Merana Di Atas Tanah Kemilau Emas

Media Sultra 2009-06-15/Hal 7 Daerah

Laporan : Rustam MS

Nurhayati, salah satu korban dari penertiban, tak hentinya mengurai air mata. Sesekali ia menyapu air matanya dengn kain sarung yang dipakainya. Ia sangat kecewa dengan sikap pemerintah, dan aparat keamanan yang mengusirnya keluar dari zona tambang emas Bombana. Padahal dirinya sudah mendapat izin dari Pemda setempat dan petugas keamanan. Nurhayati masuk kawasan tambang emas Bombana sejak pasca Idul Adha 2008. Ia menyewa lahan petak untuk berjualan di Sub Pemukiman (SP)-9. Kekecewaan Nurhayati kepada pemerintah  tidak beralasan, pasalnya meskipun sudah beberapa bulan berjualan di SP-9 namun modal 50 juta rupiah untuk usahanya belum kembali modal. Modal tersebut dikredit  di BRI Januari 2009, dan itu harus segera dikembalikan.

Saat penertiban berlangsung aparat keamanan sempat mengeluarkan tembakan, untuk mengamankan warga. Tapi Nurhayati justru bertahan sambil membereskan jualan warungnya. Bahkan ia sempat beradu mulut dengan aparat keamanan. Akhirnya petugas pun urung membakar warunngnya. “Saya beritahu petugas, silahkan bakar warung saya, dengan syarat tidak ada dikecualikan”, ungkap Nurhayati.

Menurut parubaya berusia 39 tahun ini, bahwa berdasarkan surat edaran yang telah diterimanya disebutkan tidak ada pengecualian dalam penertiban tambang emas Bombana. Namun, yang terjadi masih ada bangunan lain milik warga yang tidak dibakar. Meski dirinya mengaku rakyat biasa, namun ia berkeinginan kuat untuk bertemu dengan Gubernur Sultra, Nur Alam. Ia ungin menyampaikan langsung tentang sikap pemerintah daerah dalam hal ini Pemkab Bombana yang dinilai tidak adil dan telah melakukan tindakan sewenang-wenang.

Hal serupa juga dirasakan Nono, pendulang asal Tasikamlaya, Jawa Barat. Saat ini ia bersama tetangga kampungnya Maman tak punya duit sepeser pun. Dirinya berhenti mendulang sejak sepekan pasca penertiban lokasi tambang emas 6 Juni lalu. Keduanya hanya berharap ada kiriman dari isterinya agar bisa pulang kampung. Ia membutuhkan setidaknya uang 1 juta rupiah untuk ongkos pulang. “Kalau tahu situasinya seperti ini, saya tidak akan kesini”, ungkapnya.

Nurhayati, Nono, Maman, adalah sekian dari korban cerita di balik kemilau emas Bombana. Mereka berdiri dan tidur diatas tanah-tanah itu, tapi tidak menikmati  apa yang menjadi incaran banyak orang dan investor tambang. Pemerintah daerah  hanya lepas tangan dari derita rakyatnya. Tanpa merasa bersalah, justru Pemda menuduh pekerja tambang emas masuk areal tambang secara illegal. Padahal seperti kita ketahui, pada mulanya Pemda dan aparat keamanan mengizinkan masuk ke lokasi tambang kemudian akhirnya mengusir keluar secara paksa.

Penertiban lokasi tambang emas dilakukan pemerintah daerah karena sudah banyak masalah yang muncul, dengan dalih dengan pengosongan lahan tambang emas, maka kerusakan lingkungan, menyelesaian konflik lahan dan menata kembali agar lebih baik. Yang jadi pertanyaan selanjutnya, adalah apakah mungkin pasca pengosongan itu akan lebih baik dari sekarang, atau justru dikemudian hari akan lebih parah?.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: