MEMBANGUN WAKATOBI DARI LAUT

Kompas 2009-06-05/Fokus: Wakatobi

KEPARIWISATAWAN

“Surga bawah laut yang sebenarnya ada di Wakatobi.Dari tiga pusat penyelaman kelas dunia,Wakatobi memiliki jenis karang laut terbanyak.”kata Hugua,Bupati Wakatobi,dalam berbagai kesempatan saat memaparkan keunggulan salah satu kabupaten di Sulawesi Tenggara ini.

Keanekaragaman hayati bawah laut di Wakatobi diklaim jauh lebih tinggi dibandingkan Karibia dan Mesir yang jadi pusat penyelamatan dunia. Sekitar 90 persen dari 850 jenis karang dunia,yakni 750 jenis,ada di Wakotobi.

Perairan Karabia,yang kondang dengan wisata lautnya,ternyata belum apa jika dibandingkan dengan Wakatobi.Hanya ada 50 jenis karang di Karabia. Sementara di laut Merah,Mesir,yang dikenal sebagai gudang terumbu karang cuma memiliki 300 jenis.

Berbekal data itulah pemerintah Kabupaten Wakatobi memfokuskan pembangunan wilayahnya guna terwujudnya surga nyata bawah laut dijantung segitiga karang dunia.Sektor andalan yang giat dikembangkan tak jauh dari potensi bahari yang ada, yakni perikanan,kelautan,dan pariwisata.

Menurut Hugua,Wakatobi sebenarnya destinasi yang cukup populer di mata wisatawan mancanegara dari Amerika serikat dan Eropa,terutama mereka yang suka menyelam. Apalagi selama belasan tahun terakhir keindahan dibawah laut kepulauan Wakatobi-yang merupakan singkatan dari nama empat pulau utama disana:Wangi-Wangi,Kaledupa,Tomia,dan Binongko sudah jadi “jualan” utama PT Wakatobi Dive Resort yang dimodali pengusaha asal swiss.

Hanya saja,untuk bisa tinggal diresort dengan segala fasilitas penyelamnya,wisatawan mesti sabar untuk masuk daftar tunggu hingga setahun ke depan.Untuk paket 10 hari biayanya sekitar 3.000 dollar As,belum termasuk tiket pesawat dari Bali ke pulau Tomia,untuk kemudian menuju pulau Onemobaa,lokasi resor yang punya penyelaman berkelas internasional tersebut.

Pundi-pundi dollar mengalir deras keresor tersebut.Tetapi,tetesan dollar itu belum dirasakan punya dampak signifikan bagi peningkatan asli daerah.

“potensi alam Wakatobi harus bisa di manfaatkan dengan baik untuk kesejahteraan masyarakat juga,”kata Hugua.

Mulai Membangun

Langkah terobosan untuk membuka mata bangsa ini dan dunia internasional akan keberadaan surga bawah laut Wakatobi aalah engan membangun bandar Udara Matahori di pulau Wangi-Wangi,tak jauh dari pusat ibu kota Wakatobi di Wanci.

kehadiran bandar udara yang baru beberapa waktu lalu diresmikan penggunaannya itu setidaknya membuat Wakatobi tak terlalu bergantung pada penerbangan melalui lapangan terbang Maranggo di pulau Tomia,yang sesungguhnya milik Wakatobi Dive Resort.Kehadiran Bandara Matahora sekaligus meretas rute laut,yang biasanya ditempuh wisawatawan pada umumnya ke Wakatobi.

Pada saatnya nanti,rute penerbangan lewat Bandara Matahora difokuskan dari Bali,Manado,dan Raja Ampat.Rute ini dipilih karena ditiga titik penerbangan itu sudah lebih dulu dikenal keindahan bawah lautnya oleh wisatawan asing dan lokal.

Dengan adanya bandara di pusat ibu kota kabupaten,pulau Wangi-Wangi diharapkan bisa jadi pusat wisata baru yang tumbuh.Wisawatawan umum yang lebih luas juga bisa menikmati pasir putih an birunya laut,serta keindahan karang dipusat ibu kota tersebut.

Keunikan lain ada di perkampungan suku Bajo.Kanal-kanal yang mengitari perkampungan suku Bajo dilintai perahu-perahu kayu yang jadi sarana transfortasi untuk berbagai tujuan.Pemandangan orang-orang menganyuh dayung kayu dikanal-kanal yang cukup lebar itu seakan membawa angan perahu di Venesia.

Dari Wangi-Wangi,pilihan Wisata yang ditawarkan adalah pulau Hoga di kecamatan kaledupa.Setidaknya perlu waktu kurang dari satu jam dengan kapal motor cepat untuk tiba ilokasi nan indah itu.

Suasana sunyi menyergap kawasan pulau Hoga yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Wakatobi.Pemerintah Kabupaten Wakatobi memang ingin membiarkannya tetap sunyi dengan tidak mengisinkan pulau ini dihuni secara permanen.Rumah-rumah kayu tersedia hanya sebagai penginapan,yang umumnya disinggahi banyak peneliti dan pelajar asing.

Veda Santiaji,Project Leader Joint Program The Nature Conservasy-WWF untuk Taman Nasional Wakatobi,mengatakan bahwa sumber daya alam di Wakatobi sangat memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai laboratium alam yang luar biasa. WWF mengindentifikasi delapan sumber daya Alam penting Di Taman Nasional Wakatobi.

Sumber daya alam itu merupakan terumbu karang,mangrove,lamun atau padang rumput laut (sea grass),daerah pemijahan ikan,mamalia laut,burung-burng migrasi,peneluran penyu,dan ikan-ikan pesisir.

“Tetapi,yang penting,pemerintah kabupaten Wakatobi harus tegas soal zonasi Wilayah yang sudah disepakati,”kata Veda.

Sebagai kawasan taman nasional yang ditetapkam dengan SK Menhut No 393/Kp-ts-VI/1996,tentu pemerintah kabupaten Wakatobi mesti bisa “dijual”untuk ekowisata,tanpa menafikan masyarakat kecil.

Wisata Bahari

Aktifitas Wisatawan kemasa mendatang diprediksikan berorentasi ke laut: Wisata bahari.Hal itu disebabkan objek wisata didarat identik dengan kehancuran.Indonesia memiliki ekosistem dan alam laut yang tak kalah menarik dan memiliki daya jual yang tinggi jika dikelolah secara profesional.Karena itu,pengembangan wisata bahari di pulau-pulau kecil harus berbasis masyarakat.

Tetapi sebagaian pulau-pulau dengan ekosistem laut dan daratan yang indah, unik, dan menarik sudah digarap bahkan dijual ke pihak asing. Masyarakat pun “gigit jari”, bahkan aksesnya menangkap ikan semakin terbatas.

Tak aneh bila kemudian, dibanyak tempat, aktivitas pengeboman ikan oleh nelayan semakin sering terjadi hingga berdampak pada kerusakan terumbu karang. Di Wakatobi, perilaku semacam itu sudah etrjadi.

Persoalan lain yang mesti diatasi adalah mengamankan taman nasional yang kaya keanekaragaman hayati dan bernilai ekonomi sangat tinggi. Pencurian karang laut dan penjarahan ikan bisa jadi anacaman serius jika armada laut utnuk pengamanan wilayah perairan Wakatobi memadai.

Laode Hajifu, Kepala Dinas Kabupaten Wakatobi, menyatakan bahwa jenis ikan napoleon merupakan sasaran pencurian di wilayah Taman nasioan Wakatobi. Ikan ini merupakan salah satu ikan yang sangat dilindungi dan dilarang perdagangannya saat ini oleh International Union for the Conservation of Nature and Natural Resouces (IUCN).

“Harga yang sangat mahal  tentu cukup menggiurkan. Untuk memelihara TMW ini perlu melibatkan masyarakat,” ungkapnya.

Riza Damanik (Sekjen Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan) dalam diskusi panel Pariwisata Bahari yang digelar Kompas bekerjasama dengan Departemen Pariwisata dan Kebudayaan mengingatkann pengembangan potensi bahari meski juga berpihak pada nasib nelayan, seperti di Wakatobi, disebutkan nelayan tidak bisa lagi secara adat menangkap ikan mengelilingi kawasan Wakatobi.

“Karena wilayah yang dibolehkan menangkap ikan itu-itu saja, hasil tangkapan ikan stagnan, tidak menggembirakan. Lalu, pilihan masyarakat adalah mengebom ikan,” ujar Damanik.

La Ode Ali, guru SD yang peduli pada budaya, menyatakan bahwa pengembangan pariwisata Wakatobi jangan mengabaikan kekayaan seni budaya yang di miliki masyarakat. Geliat pemeliharaan tradisi warisan nenek moyang mesti bisa sejalan dengan tumbuhan pariwisata Wakatobi yang perlahan-perlahan mulai ditingkatkan.

“Bukan cuma untuk melestarikan budaya, tetapi generasi mudah bisa punya bekal untuk hidup dengan memanfaatkan seni budaya warisan leluhur, di tengah maraknya perkembangan pariwisata Wakatobi nantinya nantinya,” ujar La Ode Ali.

Yang penting geliat wisata bahari yang tumbuh itu tidak memarjinalkan masyarakat, terutama wong cilik. Tetesan madu dari surga bawah laut Wakatobi seharusnya dikembalikan pada tujuan untuk memajukan pulau dan masyarakat secara bersama-sama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: