataupun Pantai Kukup tidak pernah ada budi daya, toh rumput laut tumbuh subur. Itu sebabnya Paidi tak pernah gagal memenuhi volume pasokan bahkan beberapa tahun terakhir jaringan distribusi rumput lautnya bertambah luas.

Dia mengaku telah mengenal bisnis ini sejak harga rumput laut masih Rp1 per kilogram.

Sekarang warga Dusun Jeruk, Desa Tepus, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul itu mampu menampung 5 ton rumput laut sargassum per hari, 5 ton rumput laut kades (gellidium) per hari, dan 1 ton rumput laut merah (gracillaria) per hari
“Setiap beberapa hari sekali warga pesisir pantai menyetor rumput laut ke saya. Jumlah mereka tidak kurang dari 1.500 orang,” katanya.

Salah satunya Wadini, 50, petani rumput laut yang selalu datang ke pesisir saban sore dengan membawa sabit khusus untuk memanen rumput laut yang tumbuh di karang.

Dalam satu hari dia mampu memperoleh 10 kilogram rumput laut, tetapi tidak setiap hari dia bisa memanen.

Kesempatannya hanya dua minggu dalam sebulan, yaitu sekitar tanggal 15-22 dan tanggal 27-7 menurut hitungan kalender Jawa
Waktu memanen rumput laut yang tumbuh di karang juga terbatas saat air laut surut. Hanya dalam dua jam mereka berusaha mengumpulkan rumput laut sebanyak-banyaknya.

“Sejak remaja saya sudah mencari rumput laut di Pantai Kukup. Hampir semua keluarga saya saat ini menekuni rumput laut untuk mencukupi kebutuhan hidup,” kata perempuan paruh baya itu.

Setiap 1 kilogram rumput laut akan dibeli pengepul seperti Paidi dengan harga Rp3.000 sehingga dalam satu kali panen uang yang dikumpulkan petani bisa mencapai Rp30 ribu hingga Rp50 ribu.

Rumput laut yang terkumpul selanjutnya dibawa ke luar daerah, seperti ke Surabaya, Pekalongan, Bandung, dan Yogyakarta.

Ada kalanya sejumlah buyer mengekspornya ke luar negeri untuk kebutuhan industri kosmetik, farmasi, hingga bahan baku cat tembok. Mengincar industri Penduduk di pesisir pantai memang diberkahi rumput laut yang tak pernah habis dipanen.

Tidak usah menanam, merawat, atau memupuk, setiap tahun hasilnya cukup untuk hidup sederhana.

Seandainya pengepul punya modal besar, usaha rumput laut bisa menghasilkan keuntungan ekonomi yang lebih banyak.

Saat ini di saat permintaan industri cukup besar, tak semua rumput laut hasil jerih payah petani bisa dibeli pengepul. Mereka tidak memiliki uang cukup sehingga perputaran uang di bisnis ini tidak secepat harapan.

“Kalau saja ada yang membantu permodalan, perputaran lebih cepat dan perekonomian di pesisir maju pesat,” ungkap Paidi.

Untuk sementara, keterbatasan modal ini diakali dengan mengolah sebagian rumput laut merah menjadi agar-agar kertas.

“Setiap bulan saya bisa menjual 400 lembar agar-agar kertas. Setiap lembar agar-agar kertas itu saya jual Rp2.000. Nilai rumput laut pun lebih besar,” jelasnya.

Menjadi pengepul sembari berbisnis produk olahan rumput laut seperti agar-agar kertas memang menjanjikan. Dagangan agar-agar kertas sedang berkembang pesat dan selalu laris sebab banyak peminatnya hingga ke pasarpasar di Jawa Barat.

Adapun tahun ini pro- duksi rumput laut di Indonesia ditargetkan bisa mencapai sedikitnya 1,9 juta ton
Selain punya potensi besar, rumput laut juga dijadikan solusi kemiskinan di pesisir.

Untuk itu sejak dua tahun lalu pemerintah menambah lahan pengembangan seluas 25.000 hektare dengan investasi Rp800 miliar.

Ada 18 kebun bibit baru yang dibangun se-Indonesia antara lain di Lampung, Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Maluku, dan Papua.

2 Responses

  1. Selamat pagi Mas Sulistiono, saya sangat tertarik dengan tulisan Mas diatas dan saya ingin diskusi dgn Bp. Prapto Paidi tta rumput laut ini. Apakah Mas punya no. telpnya Bp. Prapto ? Terima kasih.

  2. Mas Sulistiono, saya sangat tertarik dengan tulisan Mas diatas dan saya ingin diskusi dgn Bp. Prapto Paidi, mohon beritahu saya no telp, krn sy butuh rumputlaut segar.terimakasih. balas ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: