Rubrik Wonua, 2009-03-25

wonua-kendari-pos-20090325

Dari Kami

Why We Do Care?

Kami peduli, karena kami berada di Kota Kendari. Clean and green bukan tanpa alasan. Dua aspek ini disertai prinsip-prinsip good governance dalam pengelolaan lingkungan hidup. Artinya Pemerintah dan kita memiliki tanggungjawab yang sama untuk menciptakan kota yang bersih dari sampah, sedimen, gulma dan sejenisnya. Bersih itu meliputi fasilitas umum, perumahan, pantai dan perairan terbuka. Bebas sampah lalu diikuti dengan sikap kreatif untuk 4 R untuk pengelolaan sampah (Reduce, Reuse, Recycle, Replant).  Green sendiri berarti hijau atau teduh. Pemerintah berkewajiban menetapkan ruang terbuka hijau yang akan menjadi paru-paru kota. Tapi RTH ini akan sia-sia bila tak ada yang keikutsertaan warga untuk berpartisipasi memonitoring maupun menjaga keindahannya. Kami memiliki keyakinan bila seluruh aspek membangun kota mendapat dukungan dari warga maka daya saing nilai wilayah Kota Kendari akan meningkat lebih baik dari kota-kota lainnya.
salam
Editor

Membangun Aset Kota Sesuai Karakteristiknya

Kekayaan Kota: Menuju Pembangunan Berdasarkan Aset di Wilayah-wilayah yang Baru Mengalami Urbanisasi
Oleh: Prof. John Friedman (Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh: Marco Kusumawijaya)

Dalam salah satu bukunya, urbanis Canada asal Amerika yang belum lama wafat, Jane Jacobs, seorang aikon nasional, menceritakan kisah sebuah desa bernama Napizaro yang terletak beberapa ratus mil di sebelah barat-laut Mexico City. Keluarga-keluarga di sana telah turun-temurun hidup atas dasar pertanian subsistens dengan tambahan sedikit tanaman perdagangan. Hidup mereka, tulis Jacobs, tidak terbayangkan suramnya. Tetapi, beberapa generasi yang lalu, satu faktor baru masuk ke dalam kehidupan mereka: tarikan adanya lapangan kerja di Amerika Serikat. Setelah bertahun-tahun, Napizaro akhirnya menjadi tergantung pada lapangan kerja itu untuk kesejahteraannya sekarang. Komunitas itu kini punya lampu jalan, rumah sakit, dan lapangan baru untuk menyabung kerbau yang diberi nama North Hollywood untuk mengenang daerah industri di kota Los Angeles, sumber kesejahteraan tersebut. Umumnya sekarang 1200 penduduk desa itu hidup nyaman dalam rumah berdinding tembok dengan patio yang cantik dan antena TV.

Tetapi apa yang Anda lihat di Napizaro tidaklah sepenting apa yang Anda tidak lihat. Pada tiap saat, lebih dari tiga-perempat dari kaum laki-laki berada di luar desa, bekerja di North Hollywood. Demi semua kelengkapannya, Napizaro digambarkan sebagai suatu permukiman yang menyedihkan, dengan perpisahan yang disesalkan dan ketidak-hadiran yang lama, dan kaum perempuan hidup merana kesepian. Jacobs menutup ceritanya dengan pengamatan berikut:

Setelah empat puluh tahun menerima kiriman-uang,….kiriman-uang yang digunakan dengan bertanggung-jawab, hemat dan secara koperasi, kenyataannya adalah bahwa apabila kiriman-uang itu berhenti, Napizaro akan dengan cepat kembali kepada kemiskinan suram seperti sebelum ada migrasi dan kiriman-uang. Atau, mungkin sekali penduduknya terpaksa sekosongnya meninggalkan desa itu. Sebab, meskipun ada kiriman uang dari Los Angeles dan televisi serta barang-barang impor lain yang dibelinya, kehidupan ekonomi di wilayah tersebut—cara mendapatkan penghasilan di tempat itu—tetap tidak berubah.

Saya ingin mengangkat cerita ini, yang bagi saya terbaca seperti suatu perumpamaan, sebagai tema pembahasan saya. Hanya saja, saya tidak akan berbicara tentang desa-desa miskin di bagian-bagian terpencil dunia ini, tetapi tentang kota-kota dan wilayah sekitarnya di dalam negeri-negeri yang sedang mengalami urbanisasi cepat di belahan dunia Selatan. Argumen saya ada empat bagian. Pertama, kita tidak bisa lagi memperlakukan kota-kota terlepas dari wilayah-wilayah di sekitarnya yang bersama-sama telah saling terjalin erat. Kedua, saya bermaksud dengan kritis memeriksa konsensus kebijakan yang berlaku sekarang bahwa masa depan kota terletak terutama pada ekspornya, dan bahwa untuk mencapai ekspor itu, modal asing dengan pengetahuan pemasaran global yang tidak terbantahkan beserta teknologi mutakhir harus dundang untuk menciptakan lapangan pekerjaan dan pendapatan yang dibutuhkan. Ketiga, saya ingin mempertimbangkan suatu kebijakan alternatif yang berpusat pada pembangunan jangka panjang yang bersifat endogen (“dari-dalam”) dari tujuh kelompok aset wilayah yang akan membangkitkan kekayaan sejati suatu kota-wilayah. Terakhir, saya akan membuat beberapa catatan tentang peran pemerintah dalam memajukan pembangunan demikian.

Kota di dalam wilayah: Suatu hubungan organik

Kita sering berbicara tentang kota, karena kata itu mengandung suatu gagasan umum, tetapi ketika didesak untuk lebih spesifik, kita akan cepat dapatkan betapa kaburnya gagasan tentang kota itu. Bagi sebagian orang kota berarti suatu kotamadya yang memiliki batas-batas yang jelas. Bagi lainnya, kota berarti kawasan pusat kota (Central Business District, CBD), inti dari suatu kawasan metropolitan. Dan, bagaimana dengan kawasan sub-kota (suburbs), bahkan ketika mereka merupakan unit-unit dengan kepemerintahannya sendiri? Apakah mereka juga merupakan bagian dari yang kita sebut kota? Dan, jika demikian, mengapa bandar udara yang membawa nama kota pusat sering terletak di luar batas-batas sub-kota di kawasan pinggiran perkotaan? Dan, sesungguhnya di mana kota berakhir dan desa mulai? Yang terakhir ini merupakan pertanyaan yang hampir tidak mungkin dijawab dengan tepat, karena “kekotaan” adalah suatu kualitas yang menyebar keluar dari suatu pusat sampai ia bertemu dengan batas-batas luar dari pusat lain yang bersebelahan, sehingga membentuk suatu bentangan perkotaan yang menyambung.

Di masa lalu, kota dikelilingi tembok yang menandai batasnya, tetapi tembok ini telah lama lenyap, dan ruang fisik kota telah tumpah ke luar ke dalam wilayah pedesaan tanpa tanda-tanda batas yang jelas. Pasokan air perkotaan diperoleh dari daerah tangkapan air wilayah yang niscaya membuat kota itu mungkin. Saya telah menyebut bandar udara yang terletak jauh dari pusat tetapi nyata terlihat dihubungkan dengannya oleh jalur transit atau jalan tol. Beberapa dari bandar udara ini telah menarik investasi multinasional utama, membentuk apa yang disebut edge cities di atas lahan-lahan hijau. Pasokan makanan untuk kota makin banyak yang dihasilkan di wilayah sekitar dan diangkut ke pusat-pusat distribusi di dalam berbagai lokasi metropolitan. Pada akhir pekan, massa manusia keluar dari pusat kota dan sub-kota ke pinggiran regional, berharap menikmati beberapa saat santai di tempat peristirahatan pegunungan, taman-taman regional, dan di pantai-pantai.

Semua itu kita tahu dari pengamatan peribadi. Hubungan organik antara kota dan wilayah bukanlah hal baru. Tetapi kita jarang memikirkannya sebagai suatu kesatuan, terutama ketika wilayah itu sendiri terbagi-bagi menjadi kabupaten, kotamadya, atau kota administratif. Para ahli di Eropa dan Amerika Utara telah banyak menulis tentang tumbuhnya keperluan akan kepemerintahan regional, tetapi hanya sedikit hasilnya. Kota dan wilayahnya tetap terbagi-bagi dan sering bersaing satu sama lain untuk mendapatkan modal global. Pengecualian yang jelas adalah China, di mana kota-kota provinsi telah ditunjuk sebagai kota-kota “pembina” dengan kewenangan atas kabupaten-kabupaten “pedesaan” di sekitarnya, sehingga menjadi bertanggung-jawab atas pembangunan yang terkoordinasi. Kebanyakan penduduk China sekarang tinggal di dalam kota-wilayah demikian. Oleh sebab itu, dalam pembahasan saya selanjutnya hubungan organik inilah yang ada dalam benak saya ketika saya bicara tentang kota dan wilayah. Kota-wilayah adalah ungkapan simbolik untuk hubungan tersebut.

Peran pemerintah dan perencanaan

Kini saya berpaling kepada topik terakhir saya, yaitu peran pemerintah dan cara terbaik merencanakan suatu pembangunan endogen, pembangunan dari dalam. Untuk berkisar dari strategi memasarkan-kota menuju ke strategi endogen yang berfokus pada pengembangan aset nyata suatu kota-wilayah diperlukan pemerintahan yang kuat yang mampu menyelenggarakan intervensi besar. Hal itu juga memerlukan kepemimpinan politik yang tercerahkan yang telah memiliki visi yang tidak diarahkan kepada suatu impian yang datang langsung dari film dan televisi Hollywood. Akhirnya, suatu strategi endogen akan memerlukan dukungan mayoritas penduduk kota. Dukungan jangka panjang mereka menentukan sukses kota tersebut.

Pasti akan ada oposisi. Pengritik akan mengejek prinsip-prinsip pembangunan endogen. Mereka akan mempertanyakan darimana datangnya uang untuk upaya demikian, bila modal asing tidak dilibatkan. Mereka akan menyebutnya operasi kencangkan-ikat pinggang (bootstrapping) yang putus-asa yang akan menjebak kota ke dalam kemiskinan abadi, suatu lubang penjerumusan yang tidak ada jalan keluarnya. Kritik demikian, menurut hemat saya, gagal memahami keseluruhan cerita. Pertama, saya tidak maksudkan pembangunan endogen sebagai suatu strategi ekslusif. Jika kota bersangkutan memiliki kelebihan yang unik untuk modal asing, modal asing akan datang. Tidak juga modal akan menghilang dalam semalam, dan perusahaan-perusahaan akan memilih pindah keluar negeri untuk sejumlah alasan apapun yang maksimalisasi keuntungan (dihitung dalam jangka waktu yang lebih panjang) adalah salah satu dari banyak tujuan lainnya, seperti misalnya mendapatkan pintu masuk ke dalam pasar-pasar baru. Kedua, peningkatan kualitas aset akan dengan sendirinya merangsang penanaman modal asing yang mungkin akan ragu menempatkan pabriknya di kota seperti Lagos, Nigeria, dengan keadaan kehidupan sehari-harinya yang mengguncang, tetapi akan sangat mungkin mempertimbangkan menanam modal ke dalam suatu kota yang memiliki kebijakan progresif untuk meningkatkan prasarana economi, sosial dan lingkungan. Ketiga, tabungan lokal dapat cukup besar bahkan di dalam ekonomi yang relatif miskin selama pemerintahnya siap menerapkan displin fiskal yang ketat dan dengan keras memberantas korupsi. Keempat, belanja barang modal yang diperlukan untuk suatu pembangunan endogen akan berjumlah lebih sedikit daripada yang dibayangkan. Memenuhi kebutuhan dasar suatu kota 80 persen akan mahal, tetapi tidak perlu terjadi sekaligus. Yang penting,  kota-wilayah bersangkutan menunjukkan kemajuan yang terus menerus tahun-demi-tahun, terutama di sektor-sektor ekonomi kebutuhan dasar—perumahan, pendidikan, kesehatan, dan mobilitas yang terjangkau—yang dapat didokumentasikan dengan baik dan dapat dilihat oleh semua orang. Beberapa aset, misalnya basis aset alam dari wilayah itu, atau pusaka fisik dan gairah budaya, memerlukan dukungan untuk, dan pengakuan akan, budaya populer sebagaimana juga perencanaan dan perancangan yang bagus, tetapi memerlukan belanja publik yang relatif rendah. Kelima, prioritas untuk investasi publik harus ditegakkan. Pembangunan perkotaan dan kewilayahan bukanlah proses mulus menuju keadaan keseimbangan khayalan. Alih-alih, sebagaimana diajarkan oleh Albert Hirschman di waktu yang lampau, pembangunan itu akan membawa guncangan-guncangan dari ketidak-seimbangan ke ketidak-seimbangan, karena titik-titik tekanan berbeda terkena, mendorong penyesuaian dalam kebijakan dan alokasi anggaran.

Sebagai penutup, saya hendak membuat sedikit catatan menyangkut perencanaan pembangunan perkotaan di wilayah-wilayah yang sedang tumbuh. Tata-guna lahan atau lebih luasnya tata-ruang punya tempatnya di dalam semesta besar. Tetapi jenis perencanaan yang secara efektif mengena kepada ketujuh kelompok aset dari wilayah perkotaan di atas tidak dapat diletakkan hanya dibawa satu rencana tunggal. Ia memerlukan intervensi publik dalam bidang perumahan, pendidikan, pelayanan kesehatan, angkutan, sanitasi, budaya dan komunitas, dan semua lainnya dalam suatu “pendekatan kepemerintahan yang utuh.” Dan pendekatan demikian hanya mungkin jika ada kesepakatan yang luas pada pemerintah setempat atas suatu visi strategis jangka panjang. Membangun konsensus lokal hanyalah suatu permulaan, bagaimanapun juga. Melampaui birokrasi setempat terdapat bukan saja birokrasi pemerintahan atasan serta kepentingan korporasi yang punya kekuasaan besar yang harus diajak serta, tetapi juga  eselon-eselon dalam birokrasi bawahan suatu kota, pemerintah kabupaten dan kota-kota dalam wilayah yang sama, organisasi lingkungan perkotaan dan yang berbasis komunitas yang harus diajak berkonsultasi, sebab di sinilah pada akhirnya intervensi harus berujung. Realistiknya, tidak semua energi dapat digerakkan dan diselaraskan  dengan proyek pembangunan ini. Namun, apa yang jelas adalah bahwa perencanaan  pembangunan berlangsung melalui komunikasi langsung, suatu dialog di antara sesama pelaku yang relevan, karena hanya sebagai suatu upaya kolaborasi lah hal itu dapat berhasil. Tidak seorang pun punya kuasa dan pengetahuan yang cukup untuk melaksanakan suatu tugas besar demikian tanpa mengajak semua orang terlibat.

Meletakkan masalah dalam cara demikian membawa kita kepada suatu tantangan baru bagi para perencana, yaitu menguasai seni mendengarkan kebhinekaan pandangan. Dalam suatu upaya memahami sudut-pandang dan cara berpikir mereka yang berbeda-beda, terutama ketika mereka bertentangan dengan kita punya. Menulis tentang Johannesburg, Philip Harrison dengan bagus menggambarkannya:

Para perencana dan pejabat pemerintah kota telah mengungkapkan kapasitas besar untuk terlibat langsung….dengan cara berpikir dunia korporasi. Bagaimanapun, mereka telah berjuang berurusan dengan jaringan yang sangat tersembunyi dari aturan-aturan informal, cara berpikir dan keinginan-keinginan yang menstrukturkan kehidupan warga biasa di dalam kota ini. Namun, sejumlah bukti yang makin banyak menunjukkan bahwa rencana dan kebijakan yang mampu terlibat dengan jaringan tersembunyi ini….adalah yang paling mungkin menghasilkan dampak positif pada kehidupan warga kota.

Merencana dalam makna ini sangat besar berarti suatu proses komunikasi, yang di dalamnya rencana, peta dan dokumen formal lainnya punya peran, tetapi di mana ujaran langsung lebih penting daripada kata-kata tertulis, dan saling memahami dibentuk melalui kerjasama terus menerus. Proyek kita adalah menciptakan kekayaan melalui investasi ke dalam aset nyata suatu wilayah yang, dalam jangka panjang, akan mengurangi ketergantungannya kepada modal dari luar, dan membantu membuat masa depannya lebih berkelanjutan.

Kota berkelanjutan adalah mimpi yang mungkin. Itu berarti menerima fakta bahwa kota-kota harus mengakar di dalam lingkungannya, yang padanya masa depan kota-kota itu tergantung. Itu berarti melibatkan warga setempat dalam upaya bersama dengan memberi mereka hak atas masyarakat yang di dalamnya mereka menjadi bagian. Itu berarti berhubungan dengan kota-kota lain, wilayah-wilayah lain dan memperkuat jariangan yang sedang terbentuk. Di atas segalanya, itu berarti percaya pada kemampuan Anda sendiri dalam membentuk masa depan yang ada.Terima kasih banyak.

Kekayaan sejati: Kualitas aset-aset nyata kota

Saya membagi aset-aset nyata kota-wilayah menjadi tujuh kelompok yang mencakup aset manusia, sosial, budaya, intelektual, alam, lingkungan, dan perkotaan. Semua aset ini pada dasarnya ada di semua kota-wilayah, di negeri kaya maupun miskin, dengan tingkatan berbeda, dan mengembangkan semua itu merupakan tugas utama pemerintah daerah.

Kelompok aset yang berada pada urutan paling atas adalah aset manusia kota, ialah orang dan kualitas hidup dan kehidupannya.  Yang menjadi pokok di sini adalah kebutuhan dasar manusia, terutama perumahan yang layak dengan hak terjamin; kesempatan pendidikan untuk anak perempuan maupun laki-laki untuk menyiapkan mereka memasuki dunia modern; dan tersedianya pelayanan kesehatan yang baik. (Ada kebutuhan dasar ke empat yang akan saya bicarakan nanti). Kepuasan atas kebutuhan material yang nyata ini membentuk fondasi bagi hak kita yang paling fundamental, ialah hak hidup. Karena itu, tujuan setiap pembangunan sejati haruslah mencapai perumahan bermutu, pendidikan, dan kesehatan untuk setiap warga-negara haruslah. Pada akhirnya, ini adalah tanggung-jawab negara. Membiarkan pemenuhannya oleh operasi buta daya-daya pasar hanya akan menciptakan ketidakadilan yang biadab, membiarkan sedikit orang yang sudah memiliki fondasi dalam bentuk aset dasar untuk mengejar kehidupan manusia yang berkembang sambil meminggirkan mayoritas yang kekurangan fondasi untuk hak azasi manusia yang paling berharga tersebut.

Aset wilayah kedua adalah masyarakat warga yang terorganisasikan, ialah beragam kegiatan warga negara dalam mengelola diri. Tidak mungkin membuat daftar yang lengkap mencakup semua hal yang tidak terhitung jumlahnya yang diselenggarakan sendiri oleh masyarakat ketika ada kesempatan. Ada gereja, mesjid, candi, pura setempat yang didukung dan menarik kaum yang percaya. Di beberapa negara, seperti China misalnya, ada perkumpulan-perkumpulan berdasarkan marga dan garis-keturunan yang menghubungkan generasi masa kini dengan generasi yang lalu. Bagi kaum muda, ada perkumpulan atletik yang memajukan setiap jenis olahraga, sementara yang lain melibatkan diri dalam tari dan musik. Di Spanyol, saya menemukan klub gastronomi yang anggota-anggotanya senang memasak untuk sesama anggota, merayakan kebersamaan melalui makanan dan anggur. Yang lainnya bergabung dengan klub-klub yang memajukan bermacam proyek di seluruh kota mulai dari pengindahan lingkungan hingga mengunjungi rumah jompo. Hobi yang bekisar mulai dari merangkai bunga hingga mengumpulkan burung-burung dan serangga bernyanyi akan akhirnya mengumpulkan para peminat. Di beberapa negara barat, seperti misalnya Canada, juga ada perkumpulan-perkumpulan, beberapa darinya kuat, beberapa lagi tidak, yang aktif dalam politik, berupaya mempengaruhi pmerintah atas nama berbagai gerakan. Dan seterusnya.

Tetapi, kita mungkin bertanya, bagaimana caranya bentuk-bentuk perkumpulan dalam kehidupan bersama ini dapat dipelihara sebagai aset, terutama pada tingkat lokal? Di beberapa negeri, negara menganggap organisasi masyarakat warga sebagai ancaman terhadap rejim yang berkuasa. Banyak yang percaya bahwa jika organisasi-organisasi ini tidak dipantau dengan ketat, mereka berpotensi menjadi sumber masalah bagi negara. Jawabannya adalah bahwa masyarakat warga yang terorganisasi pada umumnya sangat dalam terlibat dalam kehidupan sehari-hari lingkungan dan komunitasnya. Tim sepakbola atau bola basket dari berbagai belahan kota-wilayah bermain berlawanan satu terhadap yang lainnya dan dirayakan sebagai pahlawan setempat. Perkumpulan keagamaan yang menyelenggarakan festival menghormati orang suci setempat, membangkitkan rasa memiliki yang kuat dan juga mendukung kegiatan sukarelawan di dalam komunitas. Perkumpulan perumahan membantu orang mendapatkan rumah. Balai warga membantu menerima pendatang baru ke dalam arus-utama kehidupan perkotaan. Kelompok-kelompok penekan menuntut perhatian pemerintah atas keperdulian mereka, mendesak keluarnya peraturan baru. Klub-klub kaum muda menolong orang muda, yang kalau tidak mungkin saja hilang di dalam kehidupan jalanan, menemukan dukungan di antara sebaya. Dan dengan demikian, jauh dari mendorong terjadinya kekacauan yang  menakutkan, masyarakat warga yang terorganisasi seharusnya dilihat sebagai sumber kekuatan masyarakat dan sebagai suatu aset yang layak mendapat dukungan publik. Eksistensinya menunjukkan kebhinekaan selengkapnya dari suatu kota sambil memajukan kewargaan lokal.

Pusaka wilayah berupa lingkungan terbangun dan kekhasan serta gairah kehidupan budayanya merupakan kelompok aset ketiga. Budaya adalah rohnya masyarakat, dan bila diabaikan atau rusak tidak dipedulikan, sebagaimana sering terjadi, roh itu akan meredup dan akhirnya tidak berdaya. Ada dua bagian pada kelompok aset ini: pusaka fisik dan tradisi budaya dalam kehidupan sehari-hari. Yang pertama merujuk kepada bangunan-bangunan bersejarah, lingkungan-lingkungan perkotaan yang khas, dan monumen-monumen yang mengenang peristiwa atau tokoh masa lampau. Ketika kita menimbang nilai-nilai pusaka, satu pertanyaan muncul tentang peran kenangan dalam pembangunan.  Bagi saya nampaknya salah satu sebab kita sangat menghargai tingalan-tinggalan dari masa lampau adalah bahwa, jika kita tidak demikian, bagaimana kita bisa menghargai masa depan, yang sendirinya akan segera masuk ke dalam sejarah? Kontinuitas ini penting bagi kita sebagai manusia. Ia juga penting dalam membangun rasa tempatan (sense of place).

Saya berpendapat bahwa lingkungan-lingkungan pusaka memiliki makna khusus dalam bentangan luas kota kontemporer. Orang mengidentifikasikan dirinya pertama-tama dengan lingkungan tempat tinggalnya sebelum dengan kota-wilayah, yang sebagian besar tidak pernah mereka kunjungi. Kebanyakan dari kita menjalani hidup secara cukup lokal, bukan universal, dan kita mencintai ruang-ruang kecil di dalam kota, pasar rakyatnya, lingkungan sekitar pura, warung, kafe yang menjadi tempat-tempat bertemu, dan bahkan seluruh daerah seperti Gion di Kyoto berpusat pada puranya yang terkenal. Di Vancouver, mungkin ruang khalayak yang paling populer adalah Granville Island, suatu adaptasi yang luar biasa dari suatu ruang bekas industri tua menjadi pasar rakyat yang menarik ribuan pembelanja lokal dan turis setiap hari. Pada sisi lain Pasifik, di Provinsi Fujian di bagian selatan China, kota Zhangzhou adalah contoh lain dari suatu kota yang menghargai pusaka fisiknya, khususnya yang disebut blok bersejarah dengan pelengkung-pelengkung peringatan yang dengan hati-hati dilestarikan serasi dengan lingkungan sekitarnya.

Bagian kedua dari kelompok aset ini adalah gairah kehidupan budaya kota. Di sini saya membayangkan tradisi populer di mana masyarakat dari berbagai tingkatan dan umur berperan serta, yang datang kembali setiap tahun, dan yang selalu kita nantikan dengan senang. Ini mencakup peristiwa pesta yang menandai berlalunya musim, seperti misalnya Hari São João di Salvador, Bahia, di Brazil, dengan kebiasaan kuno berupa persembahan bunga kepada dewi para nelayan, Iemanja, dan balon kertas ajaib yang membawa cahaya berkelap-kelip di langit malam yang gelap. Atau, festival tiga-hari di Tudela, sebuah kota kecil di Spanyol utara, dengan tarian-tarian di alun-alun kota, makan pagi bersama pada meja yang digelar di jalan-jalan, dan prosesi keagaaman, dengan membawa gambar Perawan Maria mengelilingi lingkungan di kotanya. Atau, merayakan Dia de los Santos di barrio di Mexico.

Semua pesta-pesta populer ini muncul, sebagaimana adanya, secara spontan, tahun demi tahun. Sebagai tradisi lokal, mereka sekaligus merupakan peristiwa populer dan kemasyarakatan yang membangun ikatan solidaritas di tengah masyarakat sambil memberikan identitas kepada suatu tempat. Kekuatan suatu wilayah, menurut hemat saya, adalah orangnya dan cara hidup mereka.

Kelompok aset kota-wilayah yang keempat adalah aset kreatif dan intelektualnya, yang merupakan kualitas universitas-universitas dan lembaga-lembaga penelitian dan apa yang orang Jepang sebut sebagai “harta karun manusia yang hidup” mereka, seniman dan pengrajin, cendekiawan dan ilmuwan, musisi dan penulis, penyair dan pembuat film, aktor dan penari yang mewujudkan daya kreatif suatu wilayah. Kecil dalam jumlah, namun mereka adalah intisari dari masa depan suatu wilayah dan harus diperhitungkan sebagai salah satu harta karun yang paling bagus. Yang terbaik dari mereka adalah juga yang paling langka, dan kehilangan mereka adalah kerugian tidak terkira bagi kota. Kreativitas harus dipelihara. Ini penting untuk memungkinkan harta karun manusia ini mewujudkan bakatnya sepenuh-penuhnya. Ilmuwan memerlukan laboratorium penelitian. Mahasiswa yang sedang mengejar gelar tinggi memerlukan universitas yang memiliki perlengkapan dan staff yang layak. Pembuat film memerlukan ruang studio dan seniman memerlukan galeri untuk menggelar karyanya sebagai mana juga studio. Aktor dan penari harus punya panggung untuk menngelar pertunjukannya. Dan mereka semua memerlukan kebebasan untuk mencipta sebagaimana dikehendakinya.

Kini ada banyak pembicaraan tentang apa yang disebut kelas kreatif yang harus dimajukan oleh kota-kota. Argumen saya berbeda. Kreativitas tidak dapat diperintah, tetapi karya kreatif memerlukan dukungan publik. Pasar sendiri tidak akan mencukupi. Gagasan baru dan penciptaan artistik seringkali tidak populer, dan semua pencipta cenderung bergerak mengikuti irama yang berbeda dari yang diikuti orang biasa. Kehadiran elit budaya dan cendekiawan menjamin kemampuan suatu kota untuk ber-inovasi. Kontak-kontak profesional menjangkau kota-kota lain di seluruh dunia, dan dari pertukaran-pertukaran ini terjadilah cara pandang dan berpikir yang berbeda yang memperkaya semangat dan daya hidup kota. Para elit inilah yang merupakan sumber utama pemikiran kritis yang menentukan pemetaan masa depan kota.

Kini saya beralih ke kelompok kelima yang terdiri dari aset alam kota-wilayah. Yang saya maksud adalah karunia sumber daya alamnya: ladang-ladang pertanian, daerah tangkapan air, tepi danau dan pantai lautan, bentang alam yang indah, hutan, perikanan, yang penggunaannya sekaligus untuk produksi dan dinikmati langsung. Sebagaimana kita ketahui, aset alam mudah tersia-siakan melalui pengabaian atau eksploitasi yang sembarangan. Kawasan pinggiran atau peri-urban menetapkan batas-batas perluasan perkotaan, di mana desa dan kota saling bertemu dan terjalin dalam percah-percah guna-lahan yang gila-gilaan. Nafsu kota atas lahan sangat buas, bukan hanya untuk perumahan baru dan industri, tetapi juga untuk bandar udara, TPA, pembangkit listrik, taman impian, pusat perbelanjaan di sub-kota dan pengembangan di tepi koridor jalan (strip developments). Apa yang dulunya adalah pemandangan yang damai terdiri dari bentangan sawah dan desa dapat dengan cepat berubah menjadi lingkungan yang tercabik-cabik yang bukan perkotaan maupun pedesaan dan kelihatan benar-benar “tidak terkendali”. Namun tokh, kota tergantung kepada karunia sumber daya alam yang akan terus meningkatkan kualitas hidupnya selama perluasan keluarnya dibatasi dan ada perencanaan yang tepat menjaga keragaman yang kaya dari tata-guna lahan wilayah sehingga menjamin pembangunan yang harmonis dari fungsi-fungsi majemuknya yang seringkali bertentangan satu sama lain. Kota dan wilayah tegak dalam hubungan simbiosis, dan selama hubungan ini dipahami dan diperlihara dengan hati-hati, keduanya akan saling memajukan. Tetapi, bilamana hal tersebut tidak terjadi, perluasan kota yang tak terkendali akan tidak saja mengancam merusak karunia alam wilayah tersebut, tetapi juga membangkitkan biaya ekonomi, sosial dan lingkungan yang akhirnya meniadakan pembangunan itu sendiri.

Terkait erat dengan karunia sumber daya alam adalah kelompok aset keenam yang kita sebut aset lingkungan, yang mencakup kualitas-kualitas lingkungan fisik yang penting untuk mendukung kehidupan itu sendiri, seperti misalnya udara yang kita hirup, air yang kita minum, dan kemampuan lahan untuk mendukung hunian manusia berkepadatan tinggi. Saya akan membahas ini sedikit saja, karena sudah banyak sekali yang ditulis. Tetapi, kecuali kalau kita memberlakukan apa yang oleh banyak orang dianggap aturan-aturan drakonian, kita akhirnya akan tenggelam dan punah di dalam tumpukan sampah kita sendiri. Sayangnya, pesan tersebut belum masuk cukup dalam secukup yang diperlukan, dan basa-basi terhadap lingkungan lebih banyak beredar ketimbang penegakkan secara keras standar-standar yang kita tahu harus diterapkan. Wilayah-wilayah yang baru mengalami urbanisasi seringkali merupakan pelanggar terburuk, dan justru pada tahapan awal dari apa yang sementara orang sebut sebagai “akumulasi primitif” lah terjadi pelanggaran terburuk terhadap lingkungan.

Kelompok aset ketujuh dan terakhir adalah kualitas prasarana perkotaan, yang terdiri dari semua sarana dan perlengkapan untuk angkutan, energi, komunikasi, air minum, air buangan, dan sampah padat yang biasanya memakan bagian besar dari anggaran barang modal sebuah kota. Tidak ada hal baru pada prasarana perkotaan sebagai aset. Pertanyaannya lebih pada tujuan dan kelompok sosial apa yang mau dilayani oleh pekerjaan umum demikian. Coba pertimbangkan masalah jalan kota. Tentu saja mereka diperlukan, tetapi apakah mereka diperlukan untuk bus dan wahana pergerakan publik lainnya atau untuk mewadahi mobil-mobil pribadi yang terus bertambah itu? Singkatnya, apakah mereka diperlukan untuk melayani kepentingan 15 persen penduduk yang merupakan kelas menengah yang sedang tumbuh atau kebutuhan mayoritas sejumlah besar orang biasa akan mobilitas melalui sistem angkutan umum, sepeda, dan jalan kaki? Angkutan yang terjangkau, yang sering terbukti juga berkelanjutan secara ekologis, adalah kebutuhan pokok warga yang hidup dengan pendapatan terbatas; jalan raya enam lajur dan jembatan semangi yang rumit bergaya Los-Angeles seringkali hanya berguna sedikit bagi mereka.

Pentingnya kebutuhan orang biasa akan mobilitas yang terjangkau jelas ditunjukkan oleh penyusunan anggaran secara partisipatif di Porto Alegre pada tahun 1990, di mana pelapisan jalan dan pelayanan bus di kawasan-kawasan pinggiran kota diberi prioritas tinggi oleh kebanyakan rukun warga. Begitu juga proyek-proyek prasarana lainnya: apakah membangun kota sebagai solusi 15 atau 80 persen? Godaannya adalah untuk menuju kepada yang 15 persen itu, karena—begitulah argumennya—mereka adalah kelas menengah berpendidikan yang lebih sejahtera, yang menjamin kemajuan ekonomi terus menerus. Dan jika kelas menengah lebih suka mobil dan kemudahan hidup lainnya, jadilah; kebutuhan orang biasa selalu dapat ditunda, terkadang selama beberapa generasi. Tetapi, strategi demikian menghasilkan kota berkutup-dua, terdiri dari istana-istana berbenteng kaum kaya raya dan permukiman kumuh yang padat tempat penduduk lainnya terpenjara, dengan kebutuhannya akan perumahan, pendidikan, kesehatan, dan mobilitas terjangkau diacuhkan.

Untuk para hadirin disini, saya memang tidak perlu lebih tersurat; statistik tentang kota dualistik itu sudah cukup kita ketahui bersama. Apa yang diperlukan dalam jangka panjang adalah kota 80 persen itu. Tetapi bagaimana kota demikian dapat dicapai di dalam wilayah-wilayah yang baru mengalami urbanisasi?

Kekayaan sejati kota-kota ditemukan di dalam pembangunan progresif atas basis aset-asetnya melalui upayanya sendri yang terpadu dan berkelanjutan. Kekayaan nyata tidaklah diukur oleh pertumbuhan produk regional, suatu statistik tunggal yang lebih banyak menyembunyikan daripada mengungkapkan hal. Jenis data keras yang berbeda diperlukan untuk menilai tingkat kekayaan suatu wilayah, ialah data yang harus dikumpulkan dari bagian demi bagian dan bahkan dari satu RT ke RT berikutnya untuk mengungkapkan variasi yang signifikan di dalam ruang. Rata-rata menyeluruh tidak banyak berguna untuk analisis kebijakan, apalagi untuk perencanaan. Tiap-tiap aset wilayah yang banyak itu harus dievaluasi secara terpisah dalam bilangan investasi yang telah ditanamkan dan hasil yang dicapainya. Peta-peta yang menunjukkan ukuran hasil dapat dibuat dan disebarkan ke dalam kalangan masyarakat luas untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif atas situasi yang ada, hasil-hasil yang diperoleh selama masa berlaku perencanaan yang lalu, hal-hal yang belum tercapai, dan solusi yang disarankan. Menciptakan dialog publik untuk berbagi informasi seperti ini akan menciptakan dasar untuk perencanaan berikutnya.

Menurut hemat saya membangun aset dengan cara terus menerus menanamkan modal ke dalamnya akan lebih bermanfaat untuk pembangunan perkotaan dan wilayah daripada mengundang penanaman modal dari perusahaan-perusahaan global ke dalam basis aset yang belum berkembang atau sedang merosot lebih jauh. Modal global bersifat bebas bergerak. Ia tidak berkepentingan dengan wilayah dimana ia menanamkan uangnya sejauh keuntungan maksimum terjadi. Membujuk modal global dengan menjual asset akan menghasilkan pembangunan palsu. Hal itu membentuk situasi yang menjebak pemerintah-pemerintah kota yang secara bersemangat saling bersaing hingga mendorong penurunan upah global sambil mengarah langsung kepada kota 15 persen dengan semua persoalan bawaannya.


Kota bukan bejana kosong

Bersaing atau punah, demikian kata para pandita neo-liberal. Persaingan itu tentu saja dimaksudkan bukan untuk menarik konsumen, melainkan untuk investor dari luar. Ilusi yang telah diterima luas adalah bahwa modal—sebut saja kelebihan uang—terus menerus mencari peluang untuk menumbuhkan makin banyak modal, dan akan pergi kemana saja terdapat masa depan yang paling menjanjikan untuk menanam modal. Modal global itu tidak berakar (footloose), katanya. Ia tidak setia kepada tempat, dan cakrawala harapannya pendek: investasi harus kembali hanya dalam beberapa tahun. Karena itu, untuk menarik modal tak berakar ini kota-kota harus sudi memenuhi kebutuhan pokoknya: prasarana ekonomi yang cocok, tanah murah, tenaga kerja yang patuh, dan keringanan pajak. Mengikuti nasehat ini, kota-kota mencoba membuat dirinya semenarik mungkin bagi para pelamar global tersebut. Mengubah dirinya menjadi komoditas bagi pasar modal, mereka bersaing mendapatkan perhatian dengan mem-branding citranya. Mereka mengejar tuah Olimpiade atau peristiwa olahraga dunia lainnya, dengan harapan bahwa apabila mereka berhasil memenangkan persaingan lokasi ini, mereka akan menjadi household words, seperti Coca-cola atau peralatan atlit Nike. Mereka pasrah terhadap kuasa perusahan-perusahaan global, berjanji memberikan apa saja yang dimintakan dari mereka, dari lahan perawan hingga upah rendah dan stabilitas politik.

Sekali suatu kota berhasil membujuk investasi yang dijanjikan, para utusannya pulang disambut banyak pujian.  Tetapi, kota bukanlah sekedar bejana kosong untuk menampung investasi dari luar ke dalam kecuali kalau ia berharap mengulang nasib Napizaro, desanya Jane Jacobs itu, yang dikatakannya akan kembali ke kesengsaraan awal kalau aliran kiriman uang berhenti. Sebab, sekali modal bergerak terus ke wilayah yang lebih menjanjikan sebagaimana sering dikehendakinya, apa yang akan ditinggalkannya tidak lebih dari ruang kosong pabrik-pabrik. Kota akan kehilangan lebih dari sekedar beberapa ratus atau ribu lapangan pekerjaan.  Ia telah menyia-nyiakan kesempatan untuk membangun aset nyatanya sendiri, yang dengan kualitas khas-tempatannya akan selalu bersifat unik. Ia telah gagal memulai dan mempertahankan suatu pembangunan endogen—suatu pembangunan dari dalam—yang didasarkan terutama pada tabungan lokal dilengkapi dengan bantuan internasional dan kontribusi swasta. Dan, ia telah kehilangan kesempatan belajar memajukan pembangunan yang aseli dengan secara langsung terlibat di dalamnya. Sekarang saya akan membahas aset-aset ini, dan mengapa mengabaikan mereka akan melahirkan harapan palsu kepada silau kantong emas di ujung pelangi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: