Insert Media Lingkungan, 2009-04-07

insert-media-sultra-20090407

Membangun Kota dengan Memanfaatkan Aset Wilayah

Oleh  :  Rustam
Kita sering berbicara tentang kota, karena kata itu mengandung suatu gagasan umum, tetapi ketika didesak untuk lebih spesifik, kita akan cepat dapatkan betapa kab urnya gagasan tentang kota itu. Bagi sebagian orang, kota berarti suatu kotamadya yang memiliki batas-batas yang jelas. Bagi lainnya, kota berarti kawasan pusat kota  yang disebut Central Business District (CBD), inti dari suatu kawasan metropolitan.

Dapat disimpulkan bahwa “kekotaan” adalah suatu kualitas yang menyebar keluar dari suatu pusat sampai ia bertemu dengan batas-batas luar dari pusat lain yang bersebelahan, sehingga membentuk suatu bentangan perkotaan yang menyambung. Kota mengalami kemajuan yang sangat cepat. Sebagai pusat bisnis, kota memiliki daya tarik yang sangat kuat untuk masyarakat yang ada di desa. Indonesia yang memiliki jumlah penduduk yang sangat besar di dunia, 70 persen rakyatnya  mengadu nasih di kota. Terjadinya urbaninasi ini menimbulkan persoalan bagi kota itu sendiri, misalnya sosial ekonomi, keamanan, lingkungan dan berbagai masalah yang kompoleksitas.

Menurut Marco Kusmawijaya, pakar tata kota  Indonesia, masa depan kota terletak terutama pada ekspornya. Untuk mencapai ekspor itu, modal asing dengan pengetahuan pemasaran global yang tidak terbantahkan beserta teknologi mutakhir harus diundang untuk menciptakan lapangan pekerjaan dan pendapatan yang dibutuhkan. Pemerintah kota sebaiknya mempertimbangkan suatu kebijakan alternatif yang berpusat pada pembangunan jangka panjang yang bersifat endogen (dari-dalam). Dalam memajukan pembangunan, pemkot sebaiknya dapat memanfaatkan kelompok-kelompok aset wilayah yang akan membangkitkan kekayaan sejati suatu kota-wilayah.

Marco Kusumawijaya membagi aset-aset nyata kota-wilayah menjadi tujuh kelompok yang mencakup aset manusia, sosial, budaya, intelektual, alam, lingkungan, dan perkotaan. Semua aset ini pada dasarnya ada disemua kota-wilayah, di negeri kaya maupun miskin, dengan tingkatan berbeda dan mengembangkan semua itu merupakan tugas utama pemerintah daerah.

Aset manusia kota, yaitu orang dan kualitas hidup dalam kehidupannya.  Yang menjadi pokok di sini adalah kebutuhan dasar manusia, terutama perumahan yang layak dengan hak terjamin; kesempatan pendidikan untuk anak perempuan maupun laki-laki untuk menyiapkan mereka memasuki dunia modern; dan tersedianya pelayanan kesehatan yang baik. Karena itu, tujuan setiap pembangunan sejati haruslah mencapai perumahan bermutu, pendidikan, dan kesehatan untuk setiap warga-negara haruslah.

Aset wilayah kedua adalah masyarakat warga yang terorganisasikan, ialah beragam kegiatan warga negara dalam mengelola diri. Tidak mungkin membuat daftar yang lengkap mencakup semua hal yang tidak terhitung jumlahnya yang diselenggarakan sendiri oleh masyarakat ketika ada kesempatan.

Di beberapa Negara, organisasi masyarakat warga dianggap sebagai ancaman terhadap rejim yang berkuasa. Banyak yang percaya bahwa jika organisasi-organisasi ini tidak dipantau dengan ketat, mereka berpotensi menjadi sumber masalah bagi negara. Namun sebaliknya jika pemerintah pintar maka inilah potensi yang sangat besar peranannya terhadap pembangunan. masyarakat warga yang terorganisasi seharusnya dilihat sebagai sumber kekuatan masy arakat dan sebagai suatu aset yang layak mendapat dukungan publik. Eksistensinya menunjukkan kebhinekaan selengkapnya dari suatu kota sambil memajukan kewargaan lokal. Mereka akan kompak dan bersatu membantu pemerintah dalam membangun kotanya.

Pusaka wilayah berupa lingkungan terbangun dan kekhasan serta gairah kehidupan budayanya merupakan kelompok aset ketiga. Budaya adalah rohnya masyarakat, dan bila diabaikan atau rusak tidak dipedulikan sebagaimana sering terjadi, roh itu akan meredup dan akhirnya tidak berdaya. Ada dua bagian pada kelompok aset ini: pusaka fisik dan tradisi budaya dalam kehidupan sehari-hari. Yang pertama merujuk kepada bangunan-bangunan bersejarah, lingkungan-lingkungan perkotaan yang khas, dan monumen-monumen yang mengenang peristiwa atau tokoh masa lampau.

Aset ketiga adalah budaya. Kebiasaan yang dilakukan suatu komunitas atau kelompok etnis masyarakat memiliki ikatan yang sangat kuat di dalam kehidupan mereka. Budaya tidak saja menjadi kebiasaan dan memberikan nilai sosial dan ekonomi, tetapi juga menjadi pemersatu. Hal ini sesuai motto bangsa Indonesia yaitu Bhineka Tunggal Ika yang artinya berbeba-beda tetapi tetap satu. Bagian kedua dari kelompok aset ini adalah gairah kehidupan budaya kota. Hajatan atau pesta budaya yang sudah menjadi tradisi masyarakat lokal merupakan suatu pertunjukan yang sangat dirindukan oleh banyak orang.

“Saya berpendapat bahwa lingkungan-lingkungan pusaka memiliki makna khusus dalam bentangan luas kota kontemporer. Orang mengidentifikasikan dirinya pertama-tama dengan lingkungan tempat tinggalnya sebelum dengan kota-wilayah, yang sebagian besar tidak pernah mereka kunjungi,” katanya.

Kelompok aset kota-wilayah yang keempat adalah aset kreatif dan intelektualnya, yang merupakan kualitas universitas-universitas dan lembaga-lembaga penelitian dan apa yang orang Jepang sebut sebagai “harta karun manusia yang hidup”. Mereka terdiri dari seniman dan pengrajin, cendekiawan dan ilmuwan, musisi dan penulis, penyair dan pembuat film, aktor dan penari yang mewujudkan daya kreatif suatu wilayah. Kecil dalam jumlah, namun mereka adalah intisari dari masa depan suatu wilayah dan harus diperhitungkan sebagai salah satu harta karun yang paling bagus.

Pemerintah Provinsi Sultra dan Pemkot Kendari khususnya bersyukur, memiliki Unversitas Haluleo dan sejumlah perguruan serta lembaga pendidikan lainnya. Menurut Marco, yang terbaik dari mereka adalah juga yang paling langka, dan kehilangan mereka adalah kerugian tidak terkira bagi kota. Kreativitas harus dipelihara. Ini penting untuk memungkinkan harta karun manusia ini mewujudkan bakatnya sepenuh-penuhnya.

Ilmuwan memerlukan laboratorium penelitian. Mahasiswa yang sedang mengejar gelar tinggi memerlukan universitas yang memiliki perlengkapan dan staff yang layak. Pembuat film memerlukan ruang studio dan seniman memerlukan galeri untuk menggelar karyanya sebagai mana juga studio. Aktor dan penari harus punya panggung untuk menngelar pertunjukannya. Dan mereka semua memerlukan kebebasan untuk mencipta sebagaimana dikehendakinya.

Kelompok aset kelima adalah alam, yang merupakan karunia yang meilputi; ladang-ladang pertanian, daerah tangkapan air, tepi danau dan pantai lautan, bentang alam yang indah, hutan, perikanan, yang penggunaannya sekaligus untuk produksi dan dinikmati langsung.

Aset alam mudah tersia-siakan melalui pengabaian atau eksploitasi yang sembarangan. Kawasan pinggiran atau peri-urban menetapkan batas-batas perluasan perkotaan, di mana desa dan kota saling bertemu dan terjalin dalam percah-percah guna-lahan yang gila-gilaan. Nafsu kota atas lahan sangat buas, bukan hanya untuk perumahan baru dan industri, tetapi juga untuk bandar udara, TPA, pembangkit listrik, taman impian, pusat perbelanjaan di sub-kota dan pengembangan di tepi koridor jalan (strip developments).

Apa yang dulunya adalah pemandangan yang damai terdiri dari bentangan sawah dan desa dapat dengan cepat berubah menjadi lingkungan yang tercabik-cabik yang bukan perkotaan maupun pedesaan dan kelihatan benar-benar “tidak terkendali”. Bagi kota-wilayah yang memiliki kandungan material tambang, kerusakan lingkungan adalah menjadi ancaman yang paling serius.

Terkait erat dengan karunia sumber daya alam adalah kelompok aset keenam yang disebut aset lingkungan, yang mencakup kualitas-kualitas lingkungan fisik yang penting untuk mendukung kehidupan itu sendiri, misalnya udara yang hirup, air yang kita minum, dan kemampuan lahan untuk mendukung hunian manusia berkepadatan tinggi.

Wilayah-wilayah yang baru mengalami urbanisasi seringkali merupakan pelanggar terburuk, dan justru pada tahapan awal dari apa yang sementara orang sebut sebagai “akumulasi primitif” lah terjadi pelanggaran terburuk terhadap lingkungan.

Kelompok aset ketujuh dan terakhir adalah kualitas prasarana perkotaan, yang terdiri dari semua sarana dan perlengkapan untuk angkutan, energi, komunikasi, air minum, air buangan, dan sampah padat yang biasanya memakan bagian besar dari anggaran barang modal sebuah kota.

Pemkot seharunya tidak perlu membangun jalan layan atau jalan tol karena hanya sebagian kecil atau hanya 15 persen dari jumlah penduduk di kota yang dapat menikmati fasilitas jalan itu. Pada umumnya masyarakat kelas menengah akan mobilitas melalui sistem angkutan umum, sepeda, dan jalan kaki.

Kekayaan sejati kota-kota ditemukan di dalam pembangunan progresif atas basis aset-asetnya melalui upayanya sendiri yang terpadu dan berkelanjutan. Kekayaan nyata tidaklah diukur oleh pertumbuhan produk regional, suatu statistik tunggal yang lebih banyak menyembunyikan daripada mengungkapkan hal. Jenis data keras yang berbeda diperlukan untuk menilai tingkat kekayaan suatu wilayah, ialah data yang harus dikumpulkan dari bagian demi bagian dan bahkan dari satu RT ke RT berikutnya untuk mengungkapkan variasi yang signifikan di dalam ruang. Rata-rata menyeluruh tidak banyak berguna untuk analisis kebijakan, apalagi untuk perencanaan. Tiap-tiap aset wilayah yang banyak itu harus dievaluasi secara terpisah dalam bilangan investasi yang telah ditanamkan dan hasil yang dicapainya.

Menurut Marco, membangun aset dengan cara terus menerus menanamkan modal ke dalamnya akan lebih bermanfaat untuk pembangunan perkotaan dan wilayah daripada mengundang penanaman modal dari perusahaan-perusahaan global ke dalam basis aset yang belum berkembang atau sedang merosot lebih jauh. Modal global bersifat bebas bergerak. Ia tidak berkepentingan dengan wilayah dimana ia menanamkan uangnya sejauh keuntungan maksimum terjadi. Membujuk modal global dengan menjual aset akan menghasilkan pembangunan palsu.

“Dengan memanfaatkan keseluruhan aset yang ada, maka tanpa menambang pun suatu kota-wilayah bisa maju dan masyarakatnya bisa sejahtera. Pemerintah bisa membangun berbagai infrastruktur dari keseluruhan potensi itu,” ujarnya.

Peran pemerintah dan perencanaan
Untuk berkisar dari strategi memasarkan-kota menuju ke strategi endogen yang berfokus pada pengembangan aset nyata suatu kota-wilayah diperlukan pemerintahan yang kuat dan mampu menyelenggarakan intervensi besar. Hal itu juga memerlukan kepemimpinan politik yang tercerahkan yang telah memiliki visi yang tidak diarahkan kepada suatu impian yang datang langsung dari film dan televisi Hollywood. Suatu strategi endogen akan memerlukan dukungan mayoritas penduduk kota. Dukungan jangka panjang dari mereka menentukan sukses kota tersebut.

Pasti akan ada oposisi. Pengritik akan mengejek prinsip-prinsip pembangunan endogen. Mereka akan mempertanyakan darimana datangnya uang untuk upaya demikian, bila modal asing tidak dilibatkan. Mereka akan menyebutnya operasi kencangkan-ikat pinggang (bootstrapping) yang putus-asa yang akan menjebak kota ke dalam kemiskinan abadi, suatu lubang penjerumusan yang tidak ada jalan keluarnya.

Marco menjelaskan, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membangun sebuah kota pertama, jika kota bersangkutan memiliki kelebihan yang unik untuk modal asing, maka dengan sendirinya modal asing akan datang. Perusahaan-perusahaan besar akan memilih pindah keluar negeri untuk sejumlah alasan apapun yang maksimalisasi keuntungan (dihitung dalam jangka waktu yang lebih panjang) adalah salah satu dari banyak tujuan lainnya, seperti misalnya mendapatkan pintu masuk ke dalam pasar-pasar baru.

Kedua, peningkatan kualitas aset akan dengan sendirinya merangsang penanaman modal asing. Perusahaan-perusahaan akan sangat mungkin mempertimbangkan menanam modal ke dalam suatu kota yang memiliki kebijakan progresif untuk meningkatkan prasarana ekonomi, sosial dan lingkungan. Ketiga, tabungan lokal cukup besar bahkan di dalam ekonomi yang relatif miskin selama pemerintahnya siap menerapkan displin fiskal yang ketat dan dengan keras memberantas korupsi.

Keempat, belanja barang modal yang diperlukan untuk suatu pembangunan endogen akan berjumlah lebih sedikit daripada yang dibayangkan. Memenuhi kebutuhan dasar suatu kota 80 persen akan mahal, tetapi tidak perlu terjadi sekaligus. Yang penting,  kota-wilayah bersangkutan menunjukkan kemajuan yang terus menerus tahun-demi-tahun, terutama di sektor-sektor ekonomi kebutuhan dasar—perumahan, pendidikan, kesehatan, dan mobilitas yang terjangkau—yang dapat didokumentasikan dengan baik dan dapat dilihat oleh semua orang.

Dalam merencanakan pembangunan perkotaan di wilayah-wilayah yang sedang tumbuh, hal penting yang perlu diperhatikan adalah tata-guna lahan atau lebih luasnya tata-ruang, yang mempunyai tempat di dalam semesta besar. Tetapi jenis perencanaan yang secara efektif mengena kepada ketujuh kelompok aset dari wilayah perkotaan di atas tidak dapat diletakkan hanya di bawa satu rencana tunggal. Ia memerlukan intervensi publik dalam bidang perumahan, pendidikan, pelayanan kesehatan, angkutan, sanitasi, budaya dan komunitas, dan semua lainnya dalam suatu pendekatan kepemerintahan yang utuh.

Dan pendekatan demikian hanya mungkin jika ada kesepakatan yang luas pada pemerintah setempat atas suatu visi strategis jangka panjang. Membangun konsensus lokal hanyalah suatu permulaan. Melampaui birok ras i setempat bukan saja birokrasi pemerintahan atasan serta kepentingan korporasi yang punya kekuasaan besar yang harus diajak serta, tetapi juga  eselon-eselon dalam birokrasi bawahan suatu kota, pemerintah kabupaten dan kota-kota dalam wilayah yang sama, organisasi lingkungan perkotaan dan yang berbasis komunitas yang harus diajak berkonsultasi. Sebab di sinilah pada akhirnya intervensi harus berujung.

Realistiknya, tidak semua energi dapat digerakkan dan diselaraskan  dengan proyek pembangunan ini. Namun, apa yang jelas adalah bahwa perencanaan  pembangunan berlangsung melalui komunikasi langsung, suatu dialog di antara sesama pelaku yang relevan, karena hanya sebagai suatu upaya kolaborasi lah hal itu dapat berhasil. Tidak seorang pun punya kuasa dan pengetahuan yang cukup untuk melaksanakan suatu tugas besar demikian tanpa mengajak semua orang terlibat.

“Merencana dalam makna ini sangat besar yaitu suatu proses komunikasi, yang di dalamnya rencana, peta dan dokumen formal lainnya punya peran, tetapi di mana ujaran langsung lebih penting daripada kata-kata tertulis, dan saling memahami dibentuk melalui kerjasama terus menerus. Proyek kita adalah menciptakan kekayaan melalui investasi ke dalam aset nyata suatu wilayah yang dalam jangka panjang akan mengurangi ketergantungannya kepada modal dari luar, dan membantu membuat masa depannya lebih berkelanjutan,” tuturnya. (***)

.

Menata Kota dengan Konsep Membangun Rumah

Tin Farida
Ibarat rumah tanpa desain gambar, kota  akan semrawut dan tidak jelas arah pembangunannya. Membangun rumah dengan sebuah desain gambar yang profesional akan menghasilkan bangunan yang baik dan kokoh. Orang akan melihat betapa indahnya sebuah bangunan yang dirancang sedemikian rupa. Halaman rumah yang ditumbuhi rumput dan beberapa jenis pepohonan menambah keasrian rumah.

Rumah memiliki ruang-ruang yang disebut kamar dan dapur yang dilengkapi pintu dan jendela. Seperti laiknya rumah, penataan kota juga dilakukan berdasarkan tata ruang. Dalam rancangan tata ruang harus dilakukan pemetaan wilayah agar tidak terjadi tumpang tindih pemanfaatan lahan, seperti pasar atau pusat-pusat perbelanjaan, pertokoan, perhotelan, perkantoran, terminal, ruang publik dan lain-lainnya. Pembangunan yang dilakukan dengan mengacu tata guna lahan maka kota akan tertata rapi sesuai dengan fungsi dan kegunaannya.

Kota Kendari sebagai salah satu kota-wilayah yang sedang berkembang, kini diperhadapkan pada masalah lingkungan dan sosial. Banjir, sampah dan hadrinya PKL menjadi persoalan yang sulit diatasi. Buruknya sistim drainase menyebabkan air hujan dengan cepat meluap ke jalan raya.

Kurangnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang diharapkan dapat menyerap air hujan juga menjadi salah pemicu banjir. Para pemilik ruko yang menutup semua  halamanya dengan semen beton menyebabkan tidak adanya penyerapan air hujan. Belum lagi sisa-sisa bahan bangunan yang terbawah arus ke selokan.

Kepala Kantor Kehutanan Lingkungan Hidup (KLH) kota Kendari Ir. Tin Farida mengaku, sudah berulang kali menyampaikan kepada setiap pemilik ruko maupun yang akan baru melakukan pembangunan untuk tidak menutup semua halamannya dan menanaminya dengan pepohonan. Pohon tidak saja berfungsi sebagai penyangga air hujan, tetapi juga sebagai pelindung dan menambah keasrian kota.

“Kalau kita melihat, hampir tidak ada halaman ruko yang ditanami pepohonan. Ada kesan pemilik ruko tidak suka kalau ada tanaman disitu. Sehingga terlihat gersang.  Padahal disekitar kita masih banyak tanaman yang bisa ditanam,” katanya.

Menurutnya, ke depan tidak ada lagi ruko yang menflur atau menutup semua halamannya dengan semen. Pemkot akan memperketat pemberian Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Peraturan Walikota tahun 2008 tentang pengelolaan RTH  ditegaskan bahwa setiap rumah atau ruko harus memelihara atau menanam tanaman di depan rumahnya.

“Kemudian juga ada sanksi bagi mereka yang menebang pohon pada usia muda. Mereka dibebankan biaya pengantian pohon dibeberapa tempat dan memelihara hingga tumbuh kembali,” ujarnya.

Menurut Marco, dalam menata kota Kendari, hal yang terpenting yang harus dibenahi adalah sistim drainase. Drainase yang baik akan menghindarkan kota dari genangan banjir dan sampah yang bertumpuk terbawah air. Pemkot Kendari juga harus memperhatikan RTH sebagai penyangga paru-paru kota.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: