Lari Masuk Hutan, Malam Keluar Mendulang

Kendari Pos 2009-06-15/ Hal 5 Bumi Anoa

Akal-akalan Pendulang Menyelamatkan Diri Dari Tim Penyisiran Tambang

Tambang emas Bombana memang tidak pernah kosong. Meskipun Pemkab Bombana tiga kali melakukan penertiban, tetapi pendulang dan pedagang masih saja ditemukan melakukan aktivitas penambang. Pada pertengahan Juni lalu, tim penertiban dari Brimob, TNI, Polres Bombana, Polhut, Pol PP dan beberapa instansi teknis yang terkait  tidak menemukan hambatan apapun dalam melakukan penyisiran. Bahkan ribuan, penambang dan pedagang yang tersebar dan menempati Tahi Ite, Wububangka, SP 8, dan SP 9 selalu berhasil dikeluarkan hanya dalam waktu hampir sepekan.

Tapi sayang, sukses penertiban yang dilakukan oleh tim penertiban tidak bertahan lama, karena hanya sepekan bahkan bisa sehari setelah penyisiran dilakukan tim penertiban meninggalkan tambang emas Bombana, maka empat daerah tersebut kembali diserbu para pendulang dan pedagang, Bahkan pemandangan ini terlihat saat batas akhir pengosongan tahap dua lalu, sehari setelah batas akhir tim penertiban meninggalkan kawasan emas Bombana, daerah tersebut dimasuki pendulang lagi.

Di Tahi Ite, minggu pekan lalu atau sehari dari batas akhir pengosongan untuk tahap kedua, sudah ditemukan lagi pendulang yang melakukan aktivitas, dengan mengggunakan mesin, Menurut salah satu pendulang, John, asal Mamuju Barat bahwa baru saja kami mendulang, belum ada hasilnya. Dia bersama tujuh rekannya tidak begitu kesulitan masuk di daerah tambang emas, mereka cukup melewati jalur umum yang kerap dilalui pendulang selama ini.

Lain halnya yang dilakukan Said, menurut dia saat penyisiran tahap kedua dilakukan awal Juni lalu, dia terpaksa meninggalkan Tahi Ite, Namun tidak demikian dengan rekannya yang lain dari Desa Bulalo, Kecamatan Kuandang Kabupaten Gorut, Gorontalo, dimana delapan rekan lainnya memilih menyelamatkan diri ke hutan.  Langkah rekannya itu, merupakan alternatif terbaik, selain untuk menyelamatkan diri, juga untuk memperpanjang aktivitas penambangan. Pendulang tersebut lari ke hutan saat dilakukan penyisiran, dan malam hari mereka kembali beraktivitas. Mereka menggunakan penerangan dari senter pada saat menggali emas. Meski hal tersebut beresiko, mereka tetap melakukannya, “Kalau pendulang profesional sudah biasa melakukan seperti ini”, ungkap Said.

Selain itu, pendulang lain seperti Imran, mengungkapkan bahwa, lari masuk hutan sudah merupakan alternatif terakhir bagi pendulang yang mau bertahan. Di hutan, biasanya mereka memasang tenda dan hidup berhari-hari sampai zona emas Bombana benar-benar ditinggalkan tim penertiban, “Jika kondisinya memungkinkan malam hari barulah mereka mendulang, biasanya mereka lari di hutan kawasan SP 8”, ungkap Imran warga asal Kolaka Utara ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: