2980 Hektar Tanah Ulayat Dicaplok Pemkab

Kendari Pos 2009-06-15/Hal 5 Bumi Anoa

Milik 1291 Jiwa Turunan To Bolo Aho

Kabupaten Bombana tak bisa dipungkiri telah banyak menimbulkan polemik di daerahnya sendiri. Pemkab Bombana dan masyarakatnya masing-masing mengklaim untuk menguasai lahan emas tersebut. Dari salah satu lokasi  yang menjadi areal penertiban yakni Kampung To Bolo Aho di Desa Wumbubangka, Kecamatan Rawowatu Utara, yang seluas 2980 hektar kini diambil alih Pemkab Bombana. Padahal, lahan tersebut merupakan tanah ulayat 1291 jiwa yang merupakan keturunan Bolo Aho.

Sebelumnya, Pemkab Bombana telah melakukan penertiban di kawasan tambang emas  terhadap pendulang dan pedagang. Dan ini pun berlaku bagi warga yang mengklaim diri sebagai pewaris tanah ulayat turut menjadi korban penggusuran. Untuk itu, para pewaris sedang berjuang untuk mendapatkan haknya.

Menurut salah satu ahli waris, Bintang yang diangkat sebagai Kepala Rumpun To Bolo Aho menyatakan bahwa, Kebijakan Pemkab telah memberikan izin KP kepada investor telah merugikan pewaris tanah ulayat. Bahkan mereka sampai diusir ditanah ulayat milik mereka sendiri, Bolo Aho. “Pemerintah mengusir kami karena ingin memasukkan para investor tambang, padahal tanah bekas perkebunan, dan perkampungan To Bolo Aho adalah tanah ulayat. Dimana Bolo Aho merupakan pusat kedudukan Tama Lakino Wonua yang diwariskan secara turun-temurun dari nenek moyang mereka, yang bernama Lema yang dikenal sejak kekuasaan Mokole Tumbia. Saya sendiri merupakan keturunan ketiga dari Bolo Aho sebagai salah satu pewaris tanag ulayat tersebut”, ungkap Bintang pekan lalu, di Kendari.

Luas lahan To Bolo Aho sebentang 2980 hektar yang dibagi kepada 1291 orang ahli waris. Setiap jiwa mendapatkan 2 hektar. Tapi tanah itu kemudian dikuasai oleh Pemkab Bombana untuk kepentingan penambangan tanpa memikirkan hak ahli warisnya. Berdasarkan pengakuan dari Bintang bahwa warganya mau diatur sama pemerintah asalkan jangan main serobot lahan warga, sedangkan para investor sendiri dibiarkan saja beroperasi.

Selain itu, berdasarkan keterangan dari Sekertaris Rumpun To Bolo Aho, Rustam Gusari bahwa berdasarkan surat keterangan tanah warisan milik rumpun Bolo Aho yang telah ditandatangagi Camat Balo Aho,  Asyad Hibali, sebelum mekar menjadi Rarowatu di  tahun 1997 telah jelas batas-batas lahannya. Tapi pemerintah sekarang tidak mau mengakui dan mengusir pewaris tanah ulayat.

Untuk itu, pewaris tanah ulayat meminta bantuan dari LSM Chanel HAM Indonesia untuk memberikan pendampingan kepada rumpun keluarga Bolo Aho. Menurut Ketua Tim Investigasi Chanel HAM Indonesia, Salih Hanan, bahwa jika Pemkab Bombana tidak mengindahkan hak para pewaris tanah ulayat secara proporsional, maka pihaknya akan melakukan dua upaya prioritas melalui gerakan massa besar-besaran dengan menduduki Kantor Bupati Bombana, dan menempuh jalur hukum yang sedang dalam proses.

Sementara itu, Ketua LSM Chanel HAM, Saputra Budilaras Huta, mengungkapkan bahwa setelah pihaknya melakukan investigasi, Pemkab Bombana telah melakukan tiga kali pengusiran di lokasi tambang. Tidak banyak pula menimbulkan insiden dan kekerasan, bahkan sampai pada pembakaran tenda menjadi objek penertiban. Mestinya Pemkab Bombana mengakui hak para pewaris bukannya berperang dalam kepentingan mereka sendiri-sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: