Batu Bara, Emas Hitam Baru

Kompas 2009-06-23/ e-Paper:  Opini

Kecelakaan di tambang batu bara bawah tanah di Sawahlunto merupakan penggalan euforia penambangan batu bara yang berlangsung di sejumlah daerah saat ini.

Apabila kita menyusuri aliran Sungai Mahakam dan anak-anak sungainya, aktivitas pengangkutan batu bara dari lahan penampungan tepi sungai ke kapal tongkang akan menjadi pemandangan utama yang mencolok. Di Kecamatan Tanjung, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, aktivitas penambangan batu bara menggantikan eksploitasi minyak yang sampai tahun 1990-an mendominasi wilayah itu.

Dari segi geologi, sumber daya batu bara di Indonesia terbentang mulai Sumatera bagian tengah dan selatan. Di Kalimantan, cekungan batu bara terutama ada di wilayah Kalimantan Selatan dan Timur. Di Jawa, potensi batu bara dalam jumlah kecil ada di pantai utara Jawa Barat. Di Sulawesi, cadangan ada di Sulawesi Selatan.

Batu bara menjadi komoditas tambang paling diburu dalam lima tahun terakhir. Sebagai bahan bakar fosil alternatif yang lebih murah daripada minyak dan gas, membuat pemakaiannya meningkat cepat. Batu bara terutama digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik.

Melihat potensinya yang besar, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral memproyeksikan batu bara sebagai sumber penerimaan negara setelah produksi minyak tidak lagi signifikan.

Di Indonesia, perluasan pemakaian batu bara baru terdengar gemanya setelah dampak kenaikan harga minyak tahun 2005. Pemerintah menyatakan diversifikasi energi harus dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada minyak karena Indonesia masih memiliki berbagai potensi bahan bakar lain yang bisa dikembangkan. Pemerintah antara lain mencanangkan penggunaan batu bara kalori rendah berbentuk briket untuk rumah tangga. Sayangnya, program itu mati suri, terhenti sebelum implementasi.

Cetak biru Pengelolaan Energi Nasional menetapkan bahwa kontribusi batu bara dalam bauran energi nasional akan naik dari rata-rata 19 persen tahun 2008 menjadi 35 persen pada 2025. Tahun 2025, pemerintah memproyeksikan produksi batu bara Indonesia mencapai 405 juta ton.

Karena sumber dayanya yang sangat besar, batu bara digadang-gadang menjadi energi andalan untuk menggantikan minyak sebagai sumber penerimaan negara. Akan tetapi, dari segi jumlah, sumbangan sektor pertambangan kepada penerimaan negara hanya sekitar 5 persen.

Tahun 2008, dari keseluruhan penerimaan negara yang mencapai Rp 965 triliun, sektor pertambangan hanya menghasilkan sekitar Rp 42 triliun. Bandingkan dengan sumbangan sektor migas terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2008 sebesar Rp 304 triliun.

Cadangan batu bara Indonesia menunjukkan tren kenaikan dari tahun ke tahun. Kenaikan permintaan batu bara di pasar dunia mendorong perusahaan batu bara meningkatkan eksplorasi dan eksploitasi mereka. Tahun 2006, cadangan batu bara tercatat hanya 65.400 ton. Hanya dalam dua tahun jumlah cadangan naik hampir dua kali lipat menjadi 104.760 juta ton.

Berbanding lurus

Kenaikan cadangan itu berbanding lurus dengan kenaikan produksi. Tahun 2007 produksi batu bara Indonesia 217 juta ton. Tahun 2008, produksi naik signifikan sampai 229 juta ton. Mengacu pada realisasi produksi tahun lalu, pemerintah menetapkan target produksi batu bara 2009 sebesar 230 juta ton. Namun, melihat kondisi permintaan batu bara di pasar dunia yang menyurut akibat krisis ekonomi global, target itu diturunkan menjadi 220 juta ton. Target itu kemungkinan tidak tercapai jika melihat realisasi produksi batu bara kuartal I-2009 yang hanya 30 juta ton.

Pasar internasional masih menjadi target utama produsen batu bara. Indonesia merupakan eksportir batu bara terbanyak kedua setelah Australia. Tahun lalu, sekitar 70 persen batu bara Indonesia dikirim ke luar negeri dengan tujuan utama China, India, Eropa, dan Amerika Serikat.

Peluang Indonesia untuk meningkatkan ekspor batu bara ke wilayah Asia Pasifik, terutama India dan China, terbuka lebar dalam lima tahun ke depan karena India diprediksi akan meningkatkan impornya, sementara China terus mengurangi ekspor batu bara untuk menjaga tingkat eksploitasi dan cadangan.

Sebagaimana bahan bakar fosil lainnya, harga batu bara sangat bergantung pada harga minyak. Tahun 2007 menjadi tahun panen keuntungan bagi perusahaan pertambangan batu bara karena harga batu bara naik hampir 125 persen.

Konsistensi

Antusiasme penambangan batu bara diperkirakan terus meningkat seiring dengan kebijakan pemerintah untuk menggunakan batu bara kalori rendah dalam proyek percepatan pembangunan pembangkit listrik. Proyek tersebut akan meningkatkan pemakaian batu bara secara signifikan dari rata-rata 30 juta ton saat ini menjadi 56 juta ton pada tahun 2010.

Pemilihan batu bara kalori rendah dimaksudkan agar pembangkit di dalam negeri tidak perlu berkompetisi dengan batu bara kalori tinggi untuk ekspor. Meskipun sekitar 85 persen cadangan batu bara Indonesia kalori rendah, teknologi peningkatan kalori (upgrading brown coal) bisa digunakan untuk menambah potensi batu bara kalori tinggi.

Meskipun di atas kertas potensi batu bara sangat besar, diperlukan kebijakan yang tepat untuk menjadikannya emas hitam baru. Ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan. Hal paling mendasar adalah konsistensi kebijakan. Inkonsistensi kebijakan tidak hanya merugikan pelaku usaha yang berminat mengembangkan batu bara, bahkan berpotensi mematikan minat pengembangan. Mengingat potensinya yang besar, pemerintah seyogianya membuat rencana strategis jangka panjang agar batu bara bisa didiversifikasi sebagai bahan bakar sintetis.

Selain untuk pembangkit, batu bara juga berpotensi menghasilkan bahan bakar minyak dan gas sintetis melalui teknologi pencairan (coal to liquid) dan gasifikasi (coal to gas) batu bara.

Dari segi aturan yang paling mendasar, pengelolaan pertambangan dalam setahun ini sedang dalam masa peralihan dengan ditetapkannya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara (Minerba) yang menggantikan UU No 11/1967 tentang Pertambangan Umum.

UU Minerba akan memperluas kewenangan pemerintah daerah dalam mengelola pertambangan. Dibutuhkan kemampuan institusi dan sumber daya manusia yang memadai untuk bisa menjalankan fungsi sebagai regulator dan pengawas. Sejak otonomi daerah dilaksanakan, ada sekitar 1.000 izin kuasa pertambangan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah. Sebagian besar tidak terkontrol aktivitasnya.

Rendahnya tingkat investasi pertambangan karena inkonsistensi peraturan perundang-undangan dalam kegiatan pertambangan, terutama dengan aspek pengelolaan sektor kehutanan, tata ruang, lingkungan hidup. Masih ada kelemahan peraturan perundangan yang mendukung jaminan proteksi fungsi lingkungan.

Sangat disayangkan, euforia eksploitasi batu bara membuat pemilik dan penambang mengabaikan prosedur keamanan penambangan. Kecelakaan yang terjadi di tambang batu bara dalam di Kabupaten Sawahlunto menunjukkan aktivitas penambangan rakyat masih jauh dari semangat UU Minerba yang mengarahkan pengelolaan pertambangan dilakukan secara berkelanjutan dan minim risiko terhadap lingkungan.

Masalah lain adalah indikasi adanya penerimaan negara yang tak tercatat dari produksi batu bara. Departemen ESDM mengakui produksi batu bara rawan tak tercatat karena banyak kuasa pertambangan di daerah yang tidak melapor. Pengiriman melalui dermaga pribadi menyulitkan pencatatan.

Untuk mengatasi semua masalah itu, pemerintah perlu mempercepat peraturan pelaksanaan UU Minerba. Saat ini ada empat peraturan pemerintah yang sedang disiapkan, yaitu kewajiban memasok pasar domestik (domestic market obligation/DMO) untuk keamanan pasokan batu bara di dalam negeri, kebijakan harga batu bara yang mengacu pada Indonesian Coal Price Reference untuk mengoptimalkan penerimaan negara, aturan pengawasan, dan reklamasi pasca-aktivitas tambang.

Kali ini, jika pemerintah mengambil langkah tepat, batu bara Indonesia betul-betul bisa menjadi produk unggulan energi baru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: