Wanggu Lestari & LSM CiDES

logo-cidesPeduli DAS Wanggu

Kerusakan sumberdaya Hutan Lindung Wolasi yang berdampak pada kecenderungan berkurangnya debit air dari waktu ke waktu sudah sejak lama dirasakan warga, upaya untuk melakukan rehabilitasi kawasan selalu terkendala oleh tak adanya wadah yang solid untuk saling berbagi peran di tingkat masyarakat. Hal itu menyebabkan kegagalan demi kegagalan warga dalam  mengembalikan fungsi kawasan tersebut.

Berhimpunnya warga dari lima desa dalam Lembaga Wanggu Lestari diharapkan bisa jadi simpul gerakan sinergis untuk membangun sumberdaya alam yang lestari sebagai penopang sistem keberlanjutan kehidupan dimasa mendatang yang sekaligus dapat menjawab persoalan kegagalan di masa lalu.

Ketergantungan warga di sekitar kawasan Hutan Lindung Wolasi menjadi titik balik munculnya kesadaran bersama untuk mengusung dan berperan aktif dalam kerja-kerja pengelolaan kawasan dengan mengedepankan kaidah konservasi. Kesadaran ini akan menjadi sangat efektif bilamana berbagai pihak mau mendukung dan mampu membangun inisiatif kemitraan untuk duduk bersama mengembangkan berbagai model gagasan terpadu.

Pada sisi ekonomi, wargapun menyadari bahwa aktivitas penebangan yang dilakukan oleh sebagian kecil warga lainnya menjadi persoalan yang cukup rumit. Disatu sisi, warga memanfaatkan hasil hutan berupa kayu sebagai satu-satunya sumber mata pencaharian dan di sisi lain kerusakan kawasan hutan terus berlanjut akibat tidak adanya alternatif sumber  mata pencaharian warga yang juga sebagai dampak dari lemahnya ketrampilan yang dimiliki warga.

Oleh karenanya aspek ekonomi menjadi bagian penting dan cukup berat dari kerja-kerja Lembaga Wanggu Lestari, karena mengalihkan kemandirian secara ekonomi bagi warga yang selama ini bergantung dengan hasil hutan kayu kepada mata pencaharian lain yang non kayu atau lainnya bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Membuka ruang-ruang dialog menjadi sesuatu yang mendasar untuk dijadikan pilihan penyelesaian persoalan ekonomi tersebut. Dengan terbukanya dialog yang intensif antara Lembaga Wanggu Lestari dan masyarakat maka diharapkan dapat membuka kesadaran serta lahirnya berbagai ide kreatif yang lebih cerdas dalam pengelolaan hutan secara berkelanjutan.

Bila dilihat secara geografis, keberadaan desa yang dikategorikan masuk dalam wilayah hulu dan hilir idealnya  mesti mendapat mandat tanggungjawab yang sama dalam hal pemanfaatan dan pengawasan kawasan yang menjadi sumber air bersih warga. Namun secara teknis jasa-jasa lingkungan dari kawasan Hutan Lindung Wolasi selayaknya perlu menjadi daya tekan untuk menjabarkan peran-peran warga yang berada dalam dua wilayah tersebut. Artinya,

Lembaga Wanggu Lestari memandang penting pembagian peran warga hulu dan hilir dalam mewujudkan aksi membalas jasa lingkungan tersebut. Bila ditinjau secara jangka panjang, maka pembagian peran-peran itu dapat lebih dikerucutkan pada sektor lainnya yang lebih luas dalam wilayah kerja lain untuk dijadikan bahan replikasi.

Wanggu Lestari merupakan sebuah lembaga yang diinisiasi oleh masyarakat di lima desa dalam kabupate Konawe Selatan. Yakni: Desa Ambaipua di Kecamatan, Amoito dan Desa Amoito Siama Kecamatan Ranomeeto, Desa Sindang Kasih dan desa Desa Jati Bali di Kecamatan Ranomeeto Barat.

Pendirian lembaga Wanggu Lestari berawal dari kegiatan riset yang dilakukan oleh LSM CiDES (Cinta Desa Lestari) di wilayah lima desa tersebut pada tahun 2007. Kerusakan sumberdaya Hutan Lindung Wolasi menjadi dasar dorongan dilakukannya riset tersebut yang dinilai sebagai penyebab pada berkurangnya debit air dari Sub DAS Wanggu secara signifikan yang selama ini dijadikan sebagai suplay air bagi persawahan dan sumber air bersih di desa hilir yakni Desa Sindang Kasih dan Desa Jati Bali dan juga tiga desa hulu lainnya, Desa Ambaipua, Desa Amoito dan Desa Amoito Siama.

Melihat kondisi ini, pada bulan Januari 2009 LSM CiDES memfasilitasi pendirian lembaga yang menyatukan kelima desa tersebut untuk membangun kerja sama antara desa hulu dan hilir terkait dengan penanganan sumberdaya hutan dan air  yang sejak tahun 2000 menunjukan persoalan serius.

Menjamin keberlanjutan sumberdaya alam sebagai penopang pembangunan manusia masa depan
(1)    Mengembangkan berbagai model pengelolaan sumberdaya alam yang lestari melalui kekuatan kultur dan kebiasaan-kebiasaan lokal
(2)    Membangun jaring kemitraan sebagai upaya peningkatan kelola sumberdaya alam yang lestari dan berkeadilan
(3)    Mendorong lahirnya berbagai gagasan yang dapat menunjang pengelolaan sumberdaya alam yang lestari dibidang ekonomi dan sosial

Lingkup Kerja
Saat ini, lembaga ini tengah menjalankan program pengembangan usaha pembibitan masyarakat yang bekerjasama dengan Balai Pegelolaa Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Sampara.

Selain itu, mereka juga bisa melakukan program-program yang sifatya berupa Pelestarian Sumberdaya Alam, Pemberdayaan Masyarakat, Pengembangan Ekonomi Mikro, Pemberdayaan Perempuan, dan Pengembangan Perkebunan dan Pertanian
Dalam acara refleksi program selama tiga bulan yang berjalan, lemabaga ini banyak megharapka keterlibatan multy stakeholder, terkait penyelamatan DAS Wanggu. Keterlibatan pemerintah kabupaten Konawe Selatan dan Kota Kendari dalam upaya ini memang akan sangat berarti.

Ini akan berhasil, jika kedua pemerintahan itu mau berkolaboratif menyelamatkan sumber mata air warga ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: