Lembar Informasi 2009-01 Manfaat Ekonomi Tanjung Peropa

fs0901-manfaat-ekonomi-sm-tanjung-peropa

Manfaat  Ekonomi  Tanjung Peropa

Keberadaan kawasan konservasi seringkali dianggap menghambat pembangunan  di luar kehutanan, karena  hampir-hampir tak memberikan akses bagi pemanfaatan sumber daya alam (SDA) yang ada di dalamnya.  Lain halnya dengan kawasan hutan produksi yang kayunya dimanfaatkan atau kawasan hutan lindung yang bisa dipinjam pakai untuk kepentingan pertambangan ataupun kepentingan lain di luar kepentingan pembangunan kehutanan sendiri.

Paradigma ini, diperparah dengan adanya otonomi daerah. Kebijakan pemerintah daerah terhadap kawasan konservasi ini sebagian besar belum mengacu pada  pengelolaan SDA berbasis lestari dan berkelanjutan.

Hal serupa, kini dihadapi oleh Suaka Alam Tanjung Peropa yang terletak  di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Kini, tekanan di kawasan itu bukan hanya dari sisi perambahan liar dan praktek illegal loging. Namun, tekanan itu muncul dari kebijakan pemerintah daerah setempat yang ingin membuka akses transportasi darat buat warga Laonti. Jalan itu membelah kawasan SM. Tanjung Peropa. (Untuk lebih Jelasnya, lihat di, http://m3sultra.wordpress.com/)

Berbeda dengan kawasan hutan produksi dan hutan lindung,  kawasan hutan yang ditetapkan sebagai kawasan konservasi  (cagar alam, suaka margasatwa, taman wisata alam, dan taman nasional) mengemban fungsi 3 (tiga ) fungsi pokok sebagai wilayah (1) perlindungan system penyangga kehidupan (mengatur tata air, mencegah bencana banjir, erosi dan kekeringan, menyuplai udara bersih dan menyerap CO dan CO2 yang merupakan racun  dari udara dan lainnya), (2) pengawetan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya (merupakan bank genetik (plasma nutfah) bagi ketahanan pangan (pertanian dan peternakan), farmasi  dan obat tradisional, bahan dasar kosmetik dan lain-lain) (3) pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya melalui pemanfaatan jasa lingkungan air, perdagangan karbon, dan wisata alam.

Lalu manfaat ekonomi apa yang secara langsung bisa dirasakan oleh masyarakat ? pertanyaan ini sering dilontarkan oleh berbagai pihak termasuk oleh pemerintah daerah sendiri. Apalagi bila ternyata di dalam hutan konservasi terdapat sumber daya alam lainnya seperti  potensi tambang  atau potensi kayu komersil yang konon “harus” dimanfaatkan (dieksploitasi) demi percepatan pembangunan ekonomi daerah.

Kawasan hutan konservasi dengan fungsi utamanya memberikan perlindungan system penyangga kehidupan yang salah satunya adalah fungsi hidrooroligi (mengatur tata air) bisa dikatakan sebagai “Bank Air”.  Hutan sering disebut memiliki efek spons, yaitu kemampuan meredam tingginya debit sungai  pada saat musim  hujan dan memelihara kestabilan aliran air pada musim kemarau. Kondisi hutan yang baik akan menjamin ketersediaan air bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.  Kawasan konservasi seperti halnya SM Tanjung Peropa yang kondisinya relative masih utuh, menjamin suplai pasokan air bersih dalam jumlah dan kualitas yang cukup bahkan melimpah dan “gratis” pula bagi masyarakat yang tinggal di desa-desa sekitar kawasan. Terkadang sesuatu yang melimpah dan gratis tidak disadari nilai ekonominya dan dianggap tidak ada harganya.

Contoh hasil penelitian di Jawa Barat tentang kebutuhan air masyarakat untuk keperluan rumah tangga, kebun dan sawah didapatkan bahwa kebutuhan air untuk keperluan rumah tanngga (air minum, memasak, mandi, mencuci dll) adalah sebesar ± 204,6 m3/tahun/rumah tangga. Untuk sawah diperlukan ± 125.000 m3/ha/musim dan untuk kebun sekitar 387,94 m3/tahun. Walaupun belum ada penelitian khusus mengenai kebutuhan air ini di desa-desa sekitar kawasan SM Tj. Peropa, kita bisa menghitung berapa uang yang harus masyarakat bayar untuk mendapatkan air untuk kebutuhannya berdasarkan asumsi perhitungan di atas.

Dengan memakai  harga patokan PDAM Kendari adalah Rp. 28.000/m3,  untuk keperluan air rumah tangga saja  per rumah tangga rata-rata harus membayar sebesar Rp. 5.728.800,-/ tahun  (204,6 m3 x Rp. 28.000). Angka itu baru untuk satu rumah tangga saja. Saat ini di Kecamatan Laonti saja  terdapat ± 9.174 jiwa atau katakanlah sekitar 2.000 KK/ rumah tangga , maka harga yang harus dibayarkan adalah sebesar Rp 1.145.760.000.000 (wow angka yang cukup fantastik). Untuk kebutuhan kebun minimal harus membayar    Rp. 10. 862.320/ha/tahun dan sawah sekitar Rp. 3.500.000.000 (3,5 milyar !) per  hektar setiap musimnya.

Jadi, berapa harga yang harus warga bayar atau pemerintah harus mensubsidi bagi masyarakat ? Tinggal mengalikan berapa total luas  kebun dan sawah yang diusahakan oleh warga yang tinggal di sekitar Tanjung Peropa, bukan hanya di Kecamatan Laonti saja, tapi juga di Kecamatan Moramo dan Kolono. Namun, saat ini warga masih mendapatkannya secara gratis, kalaupun harus membayar, itu adalah biaya untuk pemeliharaan pipa saja.

Itu baru dari sisi  manfaat air saja, masih banyak fungsi ekologis dari SM Tanjung Peropa dan kawasan konservasi lainnya yang jika masyarakat  harus membayar untuk mendapatkannya nilainya tentu tidak terbayarkan, misalnya ketika bencana banjir melanda karena hutan sudah rusak berapa nilai kerugian harta, sawah, kebun dan lainnya yang harus ditanggung masyarakat. Belum lagi jika kita harus membayar untuk mendapatkan udara bersih misalnya.

Jadi pilih mana ? Jika pembukaan jalan yang membelah kawasan konservasi SM Tanjung Peropa dapat menimbulkan dampak-dampak negatif yang mengakibatkan terganggunya fungsi ekologis kawasan. Belum lagi dampak  memikirkan kepentingan pribadi. Sudah saatnya kita  mencari “jalan alternatif” yang lebih menguntungkan dari berbagai aspek baik teknis, ekonomi, dan ekologi.

Untuk informasi lebih lanjut hubungi:
Mila Rabiati, S.Hut
Koordinator Pengendali Ekosiste HUtan (PEH)
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sultra.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: