Cagar Biosfer Riau Dirambah

Kompas 2009-06-20/Konservasi

image

 Berdasarkan hasil laporan dari wartawan KOMPAS Sahnan Rangkuti bahwa hutan gambut Giam Siak Kecil dan Bukit Batu, Provinsi Riau, yang baru ditetapkan UNESCO sebagai cagar biosfer dunia (Kompas,18/6) sudah dirambah secara besar-besaran.

Azmi Rosali, anggota Partai Keadilan Sejahtera Kabupaten Bengkalis, menyampaikan kepada Kompas, Jumat (19/6) bahwa belum ada data luas total perambahan, tetapi diperkirakan kegiatan ilegal itu sudah mencapai ribuan hektar yang berlokasi di tujuh desa di dalam kawasan hutan tersebut.

”Kemarin saya baru kembali dari lokasi dan saya melihat lahan hutan cagar biosfer itu diperjualbelikan dengan seenaknya oleh kepala desa,” ujar Azmi.

Menurut Azmi, perambahan telah terjadi di Desa Bandar Jaya, Muara Dua, Sadar Jaya, Tanjung Leban, Bukit Kerikil, Langkat, dan Desa Lubuk Gaung. ”Di Desa Bandar Jaya, kepala desanya menjual lahan tanpa kontrol. Kami memperkirakan, sudah ribuan hektar hutan yang beralih fungsi dan digarap. Bahkan, sudah ada sebuah perusahaan kelapa sawit berdiri di situ”, ungkapnya.

Sekarang ini, di Desa Langkat dan Desa Lubuk Gaung bahkan sudah muncul bibit konflik antara penduduk asli dan pendatang perambah. Di dua desa ini, petinggi desa membuat peta sendiri dan mengavling hutan seenaknya. Lahan kavlingan seluas 2 hektar itu kemudian dijual Rp 15 juta.

Kawasan hutan gambut Giam Siak Kecil dan Bukit Batu seluas 106.467 hektar yang ditetapkan sebagai cagar biosfer terletak di Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Siak, Riau. Sebagian besar dari areal itu, yakni 72.255 hektar, merupakan eks hutan produksi PT Sinar Mas Forestry (perusahaan HTI yang memasok kebutuhan kayu pabrik pulp dan kertas PT Indah Kiat) yang dialokasikan untuk hutan konservasi permanen.

Membenarkan

Secara terpisah saat dihubungi, Nurul Huda dari Humas PT Arara Abadi/PT Indah Kiat membenarkan adanya kegiatan perambahan di lokasi cagar biosfer Giam Siak Kecil dan Bukit Batu. Hanya saja, perambahan itu berlangsung di luar konsesi 72.255 eks PT Sinar Mas Forestry.

Akhir September 2008, Kompas melihat langsung dari helikopter perambahan di Desa Bukit Kerikil, Kecamatan Bukitbatu, Bengkalis. Perambahan dilakukan oleh sebuah perusahaan pembuat tangkai sapu untuk tujuan ekspor ke Malaysia. Setelah diberitakan, perambahan itu langsung ditindaklanjuti oleh Kapolda Riau (waktu itu) Brigjen Hadiatmoko.

Azmi menambahkan, bila ingin menyelamatkan cagar biosfer dari kerusakan yang lebih parah, pemerintah harus segera mengambil sikap untuk menertibkan warga perambah.

Semestinya, Pemkab Bengkalis dan Siak segera mengambil tindakan kepada camat dan kepala desa setempat yang seenaknya mengeluarkan surat keterangan ganti rugi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: