Lembar Informasi 2008-10 Arti Taman Nasional Rawa Aopa Bagi Kita

Arti Taman Nasional Rawa Aopa Bagi Kita

Tak asing lagi mendengar nama ini, “Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW)”, Sebuah kawasan konservasi yang juga menjadi kawasan penyangga bagi kabupaten lain di Sulawesi Tenggara. Secara administrasi, kawasan ini masuk dalam empat wilayah kabupaten. Yaitu, Konawe, Konawe Selatan, Kolaka, dan Bombana.

Sebelumnya, kawasan ini merupakan kawasan hutan Taman Buru Dataran Rumbia dan Suaka Margasatwa Rawa Aopa – Gunung Watumohai. Kawasan ini merupakan kesatuan kawasan yang memiliki empat tipe ekosistem di Sulawesi. Yaitu, ekosistem hutan seluas 64.569 hektar, ekosistem rawa 11.488 hektar, ekosistem savana 22.964 hektar dan ekosistem mangrove 6.173 hektar. Keempat ekosistem itu saling beketergantungan. Satu eksosistem rusak, maka akan mempengaruhi ekosistem lainnya.

Rawa berfungsi sebagai tempat cadangan air (reservoir) dan mengatur keterjaminan air, baik dari daerah tangkapan hujan maupun air limpasan (run-off) sehingga kesatuan ekosistem ini merupakan contoh yang baik dari habitat limpasan banjir dan sumber cadangan air tawar. Sementara pada bagian tengah dan Selatan, daerah tangkapan hujan di Gunung Watumohai dan Gunung Mendoke merupakan sumber air bagi sungai sungai yang mengalir kedaerah pantai.

Sungai membawa lumpur dan membentuk dataran Lumpur di muara sungai dan pantai. Dataran Lumpur ini menjadi habitat bagi burung-burung air. Mangrove sepanjang pantai menjadi habitat memijah bagi ikan dan udang, sekalig berfungsi secara ekologis untuk menahan interusi air laut, menahan angin dan menjadi habitat utama Crocodylus porosus.

Lalu, apa arti semua ini bagi warga Sulawesi Tenggara?

Rawa Aopa memiliki nilai penting bagi masyarakat setempat karena menghasilkan ikan yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, baik sebagai sumber mata pencaharian maupun sebagai penambah protein. Selain itu gelaga (Hypolytrum nemorum) menjadi bahan utama untuk diolah menjadi kerajinan tangan seperti tikar dan topi. Sampai saat ini kawasan pantainya menjadi tempat utama yang menghasilkan udang dan ikan terbaik dibandingkan daerah pantai Sulawesi Tenggara lainnya.

Karena satu-satunya daerah konservasi Sulawesi dengan ekosistem lengkap ada di kawasan ini, maka pada tahun 1990, daerah ini ditetapkan menjadi kawasan Taman Nasional Rawaopa Watumohai (TNRAW) berdasarkan surak keputusan Mentri Kehutanan nomor 756.

Berdasarkan hasil survei petugas balai TNRAW tahun 2002, tercatat, sejumlah 501 jenis tumbuhan dari 110 famili. Diantaranya terdapat beberapa jenis tumbuhan yang dilindungi antara lain Damar (Agathis Hiomii) dan Kasumeeto (Dyospyros Malabarica). Selain itu, kawasan yang teletak di empat wilayah kabupaten ini, memiliki populasi 28 jenis mamalia diantaranya 13 jenis endemik sulawesi), 4 jenis Amphibia dengan 1 jenis endemik sulawesi, 7 jenis reptilia, 8 jenis pisces, 207 jenis Aves diantaranya 38 endemik sulawesi dan 9 endemik indonesia).

Ancaman

Saat ini, ekosistem Taman Nasional Rawa Aopa mengalami tekanan dengan adanya rencana kebijakan untuk menurunkan status kawasan. Sejumlah pejabat secara pragmatis mengatakan, apa lagi yang perlu dilindungi dari kawasan tersebut?

Rawa Aopa merupakan contoh keterwakilan yang baik sebagai kriteria lahan basah, karena memegang peran utama hidrologi, biologi atau proses ekologi dalam fungsi alam dari daerah aliran sungai utama, atau sistem pantai, khususnya lokasi ini berada dalam posisi daerah peralihan. Pada bagian Utara, air hasil tangkapan hujan masuk ke rawa aopa dan keluarannya adalah sungai Konaweha dan sungai Aopa bersatu menjadi sungai Sampara yang notabene harus terjamin keberlangsungannya agar warga kota Kendari maupun kota lain tetap bisa menikmati air bersih hingga puluhan tahun mendatang.

Ini tentu tak luput dari perspektif tentang peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Jika hitung-hitungan ekonomi yang dipakai pemerintah berdasarkan rencana jangka pendek, yakni rencana pembangunan lima tahun, maka potensi tambang memang sangat ideal untuk dikembangkan. Namun, apakah peningkatan ekonomi daerah harus selalu ditargetkan lima tahun saja? Bagaimana setelah tahun ke enam dan untuk 20 tahun kedepan? Apakah keseluruhan kebijakan itu juga mengacu pada tata ruang yang berimbas pada daerah lain? Ini mesti jadi pemikiran kita bersama.

Artinya, ada potensi yang bila terkelola baik akan menyeimbangkan ekosistem dan berdampak pada ekonomi, sosial, budaya masyarakat hari ini dan masa mendatang.

Untuk keterangan lebih lanjud hubungi :
Budi Prasetyo – 081341633383

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: