Rubrik Wonua, 2008-11-01

Nilai ekonomi manfaat sumberdaya hutan mangrove TN Rawa Aopa Watumohai sebesar Rp. 2.153.547.750 setiap tahunnya, dengan pemanfaatan  perikanan  (biota laut) oleh ne;ayan sebesar Rp. 1.447.672.750 atau 67,22 persen, kemudian budidaya rumput laut sebesar Rp. 680.220.000 atau 31,59 persen, pemanfaatan kayu  bakau   sebesar   Rp. 22.917.500,- 1,06 persen dan pengambilan daun nipah untuk bahan pembuatan atap sebesar Rp. 2.737.500atau 0,13 persen.

Perusahaan Air Minum (PAM) Pinanggosi dan Atari, dapat menghasilkan Rp. 363.994.765.887 dari pemanfaatan air bersih yang berasal dari TNRAW

Berlimpah Potensi

Menurut Dwi Putro Sugiarto, koordinator Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) TNRAW, untuk dapat memetakan potensi yang dapat dikelola oleh masyarakat adalah dengan cara membuat zona sebagai indikator pengelolaan. Zona itu adalah: (1) Zona Inti; luasnya 33.212,60 hektar, dengan ketinggian antara 0 m sampai dengan 975 m dari permukaan laut, meliputi lokasi : Blok hutan Makaleleo luas 3.401,24 hektar, Blok hutan Rawa Aopa, seluas 3.615,21 hektar, Blok hutan Mendoke-Watumohai seluas 24.754,39 hektar, dan Blok hutan Mangrove Lanowulu-Langkowala, seluas 1.441,76 hektar.

Ditetapkan sebagai zona inti sebab keadaan kemiringannya yang tergolong terjal. Dengan suhu rata-rata berkisar antara 22,3 derajat celsius- 30 derajat celsius.  Zona ini terdiri dari 4 tipe ekosistem, yaitu; hutan dataran rendah seluas    27.776,22 hektar, savana seluas 125,12 hektar, mangrove seluas 1.441,76 hektar dan ekosistem rawa seluas 3.869,51 hektar dengan tingkat keutuhan vegetasinya 99,96 persen.

Jenis satwa liar endemik sulawesi dilindungi diwilayah ini terdiri atas kus-kus, musang sulawesi, anoa, babi rusa, monyet hitam sulawesi, burung maleo, dan berbagai jenis burung lainnya. (2) Zona Pemanfaatan: Luasnya 4.037,56 Ha, dengan ketinggian antara 0 m sampai dengan 600 meter dari permukaan laut, meliputi lokasi : hutan rawa Aopa seluas 446,38 hektar, hutan Pinanggosi dan Susua seluas 1 .752,66 hektar, hutan savana Lanowulu seluas 1.718,94 hektar, hutan Pendidikan Tatangge seluas 65, 27 hektar dan hutan Muara Lanowulu seluas 54,61 hektar. Variasi kemiringannya masuk dalam kategori kurang terjal dengan curah hujan 1.500-2.000 milimeter per tahun, suhu rata-rata berkisar antara 22,3 derajat celsius sampai 30 derajat celsius.

Zona ini terdiri dari 4 tipe ekosistem, terdiri dari : ekosistem savana  1.784,21 hektar, hutan dataran rendah seluas 1.752,66 hektar, rawa seluas 446,38 hektar, mangrove seluas 54,61 hektar, Zona ini perlokasinya diperuntukkan untuk kepentingan wisata alam dan pendidikan lingkungan, dengan obyek wisata alam. (*)
Dari kami

Pertanyaan ini untuk Anda semua ; bila sebagian besar kekayaan alam yang tak bisa diperbaharui dikelola tanpa mempertimbangkan keseimbangan ekosistem, ekonomi bagi generasi mendatang, siapa yang paling menikmati keuntungannya di saat ini?

Apakah pemerintah bisa menjamin keseimbangan alam yang adil bagi kita hari ini dan generasi mendatang?

Bila Pemerintah menjamin naiknya peningkatan pendapatan daerah dari sektor tambang pada tahun ini hingga 5 tahun mendatang, maka bisakah kita semua memperoleh gambaran berapa besar peningkatan nilai wilayah pasca pengelolaan tambang itu kelak? Berapa pertumbuhan ekonomi yang akan kita nikmati di tahun-tahun tersebut?

Pertanyaan ini juga untuk Anda, luas wilayah kita separuhnya adalah laut dengan potensi berlimpah. Mengelola kekayaan laut dengan cara sistematik, berkelanjutan dan ramah lingkungan memberi keuntungan berganda. Mengapa ini tak dilakukan?

Bila kawasan lindung akan diturunkan presentasinya, bisakah kita mendapatkan gambaran wilayah mana yang akan menopang jaminan air bersih pada kita semua? Yang memberi penguatan pada pangan? Yang memberi pertanian kehidupan?

Saya kira jawabannya kami kembalikan kepada Anda semua.
Salam Editor
Jejak

Keindahan Taman Nasional Rawa Aopa
Berlaku Adil Mulai Sekarang

Oleh; Abdul Saban
Sinar mentari mulai melintasi hari. Cuaca mendung menyertai nuansa sejuk ketika perahu motor berkapasitas tujuh ton itu melintasi Muara Lanawulu. Sepanjang lima kilometer, hamparan hutan bakau berjejer alami membentuk sabuk hijau yang membatasi daerah savana di Kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW). Walau tampak menyeramkan, namun habitat mangrove ini sudah sering di jejaki oleh manusia, utamanya penduduk Muara Lanawulu.

Sekitar 44 Kepala Keluarga (KK) yang berasal dari daratan Tinanggea mendiami muara ini. Seperti perkampungan nelayan lainnya, rumah-rumah mereka menyerupai rumah panggung yang dibangun di atas air dengan menggunakan batang bakau. Batang pohon dengan diameter besar digunakan sebagai tonggak-tonggak utama dipancangkan ke dasar sungai. Sedangkan yang berdiameter kecil digunakan sebagai alas (lantai). Batang besar yang sudah digergaji menjadi papan-papan lebar dipakai sebagai dinding rumah. Uniknya, jumlah keluarga yang tinggal di tempat ini tak bertambah dari tahun ke tahun. Sebab, mereka sadar, daya dukung alam dan keseimbangan ekologis yang menjadi tempat mereka menggantungkan hidup akan tergganggu bila itu terjadi.

Menurut data TNRAW, Muara Lanowulu, Labasi, Labacici dan Roraya yang berada dalam kawasan TNRAW dahulu merupakan wilayah kerajaan Moronene. Ketika pendatang dari Sulawesi Selatan mencari hidup di lokasi ini dan ini dan ingin menetap, maka Raja Moronene memberikan lokasi yang dikenal dengan istilah ”Tanduale”. Selanjutnya masyarakat pendatang tersebut mulai membangun perumahan di pinggir laut. Karena rumah dan perahu mereka sering rusak karena kuatnya hempasan gelombang dan tiupan angin yang terjadi pada musim tertentu maka mereka memutuskan untuk pindah ke mulut muara.

Pada tahun 1958 gerombolan DI/TII memasuki wilayah Sulawesi Tenggara dan menjadikan wilayah ini sebagai basis. Untuk menghindari serangan dari TNI mereka bersembunyi di dalam hutan bakau dan menyebar di sungai-sungai yang ada. Daerah Tanjung Labuaya yang terletak antara sungai Roraya dan sungai Mandi-mandula selanjutnya dijadikan markas gerombolan DI/TII yang di kenal dengan nama gerombolan badik.

Pada tahun 1969 wilayah ini dan sekitarnya di tetapkan sebagai Taman Buru Dataran Rumbia, dan dikelola oleh Sub Balai PPA (sekarang Balai KSDA Sulawesi Tenggara), saat itu kembali di lakukan pengusiran. Akibat pengusiran tersebut sebagian masyarakat pindah ke desa Lanowulu yang merupakan pemekaran desa Roraya, dan sebagian lagi pindah ke Tinanggea. Namun demikian masyarakat tetap bertahan untuk ”mencari hidup” di muara, sementara rumah tinggal dan keluarga lainnya berada di Tinanggea atau desa Lanowulu.

Selanjutnya pada tahun 1990 oleh pemerintah, Taman Buru Dataran Rumbia di ubah fungsinya menjadi kawasan TNRAW. Dan setelah pengelola kawasan TNRAW terbentuk pada tahun 1998, oleh pihak Unit Balai TNRAW (sekarang
Balai TNRAW) masyarakat diajak untuk bersama-sama melestarikan hutan mangrove TNRAW (Madamang, 2003).

Hidup selaras dengan alam, itulah Penduduk Muara Lanawulu. Mereka hidup dari mencari Ikan,udang dan kepiting yang semuanya berasal dari hutan mangrove di sekitar muara itu. Sadar akan ketergantungan mereka terhadap alam, masyarkat muara sangat meperhatikan kelestarian hutan mangrove yang ada. Bila hutan mangrove rusak otomatis kelestarian ikan, udang dan kepiting juga akan terganggu karna habitat mangrove merupakan tempat hidup bagi kepiting dan tempat bertelur bagi ikan-ikan. Jadi tidaklah heran bila mereka tidak segan menghalau pencuri bakau yang sering melakukan operasi di daerah ini. “Untung ada Taman Nasional Rawa Aopa, kami tak susah mencari nafkah lagi,” kata Madamang , tokoh masyarakat Muara Lanawulu.

”Semua ada di sini, ” kata Madamang lagi.

Hutan mangrove di Rawa Aopa menjadi penopang hidup warga nelayan di sekitarnya, ikannya melimpah dan jadi sumber penghasilan. Kawasan ini juga dikenal sebagai penghasil udang dan ikan terbaik di banding pantai lain di Sulawesi Tenggara.

Blok hutan pendidikan Tatangge, merupakan blok hutan yang dikembangkan untuk mengakomodir kegiatan pendidikan lingkungan, terutama dalam kaitannya dengan penerapan kurikulum muatan lokal (diantaranya mengenai pendidikan lingkungan) tingkat SD. Blok hutan Pinanggosi dan Susua memiliki obyek wisata air terjun (air terjun pinanggosi dengan ketinggian kurang lebih 30 meter, dan air terjun susua dengan ketinggian kurang lebih 7 meter), hutan rawa Aopa memiliki potensi wisata rawa, pengamatan burung air, hutan savana Lanowulu memiliki potensi panorama alam savana, dengan  pengamatan satwa rusa, hutan Muara Lanowulu, disamping memiliki panorama alam hutan mangrove yang masih alami di sepanjang aliran sungai, dan juga aktifitas keseharian para nelayan tradisional yang cukup menarik untuk disaksikan.

Sementara pada blok yang bersebelahan (tapereng) dapat dilakukan aktifitas wisata memancing ikan bandeng. Zona Lainnya: luasnya 45.080,13 hektar, dengan ketinggian antara 0 m sampai dengan 900 m dari permukaan laut. Variasi kemiringannya tidak terjal. Curah hujan di zona ini rata-rata 1.500-2.000 milimeter pertahun. Suhu rata-rata berkisar antara 22,3 derajat celsius sampai 30derajat celsius.

Zona merupakan daerah perlindungan zona inti dari zona lainnya maupun batas luar kawasan, terdiri dari 4 tipe ekosistem, yaitu ekosistem mangrove, savana, hutan dataran rendah dan rawa.
Focus

Teater Alam di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai

Mangrove di Muara Lanawulu, hanya salah satu potret kekayaan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW). Masih banyak kekayaan alam yang terselip dalam hamparan padang rumput dan rimbunan rimbanya. Di balik hamparan savana misalnya,  ada berbagai jenis kehidupan liar khas Sulawesi. Ekosistem savana seluas 30.000 hektar ini adalah primadona TNRAW. Berlatar belakang Gunung  Mendoke dan Gunung Watumohai, padang rumput ini jadi filter sedimentasi yang berasal dari pegunungan itu ketika musim penghujan.

Kawasan TNRAW dengan tutupan vegetasi dan sumber air yang mengalir melalui sungai-sungai ke luar kawasan merupakan pengendali tata air, erosi dan banjir. Sehingga menjamin kesinambungan penyediaan air untuk pengairan lahan pertanian, suplai air bersih bagi warga kecamatan Lalembuu yang ada di sekitar kawasan konservasi ini.

Selain itu, sumbangan alam yang terbesar dari TNRAW adalaha air hujan yang masuk ke rawa aopa dan keluarannya adalah sungai Konaweha dan sungai Aopa bersatu menjadi sungai Sampara yang notabene harus terjamin keberlangsungannya agar warga kota Kendari maupun kota lain tetap bisa menikmati air bersih hingga puluhan tahun mendatang.

Sebelumnya, kawasan ini merupakan kawasan hutan Taman Buru Dataran Rumbia dan Suaka Margasatwa Rawa Aopa – Gunung Watumohai. Kawasan ini merupakan kesatuan kawasan yang memiliki empat tipe ekosistem di Sulawesi. Yaitu, ekosistem hutan seluas 64.569 hektar, ekosistem rawa 11.488 hektar, ekosistem savana 22.964 hektar dan ekosistem mangrove 6.173 hektar. Keempat ekosistem itu saling beketergantungan. Satu ekosistem rusak, maka akan mempengaruhi ekosistem lainnya.

Karena satu-satunya daerah konservasi Sulawesi dengan ekosistem lengkap ada di kawasan ini, maka pada tahun 1990, daerah ini ditetapkan menjadi kawasan Taman Nasional Rawaopa Watumohai (TNRAW) berdasarkan surak keputusan Menteri Kehutanan nomor 756.

Berdasarkan hasil survei petugas balai TNRAW tahun 2002, tercatat, sejumlah 501 jenis tumbuhan dari 110 famili. Diantaranya terdapat beberapa jenis tumbuhan yang dilindungi antara lain Damar (Agathis Hiomii) dan Kasumeeto (Dyospyros Malabarica). Selain itu, kawasan yang teletak di empat wilayah kabupaten ini, memiliki populasi 28 jenis mamalia diantaranya 13 jenis endemik sulawesi), 4 jenis Amphibia dengan 1 jenis endemik sulawesi, 7 jenis reptilia, 8 jenis pisces, 207 jenis Aves diantaranya 38 endemik sulawesi dan 9 endemik indonesia).

Layaknya teater alam, Rawa Aopa merupakan contoh keterwakilan yang baik sebagai kriteria lahan basah, karena memegang peran utama hidrologi, biologi atau proses ekologi dalam fungsi alam dari daerah aliran sungai utama, atau sistem pantai, dan yang terpenting lokasi ini berada dalam posisi daerah peralihan.

Kawasan ini memiliki empat tipe ekosistem yang saling berhubungan.  Rawa berfungsi sebagai tempat cadangan air (reservoir) dan mengatur keterjaminan air, baik dari daerah tangkapan hujan maupun air limpasan (run-off) sehingga kesatuan ekosistem ini merupakan contoh yang baik dari habitat limpasan banjir dan sumber cadangan air tawar. Sementara pada bagian tengah dan Selatan, daerah tangkapan hujan di Gunung Watumohai dan Gunung Mendoke merupakan sumber air bagi sungai sungai yang mengalir kedaerah pantai.

Sungai membawa lumpur dan membentuk dataran Lumpur di muara sungai dan pantai. Dataran Lumpur ini menjadi habitat bagi burung-burung air. Mangrove sepanjang pantai menjadi habitat memijah bagi ikan dan udang, sekalig berfungsi secara ekologis untuk menahan interusi air laut, menahan angin dan menjadi habitat utama Crocodylus porosus.

Selain itu, Rawa Aopa memiliki nilai penting bagi masyarakat setempat karena menghasilkan ikan yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, baik sebagai sumber mata pencaharian maupun sebagai penambah protein. Selain itu gelaga (Hypolytrum nemorum) menjadi bahan utama untuk diolah menjadi kerajinan tangan seperti tikar dan topi. Sampai saat ini kawasan pantainya menjadi tempat utama yang menghasilkan udang dan ikan terbaik dibandingkan daerah pantai Sulawesi Tenggara lainnya.

Ancaman dari Tambang
Rupanya Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) tak hanya diperlukan warga sebagai daerah penyangga tata air, namun banyak pula investor mulai melirik potensi tambang dan perkebunan yang tertimbun dalam perut TNRAW, diantaranya adalah pegunungan Makalelelo, gunung Watumohai yang mengandung nikel dan biji besi, padang savana jadi target perusahaan perkebunan Taioka dan muara sungai yang diperkirakan banyak mengandung emas.

Tekanan ini tentu tak datang dari pemikiran pihak investor semata, namun niat itu diamini oleh Pemerintah Daerah dengan mewacanakan rencana penurunan status kawasan. Sejumlah pejabat secara pragmatis mengatakan, apa lagi yang perlu dilindungi dari kawasan tersebut?

Menurut DR. Mubariq Achmad, Direktur Eksekutif  WWF-Indonesia, Ini tentu tak luput dari perspektif tentang peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Lagi-lagi, wacana untuk peningkatan PAD menjadi alasan pemerintah untuk menggadaikan kesejahteraan rakyat.

Jika hitung-hitungan ekonomi yang dipakai pemerintah berdasarkan rencana jangka pendek, yakni rencana pembangunan lima tahun, maka potensi tambang memang sangat ideal untuk dikembangkan. Namun, apakah peningkatan ekonomi daerah harus selalu ditargetkan lima tahun saja? Bagaimana setelah tahun ke enam dan untuk 20 tahun kedepan?

Pertanyaan yang harus dijawab pemerintah adalah, apakah rancangan tata guna lahan dan tata ruang berdasarkan nilai-nilai sosial dan peran ruang dalam ekosistem? Menurut Mubariq, pembangunan tak lepas dari ekonomi, ekonomi sendiri tak akan stabil bila kondisi alamnya rusak. Ampuan Perekonomian dan kesejahteraan tergantung pada kemampuan dan kondisi alam.

Menurutnya, pembangunan harus bisa memperbaiki kualitas hidup manusia, sebab ada keterbatasan dalam daya dukung alam dan daya dukung sosial terhadap pembangunan ekonomi. Jadi, keseimbangan produksi dan kemampuan alam adalah kunci sukses untuk mempertahankan daya dukung alam.

Lanjut Mubarik, kajian pembangunan dalam perspektif The Quality of Growth memiliki dimensi perbaikan kualitas lingkungan hidup, kualitas kehidupan ekonomi, perbaikan kehidupan masyarakat, dengan cara menemukan suber daya terbarukan, sehingga dapat memperluas kesempatan dan keberlanjutan pemanfaatan sumber daya alam. Dan… satu yang mesti ada dipikiran pemerintah kita adalah, mereka harus mampu memberikan keadilan antar generasi di masa depan.

Artinya, ada potensi yang bila terkelola baik akan menyeimbangkan ekosistem dan berdampak pada ekonomi, sosial, budaya masyarakat hari ini dan masa mendatang.
Moroni

Menjadi Penyangga Bagi Kawasan Lain

Tangkai padi menjuntai ke bumi, seakan tak mampu menahan beban yang bertumpu padanya. Bijinya telah kuning terhampar di sawah seluas 140 hektar. Puluhan orang beramai-ramai menggenggam arit turun ke sawah, tanda musim panen tiba.

Tampak Made Gita, mulai membesitkan aritnya ke perdu-perdu padi. Dia adalah salah satu petani di desa Lambadi Jaya, kecamatan Lalembuu, Konsel. Sawahnya hanya 15 hektar, namun hasilnya bisa mencapai 50 ton untuk sekali panen. Sejak tahun 1985, bersama masyarakat transmigrtasi lainnya, dia sudah mulai  membuka sawah di desa itu. Tanahnya subur, irigasi lancar, sehingga sawahnya miliknya mampu menyuplai gabah kering hingga 100 ton pertahun dengan dua kali panen.

Lambadi Jaya adalah salah satu dari sekian banyak desa yang berada di pinggir kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai. Masih ada desa-desa lain yang menjadi daerah pemanfaat kawasan TNRAW di empat kabupaten yakni kecamatan Ladongi di Kolaka, Lambuya di Konawe, Tinanggea dan Lalembuu di Konsel dan Bombana.

Rawa berfungsi sebagai tempat cadangan air (reservoir) dan mengatur keterjaminan air, baik dari daerah tangkapan hujan maupun air limpasan (run-off) sehingga kesatuan ekosistem ini merupakan contoh yang baik dari habitat limpasan banjir dan sumber cadangan air tawar. Daerah tangkapan hujan di Gunung Watumohai dan Gunung Mendoke merupakan sumber air bagi sungai sungai yang mengalir kedaerah pantai.

Sungai membawa lumpur dan membentuk dataran Lumpur di muara sungai dan pantai. Dataran Lumpur ini menjadi habitat bagi burung-burung air. Mangrove sepanjang pantai menjadi habitat memijah bagi ikan dan udang, sekalig berfungsi secara ekologis untuk menahan interusi air laut, menahan angin dan menjadi habitat utama Crocodylus porosus.

Sektor Perikanan
Rawa Aopa dan hutan mangrove dalam kawasan TNRAW merupakan habitat berbagai jenis satwa air antara lain ikan, udang kepiting dll, yang secara tradisional dimanfaatkan oleh masyarakat nelayan rawa dan pesisir. Disamping itu kawasan ini juga menjadi tempat berkembang biak yang baik bagi berbagai jenis ikan perairan laut lepas, sehingga penting didalam menjamin kelangsungan pemanfaatan perikanan di perairan laut lepas.
Penelitian Budi Prasetyo, koordinator Perencanaan Balai Taman Nasioanal Rawa Aoapa Watumohai, (BTNRAW), pada tahun 2008, mencatat, nilai ekonomi manfaat sumberdaya hutan mangrove TN Rawa Aopa Watumohai sebesar Rp. 2.153.547.750 setiap tahunnya, dengan pemanfaatan  perikanan  (biota laut) oleh ne;ayan sebesar Rp. 1.447.672.750 atau 67,22 persen, kemudian budidaya rumput laut sebesar Rp. 680.220.000 atau 31,59 persen, pemanfaatan kayu  bakau   sebesar   Rp. 22.917.500,- 1,06 persen dan pengambilan daun nipah untuk bahan pembuatan atap sebesar Rp. 2.737.500atau 0,13 persen.

Jumlah itu diperoleh dari nilai pemanfaatan langsung biota laut antara lain,  ikan, udang, kepiting, budidaya rumput  laut di kawasan taman nasional di wilayah Kabupaten Konsel, itu belum termasuk pemanfaatan di wilayah Kabupaten Bombana.

Kehidupan masyarakat nelayan di muara-muara hutan mangrove sangat bergantung pada sumberdaya alam yang ada di sekitarnya, berbagai bentuk pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar yang dapat di jumpai antara lain berupa pengambilan daun nipah untuk pembuatan atap; kayu untuk bahan pembuatan pondok, bangunan penangkap ikan dan kayu bakar; serta penangkapan ikan, kepiting, dan siput/kerang-kerangan.

Hasil perikanan dalam bentuk ikan segar atau ikan kering di pasarkan ke Tinanggea, sementara untuk jenis kepiting dan udang di pasarkan pada tengkulak dengan harga Rp. 25.000 per kilogram,  kemudian oleh tengkulak ini di ekspor ke luar negeri, sementara untuk jenis udang kecil (udang balaceng) di gunakan sebagai bahan pembuatan terasi.

Jenis sumberdaya hutan mangrove yang dijumpai pemanfaatannya dalam kawasan TNRAW di wilayah Kecamatan Tinanggea Kabupaten Konawe Selatan, adalah Udang Besar, Udang Putih, Kepiting Bakau, Kepiting Rajungan, Ikan Teri dan hasil budidaya perikanan lainnya seperti rumput laut.

Sunarti, (35) penduduk Muara Lanawulu, harga kepiting bakau sangat tergantung pada beratnya. Kepiting bakau yang berat per ekornya dibawah 300 gram dijual kepada penampung di Tinanggea dengan rata-rata harga kepiting bakau sekitar Rp.30.000 perkilogram.

Budidaya rumput laut dilakukan oleh nelayan pada bagian muara yang dekat dengan laut lepas dengan menggunakan rakit kayu. Dalam tiap satu unit rakit biasanya diisi sampai dengan 100 bentang tali nilon tempat bibit rumput laut dipasang (satu bentang tali nilon panjangnya 7 meter).

Dari masa tanam sampai dengan panen, budidaya rumput laut ini memakan waktu sekitar 40 hari (rata-rata 9 kali panen setahun). Dengan harga jual rumput laut kering berkisar mencapai Rp. 7.000 perkilogram.

Daun Nipah (Nypha fruticans) dimanfaatkan oleh masyarakat nelayan  sebagai bahan pembuatan atap pondok. Pada hutan mangrove TN Rawa Aopa Watumohai di wilayah Kecamatan Tinanggea saat ini terdapat 24 pondok nelayan, dimana rata-rata setiap pondoknya menggunakan 100-200 lembar atap daun nipah untuk atap maupun dinding pondok. Atap daun nipah ini setiap dua tahun sekali diganti dengan yang baru. Harga jual atap daun nipah ini adalah Rp. 1.500/lembar.

Dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat muara akan pentingnya kelestarian hutan bakau, maka pengambilan kayu bakau saat ini telah diarahkan pada lokasi pembukaan lahan tambak diluar kawasan TNRAW.

Pertanian
Semua pengolahan potensi sumber daya alam, tak lepas dari daya dukung alamnya. Potret pertanian yang nampak di desa Lambadi Jaya, kecamatan Lalembuu, Konawe Selatan (Konsel) adalah gambaran alam yang mendeskripsikan keremahannya terhadap orang memperlakukannya dengan baik.

Menurut Sumi Arianti (33), warga desa Atari Indah, selain sebagai daerah penyangga, Rawa Aopa berfungsi sebagai pengatur tata air bagi daerah sekitarnya, utamanya untuk pengairan dan suplai air bersih. Wanita yang juga salah satu anggota Sentra Penyuluhan Kesehatan Pedesaan (SPKP) desa Atari Indah sangat menyadari pentingnya keberadaan Taman Nasional ini.

Dalam setahun, Data TNRAW mencatat, Perusahaan Air Minum (PAM) Pinanggosi dan Atari, dapat menghasilkan Rp. 363.994.765.887 dari pemanfaatan air bersih yang berasal dari TNRAW.

Bagi orang yang telah lama mengenal kawasan konservasi ini, tentu akan sangat hati-hati memperlakukan pemanfaatannya. Seperti tekad yang ada di hati warga Atari Jaya dan Atari Indah. Secara sadar, mereka mulai menanami kembali daerah-daerah kawasan yang telah gundul akibat penebangan liar warga desa lain. Menurut Djamin Rahman Saleh, Kepala Desa Atari Indah, sumbangan sosial Taman Nasioanl ini sangat besar ketimbang sumbangan pemerintah bagi warganya. ”ini adalah bagian dari hidup kami yang tak bisa dipisahkan,” katanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: