Insert Media Lingkungan, 2008-12-31

insert media sultra 20081231

Antara Keinginan dan Kebutuhan Jangka Panjang

Seluruh naskah dilansir oleh; Abdul Saban

Generasi pertama di Laonti bermukim sejak 30-40 tahun lalu. Mereka membuka kebun dan hidup berdampingan dengan kawasan lindung- konservasi suaka margasatwa Tanjung Peropa. Wilayah ini lalu berkembang dan hingga tahun 2008 telah memiliki 17 desa, masuk dalam kecamatan Laonti yang terhubung melalui jalur setapak darat dan jalur laut. Memiliki jalan poros yang bisa menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lainnya lalu menjadi mimpi warga sejak 30 tahun lalu. Mereka berjuang dan mendesak Bupati Konawe Selatan untuk sesegera membuka jalan. Namun satu kendala lagi ; bagaimana mungkin membuat jalan tanpa mengorbankan wilayah konservasi yang tepat berada di tengah perkampungan warga?

Dilematis memang. Satu sisi, warga membutuhkan akses jalan untuk menunjang peningkatan ekonomi, kesehatan, pendidikan mereka. Di sisi lain, kawasan suaka marga satwa Tanjung Peropa nyaris tak bisa dikutak katik. Kawasan  konservasi tersebut menjamin keberlanjutan ketersediaan air dan ketahanan pangan bagi warga Laonti dan sekitarnya hingga puluhan tahun mendatang.

Kawasan tersebut ditetapkan sejak tahun 1986 sebagai kawasan konservasi yang mewakili ekosistem hutan hujan tropis dengan vegetasi hutan non Dipterocarpacea, hutan belukar, hutan pantai dan hutan bakau. Artinya, perlindungan dilakukan pada seluruh kawasan karena fungsi-fungsinya akan memberi peningkatan ekonomi yang signifikan hingga puluhan tahun mendatang. Bukan sekadar melindungi hewan-hewan endemik di dalamnya.

Kawasan konservasi ini dapat dicapai dengan mudah dari Kendari via Sumber Sari, karena tersedia angkutan umum dan jalan beraspal dengan jarak ± 80 km, yang dapat ditempuh dalam waktu 2 -2,5 jam. Atau jalan laut dengan menggunakan johnson dari Kendari ke Tambeanga dengan waktu tempuh 2-3 jam. Waktu kunjungan terbaik pada bulan Juli-Agustus.

Menurut Sakrianto Djawie, SP, Kepala Seksi Wilayah II, BKSDA Sultra, dalam kawasan seluas 38.937 hektar ini, terdapat hutan sekunder yang bercampur dengan hutan primer, dihuni oleh beragaman flora dan fauna yang punya nilai tinggi. Sedikitnya, 13 family pohon atau 59 jenis tumbuhan berhabistus pohon, 50 jenis tumbuhan tingkat pancang dan 49 jenis tumbuhan tingkat semai.

Keseluruhan potensi tersebut saling terkait dan memberi fungsi-fungsi yang kadang tak disadari : pasokan air yang lancar dan tidak dibeli!  Mengairi sungai-sungai mulai dari Ulusena, Maretumbo, Rodaroda, Lambangi, Langgapulu serta sungai Laonti  dan dimanfaatkan oleh sekitar 13 desa di wilayah tersebut. Air tersebut akan berakhir di rumah-rumah warga dalam bentuk air minum yang segar, bebas polusi. Kawasan ini juga secara alamiah mengatur tata air—menurunkan potensi banjir dan bencana alam lainnya melalui peran perlindungannya terhadap permukaan tanah dari gempuran tenaga kinetis air hujan.

Hasil inventarisasi potensi jasa lingkungan untuk air menunjukkan sungai Ulusena dalam Kecamatan Laonti (yang airnya dipasok dari kawasan suaka margasatwa Tanjung Peropa) memiliki debit air yang besar yaitu lebih dari 1 m3 per detik atau setara dengan 1.000 liter per detik (hasil inventarisasi potensi jasa lingkungan (air), BKSDA Sultra, 2007).  Lainnya : kawasan ini mengatur iklim mikro bagi wilayah sekitarnya. Udara bersih dan meminimalir pemanasan global yang ‘jahat’.

“Salah bila mengatakan bahwa kami lebih mementingkan hutan atau hewan-hewan di dalamnya dibanding manusia, sebaliknya, kami peduli dengan warga di sekitarnya,” kata Sakrianto.

H. Istadjar Sakoya, mantan Kepala Desa Laonti, mengatakan, sejak era Razak Porosi, mantan Bupati Kabupaten Kendari, (nama Konsel, sebelum dimekarkan dari Konawe), jalan untuk warga Laonti sudah dibangun, mulai dari desa Sumber Sari, kecamatan Moramo. Namun, pembangunannya di hentikan. Sebab, jalan itu akan membelah kawasan tanjung peropa, dimana di dalamnya terdapat lumbung rotan dan lumbung kayu yang jadi sumber mata pencaharian warga kecamatan Moramo dan kecamatan Laonti. “untuk itu, jangan berpikir untuk saat ini saja, tapi pikirkan pula kelanjutan hidup turunan kita,” tegasnya.

Bagaimana mengakomodir keinginan warga Laonti, agar terbangunnya akses jalan darat dari kecamatan Moramo ke Laonti, tanpa mengorbankan fungsi dan status kawasan Tanjung Peropa?

BKSDA Sultra, menawarkan solusi. Yakni, jalan yang menipir di pinggir kawasan itu. menurut Priehanto, SP, staf BKSDA Sultra, jalan inipun melintasi kawasan konservasi. Namun  dampak negatifnya tak sebesar jalan yang dibuat oleh Pemda saat ini. Karena secara tekhnis, jalan yang dibuat pemda itu melewati daerah dengan kemiringan 60 derajat.

Intinya, mempertahankan kelestarian suaka margasatwa Tanjung Peropa berarti menjaga fungsi-fungsi ekologis lingkungan tetap terpelihara bagi kelangsungan mutu kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.

Mubariq Achmad, Direktur WWF Indonesia pernah berkata, sangat rumit untuk memilih antara keinginan dan kebutuhan manusia. Namun, bila itu prioritasnya untuk kesejahteraan jangka panjang bagi mahluk bumi, termasuk manusia, maka yang mesti jadi pilihan adalah kebutuhan. Caranya adalah dengan mengelola sumberdaya alam sebaik mungkin.

Dia menilai, banyak sisi dilematis yang dihadapi pemerintah saat ini dalam membangun di daerah. Karena memang, setiap pembangunan pasti ada yang harus dikorbankan. Jika setiap pembangunan semata-mata untuk kesejahteraan rakyat, maka sudah sudah seharusnya pemerintah mengutamakan menjalankan metode pembangunan yang berkelanjutan, tanpa mengorbankan sumber-sumber kehidupan rakyat yang berkelanjutan.

Keanekaragaman Sumber Genetik

Berbagai literatur menyebutkan, perpaduan kekayaan alam, satwa maupun tumbuhan liar berasal dari proses bentukan alam yang menggabungkan dua lempengan tektonik berbeda yang berasal dari dari laurasia dan gondwaland yang menyebabkan munculnya perpaduan fauna.

Nah, proses ini berjalan dari tahun ketahun dan memungkinkan terbentuknya berbagai varian spesies unik yang memiliki endemic organisme tinggi.

Priehanto SP, staf ahli Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Sultra mengatakan bahwa, pulau Sulawesi disebut-sebut sebagai wilayah yang memiliki tingkat endemitas tertinggi setelah Papua. Selain itu, dia juga memiliki tingkat keanekaragaman flora dan fauna ke-tiga setelah Papua.

Seiring pergeseran waktu, kekayaan alam tersebut mengalami tekanan dalam berbagai bentuk, baik perubahan alam maupun ulah manusia sendiri. Berbagai tekanan tersebut memunculkan keprihatianan, sejatinya sumber daya alam tersebut dilindungi oleh undang-undang, karena populasinya kecil dan rentan dengan bahaya kepunahan.

Priehanto menggambarkan, satwa Anoa (Buballusp), merupakan maskot fauna identitas Sulawesi Tenggara. Jumlah populasi dari tahun ke tahun hewan bertanduk itu, terus mengalami penurunan.

Potensi lainnya adalah menjadi kawasan dengan keanekaragaman sumber genetik  (sumber plasma nutfah) dan tipe-tipe ekosistem yang dapat menunjang pembangunan, ilmu pengetahuan dan teknologi yang memungkinkan pemenuhan kebutuhan manusia.

Berdasarkan hasil penelitian Pusat Konservasi Tumbuhan – Kebun Raya Bogor tahun 2003, sedikitnya terdapat 52 jenis tumbuhan liar yang terdiri dari jenis pohon, herba,dan tumbuhan memanjat, 30 jenis diantaranya merupakan tumbuhan berpotensi obat yang sering digunakan sebagai bahan pengobatan berbagai penyakit antara lain batuk, sakit mata, luka, panas dalam dan lain-lain.

Hasil identifikasi tumbuhan obat yang dilakukan oleh BKSDA Sultra pada tahun 2006 bahkan mencatat di SMTP terdapat sedikitnya 25 jenis tumbuhan berhabitus pohon dan 28 jenis tumbuhan bawah/semak/liana/non kayu yang berkhasiat sebagai obat. Selain itu tercatat sedikitnya 14 jenis anggrek, salah satunya adalah anggrek Vandopsis lissochiloides yang memiliki bunga yang sangat cantik dan unik yang berpotensi sebagai tanaman hias dengan nilai jual yang tinggi.

Sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan dan wilayah pengawetan keanekaragaman hayati dan ekosistemya, SMTP memberikan banyak manfaat nyata antara lain : menjamin terpeliharanya keanekaragaman hayati tumbuhan dan satwa dari ancaman berbagai macam gangguan, menjamin tersedianya plasma nutfah (genetik) bagi pengembangan budidaya tumbuhan dan penangkaran satwa, memelihara siklus air, melindungi mata air, mencegah banjir dan kekeringan, melindungi erosi tanah dan longsor, secara global dapat mengurangi emisi CO2 dan timbulnya pemanasan global dan mendukung berkembangnya kegiatan penelitian, pendidikan dan wisata alam.

Karena itu, polemik yang terjadi di Tanjung Peropa saat ini, tidak boleh dipandang sebelah mata. Adanya tuntutan masyarakat untuk segera dibukakan jalan dengan tidak mengorbankan kawasan Tanjung Peropa, menjadi tanda kalau perhatian pemerintah terhadap rakyatnya masih kurang.

Belum lagi banyak kasus illegal loging di kawasan Tanjung Peropa yang telah mencuat akhir-akhir ini, menandakan bahwa tak ada perhatian cukup dari dinas Kehutanan dan pihak keamanan, terkait penegakan hukum di wilayah kawasan konservasi ini.

Padahal kata Priehanto, payung hukum untuk kegiatan perlindungan satwa ini sudah jelas, dan juga disertai sanksi pidana kepada pelanggarnya. Pengecualiannya adalah untuk kepentingan penelitian ilmu pengetahun dan penyelamatan jenis satwa atau tumbuhan yang bersangkutan.

Dia juga menyayangkan kurangnya penegakan hukum terhadap pelanggaran atas kasus di kawasan konservasi ini. Selain sanksi hukum, penyuluhan dan sosialisasi pada warga juga menjadi bagian yang tak terpisahkan.

Diluar dari berbagai upaya tersebut, tindakan yang harus diambil adalah pembuatan peraturan perundang-undangan yang memadai (preemtif), pengawasan (preventif) dan represif yakni tindakan yang dilakukan dalam rangka penegakan hukum terhadap satwa liar tanpa dilengkapi dokumen yang sah. Karena tanpa demikian yakinlah satwa dan tumbuhan di dalam kawasan Tanjung Peropa akan punah akibat ulah manusia itu sendiri.

Pak, Kami Butuh Jalan

Seperti katak di dalam tempurung. Begitulah pengandaian yang tepat bagi warga Laonti. Sepeda motor yang mereka miliki tak bisa kemana-mana, hanya lalu lalang di sepanjang kampung yang lebar badan jalannya sekitar dua meter saja.

Terdapat sekitar 9174 jiwa yang bermukim di seluruh kecamatan Laonti. Warga hidup dari perkebunan yang subur. Udara Laonti bersih dan menyehatkan, pasokan air juga lancar, berasal dari pipa-pipa yang terpasang dari bukit-bukit di belakang rumah warga.

Tak ada listrik,televisi ataupun alat komunikasi berupa telepon seluler. Informasi dari luar bersumber dari radio pemerintah : RRI dan surat yang dititip melalui kapal-kapal reguler. Hidup di Laonti, mengingatkan kita pada wilayah pedesaan lain di Indonesia yang juga terisolir. Bedanya, Laonti diberkati dengan alam yang kaya, sedang sebagian desa lain di Indonesia kering kerontang karena sumberdayanya habis dan tak bisa lagi dimanfaatkan.

Untuk ke Laonti, harus menggunakan transpotasi laut yang hanya beroperasi saat musim teduh dan air laut pasang. Dengan kapal-kapal inilah warga melakukan perjalanan,mengangkut hasil-hasil pertaniannya untuk dijual ke Kota Kendari, ibukota propinsi Sultra. Beruntung, beberapa warga Laonti telah memiliki kendaraan roda dua motor.

Warga hanya punya satu keinginan sejak bermukim di Laonti : Punya jalan yang tembus dari Kecamatan Moramo. “Kami benar-benar butuh jalan ini, masak sejak merdeka tak ada jalan di sini?” kata Sakirman, salahseorang pemuda Loanti.

Dua tahun lalu, Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan telah membuka jalan bagi warga yang dipastikan bisa tembus Laonti-Tambolosu-kecamatan Moramo, masalahnya jalan itu menerobos kawasan Suaka Margasatwa Tanjung Peropa dan dinilai inprosedural. “Ini gimana Pak?” tanya Ibrahim Saleh, kepala desa Peo Indah pada staf Balai Konservasi Sumber Daya alam.

Beberapa bulan lalu, warga kecamatan ini sempat berunjukrasa ke kantor BKSDA Sultra, namun hasilnya tetap saja tak memuaskan mereka. Secara tegas Ir. Kurung, MM, mengatakan, pembangunan jalan yang membelah kawasan konservasi Tanjung Peropa tak boleh dilanjutkan.

Namun, BKSDA tetap memberikan sinyal positif untuk pembuatan jalan lain sepanjang tidak membelah kawasan dalam luasan besar.  “Bisa saja, prosesnya negosiasinya dengan pihak Departemen kehutanan tak memakan waktu lama,” kata Sakrianto.

Ini menandakan, impian warga sudah diambang pintu. Tinggal keseriusan Pemerintah kabupaten Konawe Selatan saja untuk mulai menyusun perencanaan bersama dengan pihak BKSDA Sultra.

Sisi Lain Laonti

Nasib baik belum berpihak pada warga daerah Laonti. Sejak defenitif sebagai desa Laonti tahun 1963, hingga saat menjadi kecamatan seperti sekarang ini, terhitung jari warga yang leluasa menembus wilayah lain.

Tak ada akses jalan darat yang menjamin peningkatan kesejahteraan warga di kecamatan itu. Jika musim hujan, jalannya becek, musim kemaraupun lebih parah, debu bertebaran di jalan.

Lalu bagaimana dengan nasib anak-anak sekolah di daerah itu? Isdar, salah satu Guru Sekolah Dasar di sana mengatakan, kualitas belajar siswa belum bisa terjamin dengan baik. Untuk mendidik siswa dengan kualitas terbaik, tentu butuh sarana pendidikan yang memadai, utamanya dari akses teknologi informasi sebagai sarana belajar.

Namun, bagaimana hal itu bisa terealisasi, teknologi tersebut tidak didukung dengan infrastruktur jalan. “tak ada signal di sini, jadi kita tak mungkin bisa mengakses informasi yang terbaru,” katanya.

Hal ini tentu sangat mempengaruhi kualitas hidup warga Laonti. Menurut data PNPM Mandiri Sultra, persebaran kemiskinan berdasarkan potensi desa di kecamatan Laonti tahun 2005, tercatat, 1354 dikategorikan miskin dari 9174 Jiwa yang bermukim di kecamatan itu.

Muhammad Said, S.Sos, Camat Laonti, mengatakan, walau kualitasnya baik, Misalnya saja, harga kopra di kecamatan Laonti berkisar pada Rp.150.000, per 100 kilogram. Sangat jauh beda dengan harga kopra di Kendari, Ibu Kota Sultra, yakni Rp. 320.000, per 100 kilogram. Lain pula dengan harga pala, saat ini harga jualnya di kota Kendari sebesar Rp.13.000, per kilogram. Di Laonti, anda bisa mendapatkan pala dengan harga Rp. 5000, perkilogram.

Bayangkan saja, bagaimana bedanya, jika potensi hasil bumi itu dijual sendiri oleh warga di pasar-pasar regional seperti Kendari.

Nah, untuk mencapai hal itu, harus ada akses transportasi yang lebih murah, singkat dan efisien. Tentu saja jalan darat. Untuk itu, jalan darat yang menghubungkan kecamatan Lanti dan Moramo, wajib di bangun, “ini untuk pemerataan pembangunan,” katanya.

One Response

  1. hellooo.. artikel nya bagus2 thanks n salam kenal ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: