Sepenggal Surga Dibumi

WISATA BAHARI

Kompas 2009-06-05/Fokus: Wakatobi

Boleh jadi hanya di Wakatobi ada rumor sebuah bank tutup lantaran diserbu para penabung. Mungkin “Kewalahan” melayani nasabah, sementara tidak ada calon pengutang yang mengajukan pinjaman kredit,bank itupun tidak ingin ambil resiko lebih jauh: angkat kaki dari Wakatobi.

Kisah kecil yang dituturkan oleh seorang pegawai pemerintahan Kabuapten Wakatobi ini memperlihatkan bahwa sebuah ironi. Bahkan terselip semacam paradoks yang bersifat timbal balik: Siap yang membutuhkan apa!

Bagaimana mungkin lembaga perbankaan berani membuka kantor cabang pembantu pusat pemerintahan sebuah Kabupaten, meski digugusan kepuluan yang jauh seperti Wakatobi, kesulitan merancang perputaran uang dari nasabahnya?

Ditengah begitu banyak nelayan dan para pelaku budidaya kerang dan rumput laut, bagaimana mungkin lembaga perbankan kesulitan menyalurkan kredit skala kecil bila keberadaannya disana dimaksudkan untuk membantu pengembangan daerah?

“Soal pengelolaan uang dilembaga perbankan jelas kami tidak paham,tapi itulah yang terjadi. Banyak warga nabung, tapi akhirnya bank itu tutup juga”, ujarnya.

Sejarah daerah hasil pemekaran diKabupaten Buton, Sulawesi Tenggara di tahun 2003 perekonomian Wakatobi ibarat anak yang baru belajar berenang. Pendapat masyarakat sebgaian besar mengandlakan hidup sebagai nelayan tradisional, sebagaian kecil hanya bertani, pedagang antar pulau, pegawai pemerintah, memang masih kental model ekonomi tradisional yang masih bersifat subsisten. Dalam sistem ekonomi semacam ini jasa perbankan tampaknya belum banyak berperan untuk membuat perubahan.

Satu-satunya lembaga perbankan yang membuka kantor cabang pembantu disana baru Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sulawesi Tenggara. Itu punya hanya ada di wanci,ibukota Kabupaten Wakatobi yang berada di Pulau Wangi-Wangi. Di tiga pulau `utama lain yang jadi pusat pemerintahan kecamatan -Kadelupa, Tomia, dan Binongko-hanya tersedia kantor pos.

Sangat Diminati

Sepintas, kondisi ini seperti bertolak belakang dengan gambaran umum di internet tentang Wakatobi yang sudah begitu terkenal hingga dibelahan lain dunia. Wakatobi sudah didatangi ribuan turis mancanegara. Artis penyanyi Jennifer Lopes dan milyuner Bill Gates adalah dua diantara nama-nama pesohor kelas dunia yang pernah singgah dan menikmati keindahan Wakatobi.

Panorama alam bawah laut di sejumlah titik penyelaamn di kawasan diakui indah memukau.Jajaran atol berikut laguna karang-keras dan luank-serta dinding-dinding dengan beragam boaita penysunnya meruapakan suguhan lain yang tak kalah menarik.

Belum juga di bawahnya. Aneka jenis terumbu karang dan fauna lautnya yang umummnya masih terpelihara menjadi daya tarik wisatawan.
Hampir 90 persen dari sekitar 850 jenis terumbu karang di dunia ada di Wakatobi. Dan, diantara 942 spesies fauna laut yang didata Operation Wallacea-lembaga ekspedisi riset dan konservasi yang berbasis di Inggris-terdapat jenis kuda laut moncong babi yang hingga kini hanya ditemukan di alut Wakatobi.

” Baru, melihat dari permukaan saja sudah bukan main cantiknya,” kata Yan Megawandi, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Bangka Belitung. Saat berkunjung ke Wakatobi, awal Desember 2008, Yan mengaku hanya sempat “mengintip”,keindahan bawah laut di lepas pantai di Pulau Hoga-tak jauh dari Pulau Kadelupa-dengan snorkeling dari permukaan laut.

Tidaklah mengherankan bila kemudian Wakatobi Dive Resorts yang ada (sejak 1995) di Pulau Onemobaa, sebuah pulau kecil di lepas pantai Tomia, sangat diminati para penjelajah bawah laut yang datang dari berbagai belahan dunia. Sepanjang tahun, resort milik Lorentz Mader asal Swiss ini tidak pernah kekurangan pengunjung.

Dengan tarif 3.000 dollar As per orang untuk paket kegiatan selama 10 hari, untuk bisa menikmati keindahan bawah laut Wakatobi mereka harus antre cukup lama, mengingat jumlah penginapan yang tersedia sangat terbatas. Tak lebih dari 30 kamar. Praktis sepanjang tahun Wakatobi Dive Resorts selalu penuh, sampai-sampai tahun 2002 pihak pengelola membangun lapangan terbang sendiri di Maranggo, Tomia.

Mereka datang lewat Wanci, tetapi langsung ke lokasi melalui pesawat carter dari Denpasar, Bali. Lagipula, apa mereka masih bersusah payah melalui rute lama yang melelahkan naik kapal laut dari Kendari ke Wanci lewat Baubau Pulau Buton, baru berganti kapal menuju Onemobaa dilepas pantai Pulau Tomia.

Lokasi Damai

Sebagai kawasan pulau bahari terutama sebgai lokasi penyelaman Wakatobi masih memang naik daun. Meski tidak setenar selat Lembeh- dan Pulau Bunaken di Sulawesi Utara, atau Raja Ampat di Papua, serta Tulamben, dan Lembongan di Bali. Namun kecendrungan wisatawan untuk mengunjungi gugusan kepuluan di perairan Wakatobi terus meningkat.

Sejauh ini belum ada angka pasti yang bisa dirujuk. Akan tetapi , melihat waktu tunggu yang begitu panjang untuk melalui wakatobi Dive Resorts-Konon sudah terisi penuh hingga setahun ke muka-paling tidak mengindasikan hal itu.

Setiap tahun, jumlah peserta Operation Wallacea yang terjun ke pusat penelitian bawah laut dunai ini juga terus bertumbuh.Begitupula musim liburan universitas di Eropa tiba, biasanya Maret-April, dan September-Oktober, Pulau Hoga dipenuhi ratusan mahasiswa S-2 dan S-3- didampingi 10-12 professor-yang sengaja datang untuk serangkaian riset dengan biaya masing-masing.

Terletak di jantung segitiga terumbu karang dunia, kini Wakatobi memang idaman banyak penyelam. Hasil survei yang dilakukan National Geograpic Traveler Indonesia, menempatkan Wakatobi di urutan ketujuh diantara 16 lokasi penyelaman Indonesia,padahal akses ke kawasan ioni relatif sulit.Bahkan,dari aspek pelayaan, Wakatobi tidak ditandai responden lantar jasa layanan operator belum tersedia di kwasan ini,

Akan tetapi, dalam hal kelestarian serta kepuasan dibandingkan biaya yang dikeluarka, Wakatobi masing-masing berada di peringkat ketiga dan keenam. Hasil survei yang sudah dipublikasikan (NGTI Volume 1, edisi 3 2009), ini secara tidak langsung menunjukkan, sejauh ini keunggulan Wakatobi masih sebatas keindahan dan keragaman bawah lautnya yang merupakan anugerah alam dan belum ada tingkatan pengelolaan.

Aspek yang melibatkan keberadaan sumber daya manusia secara langsung ternyata masih berada diperingkat bawah. Jika saja layanan operator dan keberdaan pemerintah terkait bisa ditingkatkan, misalnya tentu akan sangat menyokong kebnerlangsungan tujuan wisata bahari. Hal lain yang tak kalah penting terkait bagaimana mempersipakan masyarakat yang tinggal di pualu-pulau sekitar lokasi wisata bahari tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: