Jurnal Perjalanan Media Trip WWF-Indonesia Mei 2009

Kilau Emas Bombana

Hanya dalam sekejab, Kabupaten ini menghasilkan : Konflik horizontal, korupsi, kerusakan lingkungan dan inflasi yang menyebabkan penderitaan dipikul oleh warga. Inilah harga dari tambang-tambang emas yang di Bombana. Hanya untuk memuaskan keinginan pasar dunia, segalanya menjadi rusak. Siapa yang akan memulihkan, mengambil tanggungjawab untuk memperbaiki kerusakan bentang alam ini?

Para Penambang TradisionalKabupaten Bombana merupakan Kabupaten dengan luas wilayah daratan 2.845,36 km² atau 284.536 ha dan wilayah perairan laut 11.837,31 km². Daerah ini dimekarkan tahun 2003.

Pada tahun 2005, tercatat 110.029 jiwa bermukim di Bombana.

Jauh sebelum tambang emas ditemukan, Kabupaten Bombana dikenal karena keindahan alamnya serta kehidupan kesukuan dan budaya menarik. Suku Moronene, yang dimitoskan sebagai Negeri Dewi Padi (Dewi Sri) ada di sini. Konon, sang dewi pernah turun di sebuah tempat yang belakangan disebut Tau Bonto (Saat ini lebih dikenal dengan Penulisan Taubonto). Dalam bahasa Moronene, ‘tau bonto’ berarti tahun pembusukan, karena ketika Dewi Padi itu turun di tempat tersebut, produksi padi ladang melimpah ruah sehingga penduduk kewalahan memanennya. Akibatnya, banyak padi tertinggal dan membusuk di ladang. Padahal, luasan ladang yang dibuka tak seberapa, hanya beberapa hektar saja untuk setiap keluarga (sumber Wikipidia).

Taubonto menjadi pusat pemerintahan di zaman kekuasaan mokole, gelar raja di wilayah Moronene pada masa lalu. Di masa pemerintahan swapraja Buton pascakemerdekaan, wilayah kekuasaan mokole berubah menjadi wilayah distrik, dan selanjutnya menjadi kecamatan.

Butiran Emas Yang Terdulang

Secara historis, wilayah Moronene di daratan besar jazirah Sulawesi Tenggara mencakup sebagian Kecamatan Watubangga di Kabupaten Kolaka sekarang. Namun, yang masuk wilayah administrasi Kabupaten Buton (waktu itu) hanya Kecamatan Poleang dan Kecamatan Rumbia. Saat itu telah berkembang menjadi empat kecamatan. Dua kecamatan tambahan sebagai hasil pemekaran adalah Poleang Timur dan Rarowatu. Kecamatan Rarowatu berpusat di Taubonto.

Pulau Kabaena juga termasuk wilayah Moronene, sebab penduduk asli pulau penghasil gula merah itu adalah suku Moronene. Meski demikian, pemerintahan mokole di Kabaena bersifat otonom, tidak ada hubungan struktural maupun hubungan afiliatif dengan kekuasaan mokole di daratan besar, akan tetapi hubungan kekerabatan di antara mokole dan rakyat sangat erat. Kekuasaan mokole di Kabaena berada di bawah kontrol Kesultanan Buton, seperti halnya mokole lainnya di daratan besar jazirah Sulawesi Tenggara. Sultan Buton menempatkan petugas keraton di Kabaena yang bergelar Lakina Kobaena. Karena itu, secara struktural, Kabaena lebih dekat dengan Buton (Sumber data Wikipidia).

Peleburan Butiran Emas Emas Yang Telah Dilebur

Namun Bombana tak hanya memiliki kekayaan history, tapi juga tambang emas dan nikel yang baru dinyatakan bisa tercadangkan hingga 50 tahun kedepan. Bagi sejumlah tokoh masyarakat Bombana, penemuan emas merupakan keberuntungan sekaligus malapetaka.

Kini, setelah heboh dengan kilau emas dan melihat cepatnya efek negatif dari pendulangan emas yang tak bisa tertangani Pemerintah kabupaten Bombana dan Provinsi memutuskan empat hal :

  1. Menghentikan seluruh kegiatan tambang baik yang dikelola rakyat maupun perusahaan.
  2. Mengidentifikasi lahan warga maupun kawasan-kawasan hutan yang berpotensi tambang.
  3. Melakukan verifikasi pada kuasa-kuasa pertambangan yang mengisyaratkan tak sesuai prosuder.
  4. Melakukan penataan wilayah di wilayah tambang rakyat dan menetapkan kawasan mana yang bisa dikelola oleh warga kelak.

Kerusakan Lingkungan

Tapi semuanya terlambat. Kini butuh biaya begitu besar untuk memperbaiki semua hal yang dilakukan secara ceroboh sejak beberapa bulan lalu.

Bentaran sungai di Kabupaten Bombana tak lagi memiliki bentuk. Pekerja-pekerja tambang masuk atas izin Pemerintah Kabupaten Bombana, yang bahkan mengeluarkan peraturan untuk menambang,dan mengenakan biaya Rp 250 ribu untuk sebuah kartu dulang. Namun dalam kenyataannya, praktek pungli merebak, dan harga kartu dulang bisa mencapai Rp 1,5 juta. Pemerintah melepas tangan atas situasi ini, dan bahkan tak memiliki kekuatan untuk mengontrol merebaknya pungli serta kerusakan lingkungan.

Kerusakan Lingkungan Yang Terjadi Liang Yang Dibuat Pendulang

Para pekerja sebagian besar berasal dari Papua, Kalimantan, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan atau pekerja yang rata-rata memiliki pengalaman mengolah tambang secara tradisional, penuh bahaya dan membuat lubang ‘tikus’ hingga kedalaman 6-10 meter. Pada kedalaman 2 meter, butir-butiran emas bisa mereka peroleh, namun kerja-kerja ini tak memiliki kepastian. Anda hanya wajib memiliki harapan, memperoleh 1-2 gram setelah sehari bekerja keras dalam lubang tanah dan diiringi ancaman kehabisan oksigen, keracunan sehingga tertimpa reruntuhan lubang itu. Ketika angka kematian akibat mendulang sudah mencapai 49 jiwa, Pemerintah Kabupaten Bombana dan Provinsi Sulawesi Tenggara tak menunjukkan sikap apapun.

Angka kesehatan pendulang juga merosot tajam. Seorang ibu hamil yang mendampingi suaminya, mandi di sungai ini, membeli 1 jerigen air Rp 15.000 untuk minum dan mengatakan, kalau tak ada kerja lain, bukankah mencari emas adalah pilihan?

Menggunakan Alat Tradisional

Seorang pendulang asal Tambea mengatakan, membeli air perak Rp 100 ribu dalam sebuah botol untuk memisahkan emas dari kotoran-kotoran, dan tentu saja limbah air perak itu mengalir pada sungai-sungai yang digunakan oleh pendulang ini untuk mandi dan bekerja.

Konflik Horizontal

Konflik horizontal timbul antar warga pasca seluruh wilayah dikapling para pendulang. Tiap wilayah dijaga oleh aparat atau pria-pria dengan mata merah akibat minuman keras. Mereka mengenakan biaya masuk Rp 5000- Rp 10 ribu. Dalam situasi paling sulit, ketika hujan turun deras, untuk menaikkan mobil ke wilayah lain, Anda akan dikenakan biaya Rp 350.000.

Kamp Para Pendulang Kamp Pendulang

Konflik juga timbul karena para pewaris tanah yang kini lahannya kini diserahkan oleh Pemerintah Kabupaten Bombana ke perusahaan-perusahaan tambang berskala kecil, tidak melakukan verifikasi kepemilikan lahan sejak awal, mengindentifikasinya dan mencegah ‘konflik’ sebelum investasi tambang itu bergerak. Kini ketika konflik mulai merebak antar warga, yang dilakukan Pemerintah adalah : Memperhadapkan proses hukum pada warga.

Mengapa Emas Menjadi Sektor Andalan?

National Geographic  edisi Januari 2009 menyebutkan, dari seluruh tumbal yang harus dibayarkan karena pengelolaan emas, justru emas lebih dominan digunakan untuk perhiasan (2,398,7 ton), sisanya untuk industri dan kedokteran gigi serta investasi retail.

Ketika Pemerintah mendorong emas menjadi penghasil PAD di Sulawesi Tenggara, maka dengan sendirinya Pemerintah mendorong beralihkan pekerja-pekerja tani ke tambang. Meninggalkan sawah atau mungkin meninggalkan laut—bila ia nelayan.

Pasca tambang ini kelak, seperti apa rupa Kabupaten Bombana dan mungkin kabupaten lain yang demam emas? Apakah generasi kedepan bisa menikmati alam yang lebih baik dan Pemerintah menunjukkan tanggungjawab untuk menyisakan kehidupan yang lebih baik?

Pengumpul di Lokasi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: