Pengosongan Tambang Emas Bombana

Media Sultra 2009-06-18/Hal 5 Lingkungan

Kami Diusir Seperti “Kerbau”

Muhammad Idris (36) tak habis pikir, kios tenda biru miliknya yang baru saja dua hari dibangun tiba-tiba disuruh membongkar kembali petugas penertiban gabungan satpol PP Bombana, dan Brimobda Sultra. Ia diminta membongkar koisnya segera sebelum tanggal 6 Juni, batas akhir pengosongan lokasi tambang emas Bombana.

Laporan: Rustam

Barang-barang dagangan itu kini telah dikemas dan siap untuk dipulangkan. Idris setidaknya membutuhkan tujuh unit mobil open cup untuk mengangkut barang dan dagangannya ke kampungnya di Dusun Puunangga, Desa Lalembu, Kecamatan Tanggea, Konawe Selatan. Untuk satu kali angkut, ia harus membayarnya 500 ribu rupiah, itu artinya ia harus menyiapkan 3,5 juta rupiah hanya untuk biaya angkut barang dagangannya.

Idris menyewa dua petak lahan di dusun Tika, Desa Wumbubangka, Kecamatan Rarowatu Utara, kepada salh seorang warga yang mengaku tanah miliknya. Satu petakl ia sewa seharga 250 ribu rupiah, dengan harapan bisa memperoleh keuntungan yang banyak. Sebelum dibongkar, jualannya terbilang ramai dan laris. Untuk memulai usaha ini, ia menghabiskan modalnya 20 juta rupiah yang hingga saat ini belum kembali.

Idris masuk ke lokasi pertambangan emas sejak 2008 sebagai pekerja tambang. Namun, pekerjaan ini tak lama digulitinya, ia tak tahan berjabaku dengan lumpur. Ia pun beralih sebagai pembeli emas, membuat ia tak mampu  bersaing dengan pembeli emas yang punya modal besar dan untung besar. Ia pun memutuskan untuk berjualan saja. Untuk setiap pergantian usaha, Idris harus kembali mengurus kartu sesuai dengan peruntukannya. Setiap kartu, ia membelinya dengan harga 750 ribu rupiah, dari salah seorang petugas keamanan.

Namun nasib baik belum berpihak pada Idris. Ia harus bergegas keluar meninggalkan lokasi tempatnya berjualannya sebelum diusir petugas. “Kami diperlakukan seperti kerbau. Awalnya disuruh masuk lalu diusir keluar tanpa belas kasihan”, katanya, dengan wajah kesal.

Pak Idris adalah salah satu dari ratusan pedagang kecil yang tergusur dari kebijakan pemerintah. Banyak pedagang lain yang lebih awal angkat kaki karena takut digebukin petugas. Beberapa kios tenda semi permanen yang dibangun dari rangkaian bambu dibakar petugas, tapi ada juga yang dibakar sendiri pemiliknya karena kesal. Disepanjang lokasi penambangan, deretan gubuk berkerangka bambu tanpa tenda masih terlihat kokoh.

Bertahan

Akan tetapi, beberapa diantara pendulang memilih tetap bertahan “Saya mau tetap bertahan”. Saya mau tetap bertahan di sini. Saya kecewa karena rumah saya dibakar”, ungkapnya. Kami memang dilarang, tetapi jangan main bongkar rumah begitu, kata Sutoyo (50), Kepala Hansip SP-9.

Dilokasi tambang SP-8 di tepi sungai Langkowala sekitar 100 orang yang mengaku ahli waris tanah adat Bolo Aho juga masih bertahan di sini. Mereka akan terus bertahan hingga adanya kepastian atas tanah ulayat mereka. “Tanah ini milik kami, jadi tidak mungkin kami akan tinggalkan,” kata sejumlah ahli waris itu dengan suara spontan.

Selain pewaris tanah, sejumlah warga yang datang dari beberapa tempat di Bombana juga masih asyik mendulang mencari serpihan emas. Mereka tak peduli dengan himbau pemerintah Bombana yang mengusirnya keluar dari lokasi penambangan. “Kami di usir keluar, tapi bagaimana dengan perusahaaan (pemegang izin KP) masih tetap diizinkan beroperasi. Ini kan tidak adil. Kenapa pemerintah lebih mementingkan perusahaan daripada masyarakatnya,” kata Agus, (40), pendulang asal SP-2.

Kebijakan yang Salah

Tapi semua sudah terlanjur. Kebijakan pemerintah Bombana yang memberikan izin penambangan kepada rakyat berbuah petaka. Kerusakan lingkungan, konflik horizontal dan inflasi, kini harus ditanggung dan dipikul bersama masyarakat Bombana.

Meski tanpa melalui kajian, verifikasi, dan identifikasi kepemilikan lahan warga, pemerintah setempat melegalkan bahkan memberikan izin kartu pendulangan kepada setiap warga yang datang. Padahal pemerintah sendiri belum membuat regulasi yang jelas soal pertambangan rakyat.

“Kebijakan pemerintah Bombana yang memberikan izin pertambangan rakyat adalah illegal. Apalagi belum ada wilayah konsesi tambang rakyat yang ditetapkan oleh pemerinath Bombana. Ini seharusnya tidak dilakukan oleh merak”, kata Burhanuddin, Ketua Perhimpunan Usaha Pertambangan Indonesia (PERHAPI).

Kini Pemda Bombana mengusir warga dan mengosongkan lokasi pertambangan disaat banyak masalah yang timbul. Sementara sejumlah perusahaan pemegang izin KP tetap saja beraktivitas. Meski, menuai protes dari para ahli waris tanah adat, namun pemerintah dan perusahaan tidak mengubriks mereka.

Pemerintah mengakui keberadaan tanah adat milik sejumlah rumpun keluarga. Namun, karena kecorobohan, dan tidak adanya verifikasi sejak awal, klaim kepemilikan tanah terus berkembang hingga mencapai 400 dari 43 ahli waris yang diakui oleh pemerintah.

Para ahli waris pun terancam kehilangan tanah mereka yang selama ini secara turun-temurun dijaga. Kebijakan pemerintah yang mengeluarkan izin kepada sejumlah KP tanpa melakukan verifikasi yang melibatkan warga berbuntut panjang. Para pemegang  izin KP diduga telah menyerobot tanah ulayat para ahli.

Kebijakan pemerintah yang berbuah malapetaka tak seharusnya terjadi kalau saja Pemda Bombana mengatur pertambangan dan masyarakatnya sejak awal agar lebih baik, teratur, dan mengontrol serta melakukan pengawasan. Lemahnya pengawasan menyebabkan pertambangan yang tidak terkontrol.

Pemerintah melakukan penghentian sementara (moratorium) tambang dengan harapan akan melakukan perbaikan kerusakan lingkungan yang sudah cukup parah. Selain itu, pemerintah juga akan menetapkan kawasan tambang rakyat seluas 25 hektare.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: