Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu:

Kompas 2009-06-22/e-Paper:  hal 21

Komitmen dan Inovasi Tanpa Henti Industri Kehutanan Melestarikan Lingkungannya

Sebagai salah satu negara pemilik hutan tropis terluas di dunia, Indonesia dihadapkan pada dua hal penting. Pertama, bagaimana potensi yang sangat besar dalam pengembangan industri kehutanan dapat dioptimalisasikan hingga mampu menjadi motor pengerak perekonomian serta kesejahteraan bangsa.

Sementara kedua,adalah bagaimana keanekaragaman hayati begitu kaya pada setiap jengkal hutan yang ada dapat terus terlestarikan. Bukan perkara mudah untuk menciptakan sinergi dan harmoni anatar sisi industri dengan pelestarian lingkungan.

Namun kita juga selalu ingat jika harmoni antara manusia dengan beragam kebutuhannya serta lingkungan sekitar mereka, pada dasarnya telah menjadi bagian keseharian yang telah ada sejak dulu.

Beberapa pendekatan diwariskan dari generasi ke generasi seperti yang lasim dilakukan komunitas hutan demi kelangsungan hidup mereka, sementara beberapa yang lain sengaja dikembangkan untuk melengkapi serta mendukung pendekatan yang telah ada sebelumnya, contohnya saat industri kehutanan melakukan pengelolaan hutan secara lestari.

Sinar mas sebagai sebuah industri bisnis memahami jika harmonisasi tadi-meski tidak mudah-harus dilakukan.Di bumi Riau,melalui sinar Mas Forestry (SMF)-yang selama ini bertugas sebagai pemasok bahan baku utama Asia Pulp & Paper (APP)- sejak lama telah dimatangkan usulan pembangunan sebuah cagar biosfer (biosphere reserve).

Alasannya,sebagaikonsep pengelolaan lansekap(bentang alam), keberadan sebuah cagar biosfer akan sebuah wahana menjalankan berbagai peran, baik fungsi konservasi, kemudian fungsi pembangunan guna memacu perbaikan ekonomi dan sosial masyarakat setempat secara berkelanjutan dan terakhir fungsi pendukung logistik yang dibutuhan dalam pengembangan berbagai proyek percontohan, pendidikan dan latihan, berikut penelitian dibidang konservasi.

Manakala ketiga fungsi tersebut berjalan dengan selaras, maka diyakini akan mampu membangun dan memilihara harmoni antara manusia dan lingkungan.

Beragam upaya ditempuh dan diinisiasi.Termasuk bersinergi dengan para pemangku kepentingan terkait, mulai dari lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Departemen Kehutanan, pemerintah provinsi dan kabupaten serta kalangan akademik seperti universitas Riau hingga universitas Kyoto, Jepang.

Kesemuanya guna mendapatkan landasan kerjasama penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi serta aspek sosial ekonomi masyarakat. Konsep Man and the Biosphere (MAB) UNESCO dijadikan pedoman pengambangan cagarbiosfer.

Alasannya, meskipun saat ini areal unik dan indah yang berada diantara wilayah kabupaten Bengkalis dan kabupaten Siak itu masih terpencil dan tidak terjamah.

Namun perambahan kawasan hutan,penebangan serta perburuan liar dan kebakaran hutan selalu menjadi ancaman nyata bagi kawasan tersebut.Disinilah dibutuhkan adanya menajemen pengelolaan kawasan secara kolaboratif dan terintigrasi, sehingga pelestarian sumber daya alam hayati serta keseimbangan ekosistem mampu ikut mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Bagi industri kehutanan seperti kami, keberlanjutan usaha dapat terbangun melalui sinergi apsek produksi yang ramah lingkungan serta pelestarian lingkungan itu sendiri. Untuk dapat terus berproduksi kami harus senantiasa melakukan penanaman berikut memelihara lansekap ekosisstem sekitar sesuai konsep pengelolaan hutan tanaman secara lestari.

Itu yang mendorong kami mengajukan usulan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil- Bukit Batu kepada pemerintah,” kata penasihat Manejemen Lingkungan SMF Caanecio P.Munoz.

Cagar Biosfer Giam Siak Kecil- Bukit Batu (GSK-BB) berawal ketika pada tahun 2004, SMF bersama mitar kerjanya dengan dukungan APP menyisihkan areal hutan produksi seluas 72.255 hektar- lebih luas dari wilayah DKI Jakarta- sebagai Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil seluas 84.967 hektar dan Suaka Margasatwa Bukit Batu seluas 21.500 hektar yang merupakan bagian dari eco-region hutan Sumatera dapat tergabung menjadi sebuah kawasan konservasi dengan aeral inti cagar biosfer seluas 178.722 hektar.

Kedua kawasan suaka margasatwa tadi, sebelumnya telah terindentifikasi oleh LIPI sebagai sebuah areal di diami ratusan jenis flora dan fauna yang langka dan dilindungi. Sebagian besar, dari zona penyangga seluas 222.425 hektar sekitar cagar biosfer terdiri atas hutan tanaman yang menjadi kunci efektivitas perlindungan area inti, karena selalu mendapatkan pengelolan dan pengawasan yang baik.

Pada bulan September 2008, usulan cagar biosfer berikut rencana pengelolaannya, diajukan ke UNESCO Paris melaui Komite Nasional Program Man and the Biosphere Indonesia.

Kemudian pada tanggal 18 Oktober 2008 lalu, Menteri Kehutanan beserta jajarannya berkesempatan hadir guna melihat kesiapan di lapangan pasca pengajuaan usulan ketika itu.

sementara gelaragn UN Climate Change Conference di Bali tahun 2007 silam menjadi kali pertama usulan itu diperkenalakn kepada nmasyarakat internasional.

Keberadaan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil- Bukit Batu sebagai satu dari 533 cagar biofer yang tersebar di 124 negara anggota UNESCO’s Wold Network of Biophere Reserves (WNBR) menjadi begitu penting dan berharga bagi Indonesia, mengingat dengan luas wilayah berikut keunikan dan keanekaragaman hayati yang dimiliki, Indonesia telah menanti sepanjang 27 tahun untuk memiliki lagi sebuah cagar biosfer melengkapi enam cagar yang telah ada sebelumnya.

“Usulan pembangunan cagar biosfer yang diajukan Sinar Mas ini adalh pertama kalinya di dunia datang dari sektor industri. Kami berharap kepedulian ini dapat terus berjalan dengan konsisten sekaligus menjadi contoh dan awal yang baik bagi kalangan industri untuk selalu peduli pada pelestarian keanekaragaman hayati, ” ungkap Prof. Dr. Endang Sukara, Ketua Komite Nasional Program Man and the Biosphere Indonesia.

Lingkunagn yang lestari adalah kepentingan seluruh pihak, termasuk pula sektor industri. Pengesahan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil- Bukit Batu (GSK-BB), dalam 21st Session of International Coordinating Council of Man and the Biosphere Programme UNESCO, pada 26 Mei lalu di Pulau Jeju, Korea bukanlah sebuah puncak dan akhir, melainkan sebuah awal dari begitu banyak hal yang harus dilakukan seputar pelestarian keanekaragaman hayati.

Namun, kehadirannya menunjukkan apreasisasi, determinai dan inovasi Sinar Mas dalam melstarikan lingkungan, yang kita harapkan dapat menjadi warisan bagi peradaban Indonesia serta dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: