Wajah Alam "Terkikis" Akibat Tuntutan Kehidupan

Media sultra 2009-06-24/Hal 7 Daerah

Melirik Lokasi Pertambangan Pasir di Batauga

Manusia membutuhkan biaya untuk melanjutkan hidupnya.  Namun terkdang melupakan sisi lain perjuangan tersebut. Salah satunya dengan melakukan aktivitas pertambangan yang merusak tatanan ekosistem di lingkungan.

Andai saja alam bisa berbicara, mungkin akan berteriak histeris jika menyaksinkan aktivitas manusia yang banyak menguras  kekayaan alam tanpa memperhatikan denyut nadi alam mempertahankan keseimbangan.

Salah satu lokasi yang mungkin menjadi contoh diantara banyak lokasi pertambangan di Pulau Buton adalah Kecamatan Batauga. Wilayah ini menjadi supplay pasir untuk kebutuhan bahan bangunan.

Walaupun model penambangan dilakukan secara alami namun kini mulai terasa dampaknya. Ketika kami menyusuri pantai di wilayah Busoa (Kecamatan Batauga), sungguh pemandangan jauh berbeda dengan kondisi 10 tahun lalu.

Ketika itu jarak antara pemukiman penduduk dengan tepi pantai masih cukup jauh. Diperkirakan dalam hitungan kilometer. Saat ini jauh berbeda, hamparan pasir yang dahulu memadati sepanjang garis pantai yang ditumbuhi ratusan pohon kelapa ini kini sirna sudah.

Yang tampak hanyalah kawasan kering tandus dengan hamparan batu cadas bekas abrasi yang kian menjorok ke darat.

Pohon kelapa pun masih tampak, namun bukan lagi dengan lambaian daunnya yang menghijau. Melainkan tinggal kumpulan akar serabut yang berserakan akibat ulah manusia.

Masyrakat khususnya yang bermukim di Busoa kecamatan Batauga kini telah beralih profesi sebagai petani rumput laut.

Berdasarkan pantauan Media Sultra, sepanjang garis pantai tampak kumpulan warga yang sibuk nmengurus rakit dan bibit rumput laut. Lokasi yang dahulu bahkan menjadi tampat. Lalu lalangnya truk pengangkut pasir keluar masuk lokasi pertambangan pasir.

Meski demikian, selama ini aktivitas penambangan pasir masih terus berlanjut. .Lokasinya pun terlah bergeser menuju ke arah selatan.

Kondisi ini patut menjadi cacatan khusus untuk dilakukan pembuktian minimal 10 tahun yang akan datang. Yang pasti, sedikit demi sedikit raut wajah lingkungan berpasir itu akan terkikis dan terkuras.

Di satu sisi manusia mendapat keuntungan dengan memanfaatkan potensi alam, namun disisi lain, alam pun adalah anugerah yang membutuhkan keseimbangan untuk tetap bertahan dalam keseimbangan .

Semoga kondisi ini memberikan pemahaman bagi kita semua untuk tidak sebatas memanfaatkan alam untuk hidup tetapi juga harus berpikir bagaimana hidup dalam tuntutan keseimbangan alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: