Teknologi Tinggi Tidak Mampu Mengatasi Limbah

Kompas 2009-06-25/e-Paper: hal 12

Pertambangan

PT Meares Soputan Ming dan PT Tambang Tondano Nusajaya mengacu penggunaaan teknologi tinggi untuk menangani limbah dari rencana produksi tambang emas kawasan Toka Tindung, Minahasa Utara, Sulawesi Utara.

Namun, mekanismeitudiperkirakan tetap berisiko bencana tinggi dan pencermaran limbah tambang hingga  ke laut karena tidak didukung karakteristik kawasan tambang.

” Penempatan limbah di darat kami mengacu penggunaan teknologi tinggi, sosialisasi rencana sistem pembuangan limbah, dan dan pertimbangan aspirasi masyarakat, kata Direktur Ekskutif PT Tambang Tondano Nusajaya (TNN) Terkelin Purba yang disampaikan kepada Kompas, Rabu (24/6).

Secara terpisah, Koodinator Nasional Jaringan Advokasi Tambang Sitti Maemunah mengungkapkan, seberapa pun tinggi teknologi yang digunakan untuk rencana mengatasi limbah tambang emas PT MSM dan PT TTN itu tidak akan mengatasi dampak limbah karena tidak didukung karakteristik kawasan.

Lingkar tambang itu berbukit-bukit disertai alur sungai menuju pantai berjarak sekitar 4 kilometer.

Cyrahan limbah yang diperkirakan 3.652 ton per hari atau sekitar 8 juta ton dalam masa produksi penambangan-direncanakan berlangsung enam tahun-itu tak akan tertampung.

“Resiko bencana banjir lumpur tetap akan tinggi sekali,” kata Maemunah.

Penyelesaian Amdal

Terkelin memaparkan, Komisi Penilai Analisis mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) Pusat bersama Tim Teknis Penialai AMDAL Pusat dan Provinsi Sulut telah menyelesaikan penilian terhadap dokumen amdal PT MSM.

Pernyataan itu dituangkan ke dalam surat No. B-8382/Dep.I/LH/12/2006 tertanggal 8 Desember 2006.

Menurutnya, Deputi Kementrian Negara Lingkungan Hidup telah mempertimbangkan masukan dari Gubernur Sulut mengenai penempatan limbah darat.

Maemunah menjelaskan, pada awalnya limbah tambang emas PT MSM dan PT TTN itu akan dibuang ke laut.Jika dibuang di darat berisiko bocor karena daerah itu rawan gempa.

Maemunah juga menyinggung rencana penempatan rtailing di darat tidak dukung warga setempat.
Ada rasa trauma akibat banjir lumpur yang pernah terjadi sebelum eksploitasi dijalankan.

Dia menyatakan, banjir lumpur pertama kali terjadi. Hal ini ditenggarai akibat pembukaan lahan operasionalisasi tambang.

Terkelin menyatakan, pihakmnya menghormati perbedaan pendapat, tetapi menharap agar ,mengedenpakan data ilmiah.

“Survei ilmiah sudah dilakukan Lembaga Penelitian Universitas Sam Ratulangi, Manado pada April 2007. Sebanyak 80 persen warga lingkar tambang pendukung keberadaan proyek PT MSM, 9 persen kurang setuju,dan 10 persen tak setuju.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: