Setelah Tambang, Giliran Migas

Kendari Pos 2009-06-19/Hal 2 Opini

Sulawesi Tenggara kaya akan potensi sumber daya alam. Tidak hanya tambang aspal di Kabupaten Buton, tambang nikel di Pomalaa, dan tambang kini telah ditemukan di Kabupaten Bombana, kini telah ditemukan lagi potensi minyak dan gas Utara (blok Menui-Asera), Kolaka, dan Kolaka Utara (blok Kolaka-Lasusua), Bombana (blok Kabaena) dan Kabupaten Buton (blok Buton III).

Pemerintah Sulawesi Tenggara telah melakukan tender bersama dengan 20 wilayah kerja lainnya di Indonesia. Jika seluruh blok migas ini laku dan diminati oleh investor nasional maupun asing maka tidak mungkin Sultra akan kebanjiran investor. Dan ini memberikan manfaat besar bagi masyarakat Sultra dalam penyediaan lapangan kerja.

Sejak beberapa tahun silam, kabar tentang cadangan minyak dan gas di Sultra sudah lama terdengar. Dimana sebuah perusahaan minyak asing telah melakukan eksplorasi di wilayah Kabuapten Muna, namun kabar tersebut tenggelam. Selain ada upaya dari pemerintah pusat untuk membangun kilang minyak di Kabupaten Buton, dimana Buton termasuk salah satu dari tiga wilayah yang direkomendasikan instansi terkait untuk melakukan pengeboran minyak, tapi hasilnya belum diperoleh sampai sekarang. Sekarang ini, bukan hanya Buton, tapi juga ada beberapa wilayah sudah mulai di “jual” resmi kepada investor.

Yang menjadi pertanyaan kita selanjutnya, apakah dengan penemuan migas ini, akan berdampak dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat Sultra, atau malah sebaliknya. Belajar dari pengalaman tambang aspal, nikel, dan emas di Bombana, selama ini, belum memberikan kontribusi yang nyata bagi pembangunan di daerah. Hal ini terlihat jelas dengan tingginya angka kemiskinan dan penggangguran yang terjadi setiap tahun terus bertambah. Sehingga, jika dicermati maka ada yang salah dalam hal pengelolaan Sumber Daya Alam kita selama ini. Kesalahan ini bisa disebabkan sistem pengelolaan, pola kerja sama, dan pembagian hasil, bahkan karena pemerintah daerah sama sekali tidak memiliki kewenangan penuh terhadap seluruh potensi Sumber Daya Alam yang kita miliki.

Dengan sistem otonomi daerah, maka setiap kabupaten diberi kewenangan penuh untuk mengelola sendiri seluruh potensi Sumber Daya Alam yang dimilikinya. Tinggal apakah pemerintah daerah tersebut mampu atau tidak. Jika tidak mampu maka kita jangan berharap banyak untuk merubah kesejahteraan rakyat, dan daerah ini akan maju. untuk itu, semua pihak harus menyadari betapa potensi SDA tersebut dijadikan alat untuk mencapai kesejahteraan rakyatnya. Jangan ada lagi sistem kerja sendiri-sendiri, apalagi mengatasnamakan kelompok atau kepentingan sendiri. Kesadaran ini harus dibangun sejak dini tanpa melihat status dan golongan seseorang.  Karena masyarakat Sultralah yang bisa merubah masyarakatnya sendiri. Jangan bergantung kepada orang lain.

Advertisements

2 Responses

  1. Ada beberapa informasi yg kurang tepat dari isi tulisan di atas.
    Berikut beberapa hal yg coba sy koreksi (tabe di’, bos-ku…?).

    Paragraf 2:
    Penawaran (tender) blok2 minyak & gas yg disebutkan di Paragraf 1 bukan dilakukan oleh Pemerintah Sulawesi Tenggara.
    Yg melakukan tender migas adalah Dirjen Migas.
    Daerah, dalam hal ini Pemda tingkat 1 ataupun 2, kemungkinan besar malah tidak tahu apa2 akan bagaimana potensi minyak & gas di Sulawesi Tenggara.
    Selain itu, kewenangan penguasaan ataupun persetujuan kerja sama investasi dalam hal eksplorasi / eksploitasi minyak & gas adalah di presiden RI, bukan di gubernur / bupati / walikota.

    Paragraf 4:
    Explorasi migas di Sulawesi Tenggara selama 40 tahun terakhir (sejak tahun 1969) masih dikonsentrasikan di Pulau Buton.
    Sampai hari ini, dari total 4 sumur eksplorasi yg pernah di bor, belum ada satu pun penemuan yg ekonomis.
    Tahun 2010 mendatang direncanakan (nda tau jadi atau malah kembali dimundurkan lagi..???) akan dilakukan pengeboran 1 sumur eksplorasi oleh Japex Buton Ltd. (JBL) di Buton Block.

    Oya, sampai saat ini sudah ada 2 operator yg mengeksplorasi potensi migas di Sulawesi Tenggara, yakni JBL (Buton Block) & PT Putindo Bintech (Buton 1 block).

    Sebagai informasi, PT Putindo Bintech merupakan “anak” usaha dari Grup Kapal Api; dimana bersama2 dgn “anak” usaha lainnya di grup tsb, yakni PT Buton Asphalt Indonesia (PT BAI) serta PT Karya Megah Buton (PT KMB), ketiganya “menguasai” di hampir seluruh kegiatan eksplorasi & eksploitasi aspal di Pulau Buton.

    Salam,

    Lahardi / Rahmad
    http://profiles.friendster.com/40190765
    http://www.facebook.com/Lahardirahmadbumi

  2. Terimakasih banyak, informasi ini sangat membantu, salam dari tim kami di Kendari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: