Kerusakan Hutan Bombana "Warisan" Penambang Ilegal

Kendari Pos 2008-0619/Hal 5 Bumi Anoa

Pasca penertiban tahap ke II, mulai nampak terlihat jelas kerusakan lahan yang ditimbulkan oleh penambang liar. Di Desa Tahi Ite, Wumbubangka, SP 8 dan SP 9 merupakan sebagian kecil  yang terkena dampak kerusakan lingkungan akibat penambangan yang dilakukan secara tradisional. Di tiga desa tersebut dapat ditemui lubang tikus, dan berbagai kubangan besar yang tersebar di sejumlah titik pada kawasan tambang emas.

Kerusakan lingkungan di Bombana tidak lain merupakan warisan dari penambang illegal yang tidak bertanggung jawab. Setelah melakukan aktivitas mendulang mereka meninggalkan begitu saja lahan tersebut. Yang menjadi pertanyaan kita semua, siapakah yang bertanggung jawab atas normalisasi kerusakan lingkungan tersebut?.

Mengutip pernyataan dari Asisten I Setkab  Bombana, Slamet Rigay bahwa semua investor yang telah mendapat izin KP dihimbau untuk mengawasi lahan masing-masing. Sementara itu, Lukman Aziz, Cooperate Secretary PT Panca Logam menjelaskan bahwa perusahaannya telah berkomitmen untuk kembali menata zona tambang emas yang rusak. Tak bisa dipungkiri pula memungkiri sulitnya menata lahan tambang jika aktivitas penambangan illegal tetap dibiarkan. Jika dihitung ada ribuan penambang illegal ada di daerah akan direklamasi. Jadi tidak bisa dilakukan penataan apabila penambang illegal masih ada di zona tambang emas.

Lukman Aziz mengungkapkan, keprihatinannya dengan kerusakan hutan di kawasan tambang yang semakin parah. Pihaknya juga mengungkapkan selama ini penambang illegal menambang di kawasan hutan produksi padahal perusahaan investor saja tidak berani melakukan operasi sebelum ada izin dari Menteri Kehutanan. Yang kena imbasnya tingall investor untuk menatanya. Untuk itu, pihaknya berharap agar dukungan dan kerjasama semua pihak untuk menjaga situasi kondusif pasca penertiban kedua serta mencegah masuknya pendulang illegal untuk kembali penambang. Dengan demikian, para investor bisa segera menata kembali kawasan lahan tambang, dan masyarakat bisa merasakan manfaat kehadiran investor melalui pembukaan lapangan kerja.

Para NGO lingkungan seperti WWF, WALHI, dan Greenpeace, diharapkan utnuk mendukung penyelamatan lingkungan, dan hutan di Indonesia, terutama di daerah Sulawesi.

Terkait dengan himbauan Gubernur Sultra, untuk segera menghentikan aktivitas penambangan  perusahannya, bisa ditinjau kembali karena ini menyangkut ratusan orang tenaga kerja lokal akan menganggur apabila aktivitas pertambangannya dihentikan. Tetapi pihaknya tetap menghormati keputusan Gubernur Sultra tersebut.

Saat mendapat pertanyaan dari wartawan, tentang alasan penghentian penambangan diakibatkan karena adanya sengketa kepemilihan lahan. Lukman Aziz menjawab, hal tersebut tidak benar. Sebab manajemen telah menjamin kerjasama dengan peruasahaan dengan pemilik lahan yang sah. Selama ini pihaknya hanya akan bekerjasama dengan pemilik lahan yang diakui negara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: