Lembar Informasi 2008-12 Suaka Margasatwa Tanjung Peropa

FS0812 Suaka Margasatwa Tanjung Peropa

Suaka Margasatwa Tanjung Peropa

Melindungi Kantung-kantung Air Hingga Masa Mendatang

Kawasan hutan Suaka Margasatwa Tanjung Peropa (SMTP)secara legal formal telah ditetapkan sebagai  kawasan suaka margasatwa dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 393/Kpts-VII/1986 tanggal 23 Desember 1986. Sebelumnya telah ditunjuk dengan Keputusan Menteri  Pertanian Nomor : 845/Kpts/Um/11/1980 tanggal 25 Nopember 1980 dengan memperhatikan Rekomendasi  Gubernur KDH Tk. I Sulawesi Tenggara No: Pta. 4/1/11 tanggal 6 Januari 1973 dan Surat Direktur Jenderal Kehutanan Nomor : 3689/DJ/I/1980 tanggal 25 Oktober 1980.

Kelompok hutan Tanjung Peropa ditunjuk sebagai suaka margasatwa karena merupakan perwakilan ekosistem hutan hujan tropis dengan vegetasi hutan non Dipterocarpacea, hutan belukar, hutan pantai dan hutan bakau yang merupakan habitat jenis tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi seperti anoa (Bubalus sp), rusa (Cervus timorensis), monyet hitam Sulawesi (Macaca ochreata), kuskus (Phalanger sp). Selain itu sedikitnya teridentifikasi 34 jenis burung yang hidup di SM Tanjung Peropa.

Tapi tak hanya soal flora dan founa, suaka margasatwa Tanjung Peropa juga memiliki fungsi pokok dalam menjaga mutu kehidupan manusia yakni : 1) sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan serta 2) menjadi wilayah pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya.

Dalam fungsinya sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan, kawasan ini memiliki fungsi sebagai pengatur tata air (fungsi hidrologis) bagi wilayah Tanjung Peropa dan sekitarnya. Mata air dari kawasan itu mengalirkan air ke sungai (mulai dari Ulusena, Maretumbo, Rodaroda, Lambangi, Langgapulu serta sungai Laonti)  dan dimanfaatkan oleh sekitar 13 desa di wilayah tersebut.

Memastikan Kualitas Air
Kualitas air yang kini dimanfaatkan warga sangat dipengaruhi oleh ‘sehat’ tidaknya kawasan Suaka Margasatwa Tanjung Peropa. Peranan hutan SMTP adalah mengatur tata air. Hutan bekerja dengan menjaga pasokan air dan menurunkan besaran banjir melalui peran perlindungannya terhadap permukaan tanah dari gempuran tenaga kinetis air hujan.

Hasil inventarisasi potensi jasa lingkungan untuk air menunjukkan sungai Osena (yang airnya dipasok dari kawasan suaka margasatwa Tanjung Peropa) memiliki debit air yang besar yaitu lebih dari 1 m3 per detik atau setara dengan 1.000 liter per detik (hasil inventarisasi potensi jasa lingkungan (air), BKSDA Sultra, 2007).

Potensi air ini mampu menyuplai kebutuhan air domestik warga sekitar untuk kebutuhan rumah tangga dan pengairan. Tidak hanya itu potensi air tersebut bisa memberikan kontribusi jasa lingkungan yang bisa menghasilkan secara ekonomi seperti usaha air minum kemasan yang diproduksi oleh PT. ARINDO, bahan bakunya berasal dari Mata Air Batu Telur yang mengalir dari dalam kawasan suaka margasatwa Tanjung Peropa.

Fungsi ekologis lainnya adalah mengatur iklim mikro bagi wilayah sekitarnya, kondisi hutan yang terjaga dapat memberikan kontribusi bagi pasokan udara bersih dan mengurangi dampak pemanasan global. Mempertahankan kelestarian suaka margasatwa Tanjung Peropa berarti menjaga fungsi-fungsi ekologis lingkungan tetap terpelihara bagi kelangsungan mutu kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.

Keanekaragaman Sumber Genetik
Potensi lainnya adalah menjadi kawasan dengan keanekaragaman sumber genetik  (sumber plasma nutfah) dan tipe-tipe ekosistem yang dapat menunjang pembangunan, ilmu pengetahuan dan teknologi yang memungkinkan pemenuhan kebutuhan manusia.

Berdasarkan hasil penelitian Pusat Konservasi Tumbuhan – Kebun Raya Bogor tahun 2003, sedikitnya terdapat 52 jenis tumbuhan liar yang terdiri dari jenis pohon, herba,dan tumbuhan memanjat, 30 jenis diantaranya merupakan tumbuhan berpotensi obat yang sering digunakan sebagai bahan pengobatan berbagai penyakit antara lain batuk, sakit mata, luka, panas dalam dan lain-lain. Hasil identifikasi tumbuhan obat yang dilakukan oleh BKSDA Sultra pada tahun 2006 bahkan mencatat di SMTP terdapat sedikitnya 25 jenis tumbuhan berhabitus pohon dan 28 jenis tumbuhan bawah/semak/liana/non kayu yang berkhasiat sebagai obat. Selain itu tercatat sedikitnya 14 jenis anggrek, salah satunya adalah anggrek Vandopsis lissochiloides yang memiliki bunga yang sangat cantik dan unik yang berpotensi sebagai tanaman hias dengan nilai jual yang tinggi.

Sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan dan wilayah pengawetan keanekaragaman hayati dan ekosistemya, SMTP memberikan banyak manfaat nyata antara lain : menjamin terpeliharanya keanekaragaman hayati tumbuhan dan satwa dari ancaman berbagai macam gangguan, menjamin tersedianya plasma nutfah (genetik) bagi pengembangan budidaya tumbuhan dan penangkaran satwa, memelihara siklus air, melindungi mata air, mencegah banjir dan kekeringan, melindungi erosi tanah dan longsor, secara global dapat mengurangi emisi CO2 dan timbulnya pemanasan global dan mendukung berkembangnya kegiatan penelitian, pendidikan dan wisata alam.

Untuk Informasi lebih lanjut hubungi :
Sakrianto Djawie, Hp: 0811406101
Staf BKSDA Sultra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: