Pengetahuan Melalui Penyelamatan Bumi

Kompas 2009-06-22/Hal Opini

Oleh Bambang Hidayat

Pemimpin bangsa di masa depan tetap akan terbebani dengan muatan abadi dengan berbagai perubahan cuaca, pola penggunaan energi, dan kependudukan.

Adanya kegundahan dalam ilmu pengetahuan di Indonesia disebabkan dorongan pendadakan yang disebabkan desakan memahami “Protokol Kyoto” agar mengerem laju pemanasan global. Pentingnya penghayatan Protokol Kyoto itu tergambar dalam pertemuan di Bali di tahun 2007. Dalam pertemuan tersebut terkumpul niat membuat agenda kerja untuk memperbaiki bumi. Yang mengacu pada kenyamanan, dan kelangsungan hidup generasi mendatang.

Usaha ini termasuk memerangi global warning tidak melalui senjata akan tetapi melalui ilmu pengetahuan. Dalam konteks geopolitik, masih teringat dengan kejadian dimana Presiden AS, tidak meratifikasi Protokol Kyoto, tetapi ilmu pengetahuan AS ingin mengusungnya.

Dengan kehadiran Presiden Obama, setidaknya telah membawa perubahan. Ia telah menyusun agenda kerja untuk memecahkan masalah global termasuk, pemanasan global. Mei 2009, American Physycal Society, dalam edititorialnya mengulas “I’ts a new day science”. Dikatakan keterkaitan pemanasan global dengan banyak aspek kehidupan manusia membuat Presiden Obama berpikir “…. The linkages are apprent but the solutions are not”.  Dia mengemukakan yang intinya ilmu pengetahuan sangat berperan penting.

Sebagai suatu disiplin ilmu, sains ikut bertanggung jawab atas aneka masalah seperti ubahan engeri, cuaca, kesehatan, dan pangan, bahkan “Stable in financial services”  itulah yang diharapkan pemimpin masa depan.

Agenda Pembangunan

Keyakinan bahwa ekonomi, kesehatan, aneka ragam hayati-terutama di hutan tropika dan alam sendiri merupakan satuan yang berperan bagi kesejahteraan bangsa, maka penyeleseain satu sektor diharapkan mengait, dengan membawa ikutan untuk kegiatan ini.

Bagi kita, kuncinya hanya bagaimana harus menangani masa depan tanpa menghambat pembangunan. Setiap kita melihat tumbuh kembang melihat mega proyek (waduk, dam perumahan, dan lainnya) kita melihat lahapnya denga lahan subur, bahkan hutan lindung.

Pada tahun 2004, Marget Palmer dkk, menguguhkan tulisan menarik, Ecology for a Crowded Planet. Dia mengkhwatirkan pemusnahan spesies secara defensial. Tampak sepele, tapi sebagaian kandungan serba hidup bisa berakibat perusakan  komunitas dan keterkaitan jenis kehidupan antara jenis dengan yang lain akibat kerusakan lingkungan.

Ada rasa dosa apabila tidak menyebut sumbangan dari Prof Murdiyarso yang bersama Herawati menerbitkasn Carbon Forestry (2005), yang membekali kita tentang perlindungan hutan tropis. Hutan tropika adalah laboratorium, sekaligus meseum perjuangan Darwinian aneka jenis kehidupan. Indonesia beruntung menerima warisan tadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: