Titik Api di Jambi Kian Menyebar

Kompas 2009-06-23/Nusantara

image

JAMBI– Berdasarkan hasil laporan wartawan KOMPAS Irma Tambunan bahwa, titik-titik api akibat pembakaran hutan dan lahan di Jambi kian menyebar pada awal kemarau tahun ini. Kebakaran sebagian besar terjadi pada lahan masyarakat dan hutan produksi yang tidak dijaga.

Senin (22/6) kemarin, Satelit mencatat 24 titik api tersebar di Kabupaten Tebo, Bungo, Merangin, Sarolangun, dan Tanjung Jabung Barat. Sebagian besar merupakan kebakaran yang terjadi di lahan masyarakat atau areal penggunaan lain (APL) sebanyak 16 lokasi, dan sisanya dalam kawasan hutan produksi eks hak pemanfaatan hutan (HPH) yang kini belum ada pengelolanya. Penjagaan terhadap hutan produksi itu kini menjadi tanggung jawab dinas kehutanan.

Didy Wurjanto, Komandan Pasukan Manggala Agni yang juga Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Jambi mengungkapkan masyarakat pendatang membuka lahan untuk ditanami sawit dan karet tidak hanya di kawasan APL. Hutan produksi yang kini nyaris tanpa penjagaan aparat, ikut dirambah pendatang. Mereka membuka lahan dengan cara membakarnya karena berbiaya lebih murah.

Juni ini, Didy memperkirakan sudah lebih dari 300 pelaku perambahan yang beroperasi dengan cara membakar lahan. Dari jumlah tersebut, baru dua pelaku yang telah ditangkap. Kedua pelaku ini ditangkap saat tim Manggala Agni menggelar operasi di kawasan eks HPH IFA Kabupaten Tebo.

“Mereka ditangkap saat tengah membakar lahan,” katanya.

Penangkapan terhadap para pelaku pembakaran lahan, lanjut Didy, tidak mudah dilakukan. Pasalnya, banyak perambah mengaku membakar didasari lahan faktor sulitnya ekonomi keluarga. Mereka tidak sanggup menyewa alat berat untuk proses pembersihan lahan. Banyak pertimbangan untuk menangkap para pelaku.

“Dengan alasan kemanusiaan, kami terkadang tidak jadi menangkap mereka,” tambahnya.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Jambi mencermati, pembersihan lahan dengan membakar marak di sejumlah daerah, sebagai pelaksanaan program peremajaan karet rakyat dan revitalisasi perkebunan sawit.

Terdapat kecenderungan bahwa masyarakat setempat tidak meremajakan kebun karet tua, tetapi membuka lahan baru untuk ditanami bibit karet yang dibagikan pemerintah. Pembersihan lahan oleh masyarakat dipicu praktik jual beli tanah antara pemuka masyarakat setempat dan pihak ketiga. Praktik serupa juga terjadi di kawasan yang dijadikan areal revitalisasi perkebunan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: