Rubrik Wonua, 2008-11-29

wonua kendari pos 20081129

Jejak

Menitip Harapan di Rawa Aopa

Usia tua tak jadi halangan bagi Makaratte untuk bertahan menjaring ikan di Rawa Aopa. Ia, dengan semangat tinggi bertekad menghidupi anaknya agar bisa jadi sarjana seperti anak-anak lainnya. Dia ingin, anaknya kelak bisa memberi ilmu baru cara membudidayakan ikan air tawar di rawa itu.

Berbagai pengalaman menjaring ikan di rawa aopa, tergambar jelas di keriput wajah pria 72 tahun itu. Harapan yang mencuat dari pikiran lelaki tua asal Sengkang, Sulawesi Selatan ini, tentu bukan menga-ada. Dalam seminggu saja, penghasilannya menjala ikan di rawa mencapai satu juta rupiah.

Makarate adalah salah satu dari sekian ratus nelayan yang memanfaatkan potensi ikan di rawa aopa. “ikannya berlimpah,” ujar Makarate. Untuk makan sehari-hari, mereka tak pernah mengaharap datangnya ikan laut di pasar-pasar tradisional.

Jumlah nelayan ini cukup banyak. Mereka terbagi dalam kelompok-kelompok tertentu yang biasanya berdasarkan oleh kedekatan hubungan keluarga. Memancing dan memasang jaring akan banyak kita lihat di tempat ini. Aktivitas nelayan itu dilaksanakan tidak hanya di siang hari tapi juga malam hari. Jadi tidak jarang mereka harus menginap di tengah rawa. Diatas perahu yang hanya cukup ditumpangi oleh satu orang saja.

Rawa Aopa memang sangat kaya. Rawa seluas 10.000 hektar ini menyediakan ikan mujair, tawes, nila, carper, ikan mas, lele dan masih ada lagi jenis ikan lainnya yang penduduk sekitar belum mengetahui namanya. Hasil tangkapan nelayan ini, kata Makareta, banyak dijual ke pasar-pasar Lambuya dan Unaaha, Kabupaten Konawe, di pasar-pasar itu ikan ini laris manis.

“Harga tergantung jenis ikannya,” lanjut Makarate. Harga ikan jenis carper misalnya 15 ribu rupiah per tusuk. Ukuran satu tusuk, hampir sama 1,5 kilogram. Makarate sendiri bisa menangkap sampai 600-700 tusu setiap minggunya. Lalu bagaimana jika nelayan rata-rata menangkap sampai 700 tusu per minggu? Bayangkan saja sendiri hasilnya…

Dari Kami

Lagi tentang Taman Nasional Rawa Aopa

Hari ini atau kelak, Anda wajib menyempatkan diri mengunjungi Taman Nasional Rawa Aopa. Menyusuri rawa yang tenang dan daun teratai terapung dengan keanggunan yang mencekam. Burung-burung air berdiri, mengabaikan kehadiran perahu motor di sekitarnya.  Mungkin bila Anda telah mengunjunginya Anda akan sependapat dengan kami ; ketika investasi ini hilang, maka tak akan lagi memperoleh keindahan yang sama, meski dengan mencoba menggantinya dengan nilai rupiah yang besar.

Investasi Rawa Aopa adalah simpanan masa depan bagi warga yang hidup di kabupaten-kabupaten sekitarnya. Taman ini tak hanya menjadi penopang keterjaminan air bersih, tapi juga pangan dan pariwisata. Berbagai endemik Sulawesi berada di sini, menggambarkan keseimbangan alam yang masih terawat.

Hari ini, ketika gonjang ganjing penurunan status kawasan terdengar, sebagian dari kita bisa saja abai, tak memperdulikan kawasan itu. Kita mungkin juga tak pernah tahu bahwa air yang kita minum dan nikmati hari ini dikontribusi oleh Rawa Aopa. Seperti itulah.

Nah, kami mengajak Anda untuk peduli atas kelestarian alam kita.
Salam
Editor

Morini

Penyuplai Gambut

Dari atas menara pandang, kita bisa menikmati panorama alam rawa yang indah dan mempesona. Pengunjung dapat menikmati atraksi burung air yang sedang mencari makan dengan mengintai ikan dari celah-celah rumput. Di sini juga tersedia perahu bagi yang berhobi mendayung dan memancing ikan di air rawa yang bening.

Menara itu dibangun diatas pulau kecil yang diberinama pulau Harapan II. Pulau ini terletak di tengah-tengah Rawa Aopa. Menurut keterangan Adjat Sudrajat, Kepala Seksi Wilayah I TNRAW, pulau menara ini dibangun diatas gundukan sedimentasi, yang telah puluhan tahun mengendap, hingga menjadi sebuah pulau.

Dalam ilmu hidrologi, pulau di tengah rawa, atau yang biasa disebut atoll, pembentukannya memang berawal dari sedimentasi akibat banjir yang sering melanda daerah tersebut, karena topografinya yang berada di daerah lembah, atau dataran rendah.

Pulau-pulau ini memang sangat banyak dijumpai  di Rawa Aopa. Uniknya adalah, pulau itu ternyata tak hanya terdiri dari sedimentasi tanah semata. Namun, pulau ini menjadi lahan gambut yang sangat potensial jika diolah jadi campuran pupuk untuk pertanian dan perkebunan.

Lahan gambut di Rawa Aopa terbentuk secara alamiah dengan ketebalan sekitar 50 sentimeter. Biasanya, lahan gambut dengan ketebalan seperti ini sangat subur untuk pertanian.

Menurut data TNRAW , lahan gambut juga memiliki porositas yang tinggi, karena mempunyai daya menyerap air paling besar hingga 850% dari berat keringnya. Oleh sebab itu, gambut memiliki kemampuan sebagai penambat air  (reservoir) yang dapat menahan banjir  saat musim hujan dan melepaskan air saat musim kemarau sehingga intrusi air laut saat kemarau dapat dicegahnya.

Selain itu, lahan in memiliki daya hantar hidrolik (penyaluran air) secara horizontal (mendatar) yang cepat sehingga memacu  percepatan  pencucian  unsur-unsur  hara  ke  saluran drainase, sehingga lapisan atas  gambut  sering  mengalami  kekeringan,  meskipun lapisan bawahnya basah.

Namun, lahan gambut memiliki tumpu atau daya dukung yang rendah karena mempunyai ruang pori yang besar sehingga kerapatan tanahnya rendah dan bobotnya ringan.  Sebagai akibatnya,  pohon  yang  tumbuh  diatasnya menjadi mudah rebah.

Penurunan Permukaan Tanah (Subsidence) Setelah dilakukan reklamasi atau drainase , gambut berangsur akan kempis dan mengalami subsidence atau  amblas,  kondisi  ini  disebabkan  oleh  proses pematangan gambut dan berkurangnya kandungan air.

Semakin  tebal  gambut,  penurunan  tersebut semakin  cepat  dan berlangsungnya  semakin  lama. Rata-rata  kecepatan  penurunan  adalah  0,3  –  0,8 cm/bulan,  dan  terjadi  selama  3-7  tahun  setelah drainase.

Berbagi dengan Tim Taman Nasional Rawa Aopa

Penampilannya sederhana, jalan hidupnya penuh duri dan liku diyakini bukan kebetulan. Itu sudah jadi suratan takdirnya semenjak pilihannya jatuh pada ilmu konservas sebagai bagian dari perjalanan hidupnya.

Dia lahir di Jember, tanggal 22 April, lalu. Sejak tamat SMU tahun 1986, dia menjatuhkan pilihannya dalam dunia konservasi dan pengelolaan sumber daya alam di Institut Pertanian Bogor. Ketertarikannya pada ilmu konservasi, membuat pemilik nama lengkap Ir. Anis Suratin, ini, harus sering bergelut dengan satwa liar dan ekosistem hutan lainnya.

Namun, sebenarnya dia lebih suka duduk menulis atau merancang strategi di laboratorium kehutanan, ketimbang harus ikut kelapangan. Namun, sadar akan tuntutan kerja, dia jalani saja apa adanya, dan coba enjoy dalam situasi apapun.

Setelah menamatkan studinya di IPB, dia mulai konsen dengan upaya pengembangan kapasitas masyarakat pengguna hasil hutan, di Balai Pelatihan Konservasi Alam (BPKA) Maksar. Di sini, wanita bersuara lembut itu aktif dalam ruangan, dia banyak menelorkan rancangan pengembangan sumber daya manusia di lingkup balai pelatihan itu.

Salah satu bukunya yang berjudul “Community Based Tourism,” sampai saat ini masih dipakai sebagai pedoman pengembangan ekonomi sumber daya alam di lingkup dinas Kehutanan. Buku yang ditulis bersama Ir. Sudibyo, itu, hingga kini masih jadi panutan banyak perencanaan program di dinas kehutanan Makasar.

Di kota Angin Mamiri Makassar ini, Anis bekerja sebagai Widya Swara. Sebuah pekerjaan yang menurutnya pada zaman itu tak punya nilai tawar apapun untuk pengembangan karir. Ada anggapan bahwa, orang-orang yang terkaver di Widya Swara, adalah orang-orang yang hanya mencari tempat perpanjanga masa kerja, sebelum mereka dipensiunkan.

Namun, semenjak kehadirannya di situ, wanita tiga anak ini mecoba mengubah pamor yang muncul itu. Dengan nilai tawarnya sebagai alumni IPB, dia mulai melakukan peruabahan mekanisme belajar di Balai itu.

Jika dulu, mekanisme yang dipakai oleh peserta pelatihan adalah menerima teori secara penuh, maka di tangan Anis, mekanisme itu berubah total. Menurutnya, pembelajaran hanya denga teori saja, tak akan memupuk minat dan ketertarikan peserta terhadap dunia yang digelutinya. Untuk itu, dia memberlakukan 75 persen untuk praktek di lapangan, serta 25 persen lainnya teori di kelas. Aktiviatas itu digelutinya hingga tahun 2000.

Sejak gadis belia hingga sudah menjadi ibu dari dua pria dan satu putrid, ketenangan dan bersikap biasa selalu melekat dalam dirinya. Tutur katanya terkesan ramah, membuat lawan bicaranya langsung cepat akrab.

Tahun 2000 lalu, dia lalu coba melanjutkan karirnya di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sultra. Karena kewajibanya sebagai seorang isteri, dia terpaksa hijrah ke Bumi Anoa ini. Namun, berkat kepiawaianya, ia tak butuh waktu lama untuk berinteraksi dengan kantor yang terkenal dengan ketaatan ikatan birokratif itu.

Hampir setahun kemudian, ia hijrah lagi ke Balai Taman Nasional Rawa Aopa. Di balai ini, dia menempatai posisi yang cukup startegis, Kapala Sub. Bagian Tata Usaha, (Kasubag. TU). Tepatnya, bulan November 2007 lalu.

Di sini dia banyak mengedukasi dan memberikan motivasi kepada anggota Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (BTNRAW). Pengalaman yang didapatnya di Nepal, tentang bagaimana cara mengahadapi public, tentu sangat membantunya.

Dia sendiri, membawahi bidang monitoring ekosistem hutan. Tugas ini di luar pengamanan.mensugesti dan mencari solusi bagi anggota balai, hingga taka sing lagi di kalangan anggorta balai sendiri banyak yang menganggapnya sebagai pengganti orang tua mereka sendiri.

Disiplin dan sistematis, adalah motto dari istri Muh. Said ini dalam bekerja. Cara ini kemudian dia terapkan  ke anggotanya. Terkadang dia memang kesal, jika kerja beberapa anggotanya tak memadai. Dalam benaknya, pengamanan adalah hal utama untuk eksistensi balai rawa aopa. Untuk itu, kesigapan anggotanya sangat diutamakan.

Dia bisa maklum akan hal itu. Tak ada akses telelpon dan internet, akses informasi merupakan satu-satunya kendala dalam operasional di lapangan., jadi fungsi monitoring dan kontrol ekosistem hutan belum sesuai dengan harapannya. Namun, dia tetap optimis, dehngan semangat tinggi dan kesabaran yang sudah tertanam dalam jiwa aggotanya, kendala itu tak akan begitu berarti.


Fokus

Berpelancong Melihat Burung

Senja hari di Rawa Aopa, puluhan jenis burung bertengger di dedaunan pandan air, ada juga yang hinggap di pohon, sambil mematuk kiri kanan, mencari anak-anak ikan dan udang kecil. Ada ikan, pasti ada burung. Begitulah filosofi para penangkar burung rawa.

Rawa Aopa tak hanya menyediakan ikan yang lezat dan gurih. Hasil penelitian Universitas Leeds (Inggris) yang bekerjasama dengan Symbiose Birdwatcher Club dari Universitas Indonesia tahun 2004 lalu, tercatat 155 jenis burung, dengan 32 jenis diantaranya tergolong langka, serta 37 jenis merupakan jenis endemik Sulawesi berdiam di rawa itu.

Burung-burung tersebut antara lain maleo, bangau tong-tong , bangau sandang lawe , Raja udang kalung putih, kakatua putih besar, elang-alap dada-merah, merpati hitam sulawesi , belibis, nuri dan punai Emas .

Selain itu, ada satu jenis burung endemik di Sulawesi Tenggara yaitu burung kacamata sulawesi. Uniknya, puluhan tahun lalu, burung ini tak pernah terlihat, namun belakangan terlihat di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, dan mulai menetap di sana. Ada pula satwa yang ‘menyeramkan’ di rawa ini, antara lain anoa, babirusa, buaya dan ular.

“Taman burung alami, ada di sini, di Rawa Aopa”, kata Rustamin. Begitu banyak jenis burung di sini. Setiap pagi dan sore mereka berkeliaran di rawa ini untuk mencari makan. Melompati vegetasi terapung dan diantara bunga-bunga teratai yang banyak tersebar di tempat ini, menutup sebagian tubuh air.

Tumbuhan yang dominan menutupi rawa ini adalah rumput glagah, teratai, berbunga merah dan putih yang sangat indah, paku-pakuan, serta tumbuhan berkayu seperti uti , waru dan betao.

Menyokong Suplai Irigasi
Bertani merupakan mata pencaharian warga sekitarnya selain mencari ikan di Rawa Aopa. Tipe vegetasi rawa, merupakan daerah limpasan menjadi tempat bermuara sungai dari pegunungan yang ada di sekitarnya sebelum mengalir bergabung dengan Sungai Konaweha. Rawa ini merupakan cekungan tempat bermuara beberapa sungai. Sungai-sungai itu antara lain Sungai Konaweha dan Sungai Lahumbuti.

Menurut Budi Prasetyo, Koordinator Perencanaan Program, Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, (BTNRAW)n, air dari rawa aopa kemudian menyusup ke bawah permukaan bumi. Lalu muncul di lembah pohara dan dinamakan Sungai Pohara.

Karena satu-satunya vegetasi konservasi Sulawesi dengan ekosistem lengkap ada di kawasan ini, maka pada tahun 1990, daerah ini ditetapkan menjadi kawasan Taman Nasional Rawaopa Watumohai (TNRAW) berdasarkan surat keputusan Menteri Kehutanan nomor 756.

Sungai Pohara, sendiri, merupakan pemasok air bagi penduduk kota kendari yang berjumlah kurang lebih 180.000 jiwa. Luas rawa secara keseluruhan lebih dari 70.000 hektar, namun tak semua masuk dalam kawasan Taman Nasioanal. Hanya 10.000 hektar di bagian hulu saja yang masuk dalam kawasan Taman Nasional.

Rupanya, potensi ini tak hanya di gunakan oleh masyarakat pesisir rawa itu sendiri. Kecamatan Lambuya sampai di Pondidaha pun  turut merasakan manfaat rawa itu sendiri, itu dijelaskan Israwan Sulpa, ST.Dipl.WRD, Plh. Kasubdin Pengairan dan Irigasi, Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Konawe. Beberapa kecamatan itu, tergolong sebagai daerah pemanfaat potensi Rawa Aopa, walau itu terjadi secara tidak langsung.

Mengapa begitu? Israwan, menjelaskan bahwa, air dari rawa aopa bermuara di sungai Konaweha, Lahumbuti dan Sungai Lalindu yang menjadi pemasok utama suplai air untuk irigasi sawah dan pasokan air minum di daerah itu.

Kata Dia,beberapa bulan lalu, beberapa desa di kecamatan Wonggeduku terendam air, akibat limpasan air dari Rawa Aopa tak tertampung oleh sungai Konaweha. Akibatnya, ratusan hektar sawah di desa Dawi-dawi dan desa Langkonawe di kecamatan itu puso, gagal panen. Ini satu-satunya kendala pihaknya dalam meningkatkan produktivitas pangan di Konawe.

Tentu semua itu tak lepas dari akibat pembukaan lahan di bagian hulu Rawa Aopa, yaitu daerah Ladongi, Kabupaten Kolaka. “ini pertanda bahwa kerusakan di hulu rawa memang tak terkendali lagi,” terangnya.

Limpasan air atau biasa disebut run off dari rawa, daerah hulu, tak lagi mampu ditampung dan diendapkan oleh rawa. Jika kondisi rawa tak membaik lagi, akibatnya, rawa yang notabene sebagai filter sedimentasi dan banjir dari pegunungan, tak berfungsi optimal, hingga air tersebut secara bebas mengalir ke sungai konaweha, karena air yang berkapasitas besar ini tak tertampung lagi di sungai itu, sasarannya adalah sawah di sekitarnya terendam banjir.

Tapi, pihaknya tak mampu berbuat banyak. Masalah ini butuh pengangan serius antar lintas stakeholders di dua kabupaten itu. Menurutnya, ini adalah kewenagan pemerintah propinsi Sultra untuk memediasi para pihak tersebut. Tak hanya itu, dia juga berinisiasi untuk membentuk sebuah wadah pengelolaan sumber daya air di lintas kabupaten ini.

Rawa Aopa

Peranannya Terhadap Tata Air, Nilai Konservasi dan Manfaatnya Bagi Masyarakat Sekitar

Bila anda warga Kota Kendari, apakah pernah terfikir berasal darimana sumber air PDAM Kendari yang setiap hari anda gunakan ? Sebagian dari anda mungkin akan menjawab dari sungai Konaweha (mengalir menuju Sampara/Pohara). Tetapi apakah anda tahu bahwa ternyata sungai Sampara memiliki empat sumber aliran air utama, yaitu sungai Konaweha dan Lahumbuti dari bagian Utara, Boro-Boro dari bagian Selatan, serta Aopa dari bagian Barat.

Dari empat aliran sungai besar tersebut, sungai Aopa ternyata memiliki peranan yang sangat penting. Tidak saja terkait dengan pemanfaatan airnya sebagai bahan baku air bersih, tetapi lebih dari itu kawasan ini juga penting untuk konservasi dan kehidupan masyarakat sekitarnya. Sehingga tidaklah berlebihan jika kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (dimana hulu sungai Aopa ini berada) menjadi kandidat “ramsar site” di Indonesia.

Rawa Gambut yang penting
Rawa Aopa merupakan satu-satunya daerah utama di Sulawesi untuk tipe lahan basah gambut (Whitten et al, 1987). Ekosistem gambut adalah sebuah ekosistem yang unik dimana lapisannya tersusun dari timbunan bahan organik mati yang terawetkan sejak ribuan tahun lalu, dan diatasnya hidup berbagai jenis tumbuhan dan satwa liar. Jika bahan organik dibawahnya dan kehidupan diatasnya musnah, maka ekosistem ini tak dapat pulih kembali.

Pada waktu aliran sungai tinggi, air sungai Konaweha (pertemuan sungai Aopa dan Lahumbuti) mengalir kembali kedaerah hulu dan menyebabkan naiknya permukaan air dalam rawa. Jadi rawa berfungsi sebagai danau pengatur aliran air dalam sistem sungai-sungai di bawah rawa itu (Anon., 1981 dalam Mustafa, M & Henderson).

Hal ini tidak terlepas kemampuan gambut sebagai penambat air (reservoir) yang dapat menahan banjir saat musim hujan dan melepaskan air saat musim kemarau. Gambut memiliki porositas yang tinggi sehingga menpu¬nyai daya menyerap air sangat besar hingga 850% dari berat keringnya (Suhardjo dan Dreissen, 1975).

Disamping memiliki peranan tata air, rawa Aopa juga menjadi habitat berbagai jenis satwa liar langka, rentan atau terancam punah. Satwa tersebut antara lain Aroweli (Mycteria cineria), Buaya (Crocodyllus porosus), Pecuk Ular (Anhinga melanogaster) dan Gymnocrex rosenbergii. Beberapa laporan monitoring migrasi satwa burung juga menyatakan bahwa rawa Aopa menjadi habitat burung migran yang secara internasional sangat penting keberadaannya.

Rawa Aopa memiliki nilai penting bagi masyarakat setempat karena menghasilkan ikan yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, baik sebagai sumber mata pencaharian maupun sebagai penambah protein keluarga. Pasokan ikan ini tidak hanya terbatas bagi masyarakat sekitar rawa Aopa, tetapi juga sampai kota Unaaha. Selain itu totole (Hypolytrum nemorum) menjadi bahan utama untuk diolah menjadi kerajinan tangan seperti tikar dan topi.

Disektor pertanian dan perkebunan, rawa Aopa berperan dalam menyediakan air secara langsung maupun menjaga ketinggian permukaan air tanah. Sehingga secara langsung maupun tidak langsung rawa Aopa ini memiliki peranan dalam menjaga ketahanan pangan daerah Sulawesi Tenggara.

Isu dan Ancaman

Konversi lahan pada daerah tangkapan air rawa Aopa (baik didalam maupun disekitar kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai) dan pengeringan rawa untuk persawahan dengan pembuatan kanal-kanal air pembuangan (terutama terjadi di daerah Kabupaten Kolaka dan Konsel), merupakan ancaman serius terhadap keberadaan rawa Aopa.

Kemampuan rawa Aopa untuk menampung air “bukannya tanpa batas”, sehingga konversi lahan pada daerah tangkapan air rawa Aopa (termasuk sungai Konaweha) akan mengakibatkan besarnya aliran permukaan (run-off) saat penghujan. Sehingga banjir akibat meluapnya air rawa Aopa semakin tidak terkendali.

Pengeringan rawa Aopa akan berdampak pada hilangnya kemampuan menyerap air (gambut yang telah kering akan membusuk dan menjadi padat sehingga tidak mampu lagi menyerap air dengan sempurna), sehingga akan meningkatkan bahaya kebakaran lahan gambut saat musim kemarau, sementara saat musim penghujan akan meningkatkan ancaman banjir terutama pada daerah yang dulunya merupakan bagian dari rawa itu sendiri.

Ada pernyataan yang menggelitik ketika banjir besar terjadi pada tahun 2000-an, salah seorang masyarakat menyatakan bahwa “banjir terjadi karena rawa Aopa”. Pernyataan ini sungguh tidak adil, karena justru rawa Aopa yang menyerap dan menampung limpasan banjir dari sungai-sungai lainnya. Bagaimana jika rawa Aopa tidak ada ? mungkin banjir dasyat terjadi, dan berapa kerugian masyarakat serta Pemerintah untuk perbaikan infrastruktur yang rusak akibat banjir ?

Disamping itu kerusakan rawa Aopa juga akan berdampak pada penurunan populasi satwa liar yang dilindungi (baik secara nasional maupun internasional), menurunnya pendapatan masyarakat khususnya dari sektor perikanan dan pertanian, serta suplay bahan baku air bersih PDAM Kendari.

Tantangan ke Depan
Dengan besarnya manfaat yang diberikan rawa Aopa dari hulu hingga hilir, sudah selayaknya seluruh penerima manfaat bersatu untuk menjaga dan melestarikan rawa Aopa dan kawasan hutan yang menjadi daerah tangkapan airnya.

Setiap sektor harus dapat memberikan informasi kepada masyarakat, bahwa kawasan ini penting bagi manfaat yang telah diterima secara ”gratis” selama ini. Salah satu contoh, mungkin PDAM Kendari dapat mengkampayekan pentingnya konservasi rawa Aopa melalui rekening pembayaran air sehingga masyarakat tahu berasal darimana air yang mereka minum, dan selanjutnya diharapkan akan memunculkan kepedulian untuk turut serta melestarikannya.

Dalam tataran kebijakan pembangunan daerah, perlindungan rawa Aopa dan daerah tangkapan airnya hendaknya dipertimbangkan dalam rencana tata ruang yang selanjutnya diimplementasikan dalam program pelestarian secara terpadu oleh semua sektor. Sehingga kedepan bila bencana datang ”alam tidak lagi disalahkan”.

Oleh :
Budi Prasetyo
Penyusun dan Penelaah Bahan Perencanaan / Ketua Pokja Perencanaan dan Evaluasi
Pada Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai

Wonua menerima naskah, foto maupun gambar. Materi diserahkan dalam bentuk elektronik ke email :timkecil_kdi@telkom.net. Untuk mengetahui fokus isu yang akan dikeluarkan, tim kecil WWF-Lestari akan mengirimkan lembar informasi tiap bulan pada masing-masing alamat. Bagi yang berminat
mengetahui fokus isu bulanan atau memperoleh CD film,
iklan ataupun hasil produksi WWF-Lestari silahkan
menghubungi Lery Iskandar, telepon : 0401 322962. Kami akan mengirimnya tanpa pungutan biaya.

2 Responses

  1. saya mohon informasi tentang buku “Community Based Tourism” karangan Ir. Anis Suratin. Dimana saya bisa mendapatkannya?
    thanks..

  2. Perltu untuk waspada terhadap peningkatan sedimentasi yang masuk di rawa aopa, karena hal tersebut akan berdampak besar terhadap tata air rawa aopa dan ekisistimnya. Mungkin diperlukan studi untuk menenmpatkan atau membuat checkdam2 pada sungai yang memberi kontribusi sedimen yang besar terhadap rawa aopa. Haryanto, Staf Balai Besar Wilayah Sungai Pomepengan Jeneberang, di Makassar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: