Lembar Informasi 2008-08

Lembar Fakta Sekolah Rakyat Butuni (Serabut)

Kabupaten Buton merupakan gugusan pulau besar paling terluar dalam wilayah Propinsi Sulawesi Tenggara. Luas daratannya 2.488,71 Km2 atau setara dengan 248.871 Ha dan wilayah perairan 21.054 Km2 atau setara dengan 21.054 Ha. Data Sensus Badan Pusat Statistik Tahun 2005 menunjukkan jumlah penduduk Kabupaten Buton saat ini sebanyak 137.436 jiwa, yang terdiri dari laki-laki 132.664 jiwa dan perempuan 137.436 jiwa.

Sejak pemerintahan orde baru Kabupaten Buton telah di canangkan menjadi wilayah konsesi pertambangan aspal, mangan dan pasir besi yang terkandung dalam perut bumi Buton seluas 40.771 Ha. Pada era otonomi daerah, Pemerintah lalu menetapkan 38 lokasi/Blok konsensi (pertambangan skala besar untuk 16 investor yang telah mengantongi izin Menteri Pertambangan dan Energi maupun Bupati Buton.

Perusahaan itu antara lain ; (1) PT.Sarana Karya, (2) PT.Olah Bumi Elcipta, (3) PT. Yuman Jaya Tama, (4) PT.Summitama Intinusa, (5) PT.Mega Utama Indah, (6) PT.Metrix Elcipta, (7) PT.Putindo Bintech, (8) PT.Karunia Alam Indonesia, (9) PT. Asia Mineral Samudra, (10) PT.Sultra Raya Tambang, (11) PT.Imperial Resources, (12) PT. Karya Mega Buton, (13) PT.Timah Tbk, (14) PT.Bumi Pertiwi Kencana, (15) PT.Titrasantana Indah Permata, (16) PT.Cendana Baja Bahari.

Selain tambang, PT Kurnia, investor lain juga mengajukan izin untuk mengelola 500 hektar lahan menjadi perkebunan sawit di Kecamatan Lasalimu

Sejak 2 tahun terakhir, PT. Kurnia salah satu investor Perkebunan Besar sedang berusaha mendapatkan Izin konsensi seluas 500 Ha untuk perkebuanan Sawit di Kecamatan Lasalimu.

Apa yang kami khawatirkan adalah, investasi tambang dan sawit mengancam hutan konservasi seluas 29.320 ha. Berbagai investasi itu berada pada kawasan cagar Alam Kakinawue, kawasan suaka margasatwa lain. Pengalaman sebelumnya menunjukkan, pengelolaan tambang yang dilakukan PT Timah dan PT Sarana Karya telah merusak hutan-hutan primer di kawasan hutan Lawele dan mengakibatkan degradasi lingkungan.

Efeknya buruk, karena menimbulkan masalah lain pada aspek sosial, ekonomi, dan budaya pada warga yang bermukim di sekitar wilayah pertambangan. Warga mengalihkan hak kepemilikan tanah adat untuk kepentingan investasi, meninggalkan pekerjaan tani, kehilangan pekerjaan dan tak memperoleh hasil dari investasi tersebut.

Sebagai lembaga yang konsen dengan pendampingan komunitas-komunitas adat, kami mendorongkan tumbuhnya kemandirian warga untuk mengelola sumberdaya alamnya dan mempertahankan sistem nilai dan kelembagaan adat.

Informasi lebih lanjut hubungi Abdi Hayat. Mobile : 0856 96979381

*** Lembar fakta yang diajukan oleh Serabut pada halaman ini merupakan sebuah contoh kasus maraknya pembukaan lahan pertambangan di pulau Buton

One Response

  1. wah…

    orang buton yah..?

    salam,— orang Raha ..

    http://galeter.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: