Mengebor Air Menuai Lumpur

Kompas 2009-06-25/e-Paper Hal 13 Iptek

Fenomena Alam

20/6), sabtu pukul 04.00 bukan dini hari biasa bagi warga Kampung Astana Bojong dan Astana Agung, Desa Walikukun, Kecamatan Carenang, Kabupaten Serang, Banten. Tidur yang pulas dibangunkan paksa oleh ledakan keras dari sumur bar air di lokasi pembangunan pos kesehartan desa.

Seorang warga Antoinah (30) yang tinggal di sekitar 100 meter dari sumber ledakan menggambarkan kepanikan warga. Ledakan ysng diikuti bau menyengat dan semburan lumpur setinggi 15 meetr itu segera diiikutupengungsian.

Kejadian tersebut, bukan hal pertama, bagi warga. Pasalnya sejak tahun 1980-an telah terjadi empat kali semuran di sana. Hanya semburan akhir pekan lalu diiringi dengan ledakan dan semburan setinggi belasan meter.

Pada tahun 1983, di lokasi berjarak 200 meter dari pos kesehatan desa, warga menggali sumur secara manual demi aiar bersih yang sulit. Pada kedalaman 70 meter, semburan gas muncul. Beton dengan pipa pembuangan gas segera dipasang aman.

Dari daat dari Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Banten tahun 2006, semburan gas metana di Serang di temukan di 14 lokasi.

Namun, belum ada data jumlah, lokasi, dan volume cadangan gas disana. Pemerintah daerah baru akan mendatanya tahun ini.

Semburan gas beserta lumpur di Walikukun berasal dari dua sumur bor. Sumur pertama kedalamannya 104 meter yang ditutup semen telah mengeluarkan gas pekan lalu.

Untuk sumur kedua, yang berjarak 3,5 meter sebelah timur sumur pertama dengan kedalaman 73 meter , ketika istirahat mengebor terjadi ledakan plus semburan gas dan air berlumpur pada dini hari.

Ketinggian semburan 15 meter berangsur-angsur surut hingga 0,5-1 meter. Bau gas menyengat pun berkurang hingga radius sekitar 2 meter.

Geolog yang juga Chairman Exploration Think Tank Indonesia, Andang Bachtiar, menyatakan semburan air berlumpur di Waalikukun di dorong tekanan gas. Ujung bor galian sumur bor menembus batas kantong gas biogenik pada formasi Cisubuh.

Lokasinya di bawah endapan aluvial Sungai Ciujung berkedalaman lebih dari 70 meter. Lapisan terdiri atas pasir, aiar, asin, dan gas biogenik yang berbentuk dari biaragian bersuhu rendah tetapi kaya bahan organoik.

Semburan gas berlumpur, kata Andang merupakan konsukensi logis tekanan besar pasca penutupan lubang sumur pertama. Jenis semen dan jarak sumur kedua yang dekat diperkirakan memicu ledakan dan semburan gas berlumpur.

Dia menyatakan, yang digunakan menutup lubang bukan semen khusus pada penambangan minyak, dan gas. Semen tidak kuat menahan tekanan gas dan air asin yang korosif. Jarak kedua lubang menambah rentan potensi ledakan dan semburan.

Sementara itu, Geolog Badan Pengkajian dan Teknologi (BPPT), Joko Nugroho, memperkirakan, endapan sungai berawa-rawa itu terbentuk pada masa holosen, sekitar 1200 tahun silam. Namun, ia menduga tak menyentuh endapan laut dengan keberadaan pasir silika.

“Masih butuh penelitian lebih lanjut. Saya hanya mengobservasi”< ujarnya.

Berdasarkan hasil survei Badan Geologi Departemen Enewrgi dan Sumber Daya Mineral, semburan gas berlumpur disebabkan sentuhan ujung bor pada lapisan akuifer; lapisan kulit bumi berpori air.

Lapisan itu mengandung gas dan mendorong air ke permukaan setelah pecah terkena ujung bor.

“Daerah itu seperti pantura Serang lainnya yasng mengandung kantong atau blok-blok gas yang terpisah,” kata peniliti Badan Geologi Depatermen ESDM, Rum Budi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: