Badak Jawa Mulai Ditangkarkan Tahun 2012

Kompas 2009-06-18/Konservasi

image

WWF-Indonesia

PANDEGLANG- Direncanakan untuk tahun 2012 mendatang, akan direncanakan penangkaran dan pengembangbiakan Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) Pandeglang, Banten. Diharapkan tahun 2015 sudah memiliki keturunan anak.

Agus Priambudi, Jumat (19/6) menyatakan saat ini populasi Badak Jawa diperkirakan sekitar 50 ekor lagi. Pengembangbiakkan satwa langka di dunia ini melibatkan sejumlah peneliti dari beberapa negara untuk mengadakan konservasi di habitatnya di kawasan hutan TNUK.

Bahkan, para donatur dari Amerika Serikat sudah siap memberikan bantuan untuk penangkaran pengembangbiakkan Badak Jawa itu di TNUK. Bantuan tersebut, dipergunakan untuk biaya operasional konservasi, monitoring serta perlindungan badak.

Selain itu, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dunia juga siap membantu seperti dari Executive Director International Rhino Foundation Susie Eliis, Kimsei Vier (Tulsa Zoo), dan Ruchweet (Miami). Diperkirakan biaya penilitian ini memakan biaya cukup besar.

Menurut Agus, saat ini di dunia peniliti genetik Badak masih sangat kecil, apalagi satwa itu pemalu dan sulit ditemukan. Oleh karena itu, pihaknya harus hati-hati para peniliti karena saat ini populasi Badak Jawa di TNUK hanya 50 ekor.

Agus juga menyebutkan, penangkaran Badak Jawa itu yang akan dijadikan taman marga satwa dunia (TMSD) akan difokuskan di Gunung Honje dengan luas 4.000 hektare. Saat ini, habitat Badak Bercula Satu berada di lahan seluas 38.000 hektare kawasan TNUK, termasuk Gunung Honje.

Pelestarian Badak Jawa ini, lanjut dia, pihaknya meminta dukungan pemerintah Provinsi Banten dan Kabupaten Pandeglang serta masyarakat. Apalagi, binatang Badak Jawa sudah dijadikan maskot pemerintah Kabupaten Pandeglang. “Jika penangkaran itu berhasil tentu pengunjung bisa melihat langsung kehidupan Badak. Sebab, saat ini warga belum mengetahui keberadaan Badak Jawa itu,” ungkap Agus.

Sementara itu, Bupati Pandeglang Dimyati Natakusumah menjelaskan, jika TNUK berhasil mengembangkan penangkaran Badak Jawa sebagai TMSD tentu bisa mendatangkan devisa bagi masyarakat dan pemerintah setempat. Selain itu, juga bisa menciptakan lapangan pekerjaan dengan berjualan atau bekerja di hotel atau penginapan. Bahkan, pihaknya sudah mengirimkan surat ke Departemen Kehutanan (Dephut) agar TNUK dijadikan sebagai TMSD.

Saat ini, spesies Badak di dunia ada lima jenis yakni Badak Hitam (Diceros bicornis), Badak Putih (Ceratotherium simum), Badak India (Rhinoceros unicornis), Badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis) dan Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: