Lembar Informasi 2008-06 Mengapa Harus Tambang

Mengapa Harus Tambang

PULAU Kabaena merupakan pulau kecil yang terletak di bagian selatan garis khatulistiwa. Secara administrasi, pulau seluas 867,89 km persegi ini masuk dalam wilayah hukum Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara dan memiliki sekitar 13.000 jiwa penduduk yang mayoritas etnik Moronene. Pertanian dan perikanan adalah mata pencaharian pokok masyarakat setempat. Di pulau yang terkenal sebagai penghasil gula aren yang terbaik di Sulawesi Tenggara. Sebagai pulau kecil dengan penduduk sedikit, ikatan emosional dan pematuhan atas hukum adat dan budaya sangat melekat dalam perilaku masyarakat. Hampir tak ada celah untuk konflik horizontal.

Walau begitu, tak berarti pulau ini aman-aman saja. Semenjak pemekaran kabupaten dilakukan, kabupaten Bombana menerima limpahan kebijakan dari pemerintah setempat berupa izin pengelolaan tambang pada 19 perusahaan.

Dari 19 kuasa pertambangan tersebut, beberapa diantaranya sudah masuk pada tahapan eksploitasi. Pemerintah menyatakan, Kabupaten Bombana tepat untuk menjadi wilayah tambang karena kandungan nikel di perut bumi, menyusul besarnya permintaan pasar dunia atas nikel. Pengelolaan tambang juga dipastikan bisa meningkatkan pendapatan asli daerah dan kesejahteraan warga, walaupun Pemerintah mengakui wilayah Kabupaten Bombana belum memiliki tata ruang yang seharusnya bisa menjadi pijakan untuk membagi alokasi usaha yang tepat sesuai potensinya.

Pertambangan juga mendapat sorotan dari penggiat lingkungan karena sejauh ini belum ada bukti nyata bahwa pengelolaan tambang bisa dilakukan dengan tanggungjawab penuh, terbuka dan tidak merusak. Pengelolaan tambang, terutama kuasa pertambangan juga dikhawatirkan akan memberi kerusakan lingkungan berdampak panjang karena pendeknya usia pengelolaan tambang yang dipegang Kuasa tambang tersebut. Alhasil,pada masa mendatang kemiskinan dan kerusakan lingkungan akan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari warga Kabaena. Padahal, bukankah di Kabaena komoditi perkebunan dan perikanan memiliki prospek cerah bila di olah dengan baik?

One Response

  1. Produk/Komoditi Potensial Desa Rahadopi (Kabaena Secara Umum)

    a. KOMODITAS PERKEBUNAN :
     GULA AREN
    Gula merah dari sadapan nira pohon aren adalah komoditas andalan Desa Rahadopi. Produk yang dihasilkan nyaris sepanjang tahun ini memiliki serapan pasar yang sangat baik. Kebutuhan pasar akan produk ini, kendati belum terdata dengan baik (serapan pasar dalam kuantitas, wilayah serapan, mapping jalur distribusinya), namun menunjukkan tanda-tanda yang bagus untuk lebih dikembangkan dan pasarnya dilebarkan baik di dalam dan di luar Sultra.
    Beberapa kendala yang harus menjadi perhatian antara lain:
    1. Tehnologi penyimpanan; agar produk ini mampu bertahan dalam jangka waktu lama, perlu diupayakan tehnik penyimpanan yang baik. Sementara ini, masyarakat mengupayakan tehnik penyimpanan secara tradisional yakni dengan pengasapan.
    2. Informasi pasar dan permainan harga; warga/produsen gula saat ini tertutup dari informasi pasar berkenaan dengan harga produk ini secara lokal, regional dan nasional. Mengingat kebutuhan akan gula merah yang sangat tinggi, baik untuk pasar rumah tangga dan industri, maka informasi semacam ini sangat penting untuk kelangsungan usaha dan kehidupan ekonomi warga/produsen. Karena tidak adanya informasi yang memadai, seringkali warga/produsen terjebak dalam permainan harga diantara pengumpul (ijon), distributor/suppliers. Warga/produsen tidak menjadi penentu harga, tetapi hanya sebagai buruh (mesin produksi?) yang harus terus menghasilkan produk memenuhi permintaan pasar yang demikian tinggi, sementara secara ekonomi posisi mereka terjepit. Distributor/suppliers yang kadang mematok harga beli yang demikian rendah (Rp1.200,-/bks), sehingga pengumpul/ijon ikut menurunkan harga beli di bawah Rp1.000,-/bks. Jika dihitung dari ongkos produksi (mulai penyadapan nira, pengangkutan ke tempat pemasakan, proses pengolahan, pencetakan, waktu pengeringan, sampai pengemasan) harga beli tersebut tidak menutupi.

    3. Peluang perluasan pasar; di Indonesia, usaha gula merah hanya dilakukan dengan bahan baku air sadapan (nira) aren dan nira kelapa. Usaha ini pun tidak banyak dilakukan, sedangkan kebutuhan pasar sangat tinggi. Gula merah Kabaena dapat diarahkan pada pasar yang lebih luas dan besar. Jawa bisa menjadi sasaran pemasaran yang baik, mengingat harga produk ini bisa menembus Rp8.000,-/bks untuk pasar biasa, dan Rp11.000,- untuk pasar modern (supermarket, mall, dll.). Untuk bisa menembus pasar-pasar tersebut perlu dilakukan upaya dalam perbaikan mutu gula dan kemasan yang sesuai dengan kualifikasi produk yang baik dan sehat. (wawancara; pengumpul / pemerintah desa rahadopi)
     JAMBU METE/CASHEW NUTS (+10 ton/minggu).
    Mete adalah salah satu produk pertanian andalan desa ini. Dalam musim panen antara bulan oktober dan november dapat dihasilkan kurang lebih 20 ton/minggu atau 80 ton/bulan (+160 ton/panen). Pada bulan biasa berkisar +5 – 10 ton/bulan. (data angka; pengumpul desa rahadopi)
     KOPI.
    Masih perlu data yang lebih akurat untuk produk ini dari desa Rahadopi. (cari data; di pengumpul / pemerintah setempat)
     CENGKEH.
    Masih perlu data yang lebih akurat untuk produk ini dari desa Rahadopi. (cari data; di pengumpul / pemerintah setempat)
     KEMIRI.
    Masih perlu data yang lebih akurat untuk produk ini dari desa Rahadopi. (cari data; di pengumpul / pemerintah setempat)
     MERICA.
    Masih perlu data yang lebih akurat untuk produk ini dari desa Rahadopi. (cari data; di pengumpul / pemerintah setempat)
     COKELAT (Cocoa).
    Masih perlu data yang lebih akurat untuk produk ini dari desa Rahadopi. (cari data; di pengumpul / pemerintah setempat)

    b. Komoditas Lain :
     GULA KELAPA (Aren).
    Produk ini biasanya hanya sebagai buah tangan yang sengaja dibawa orang yang mengunjungi desa Rahadopi atau pulau Kabaena umumnya. Produk ini termasuk penganan ringan yang gurih dan legit. Karena keistimewaan dalam pengolahan dan kemasannya, produk ini menjadi penciri kuliner dari Kabaena. Kendati demikian, di setiap tempat/desa di Kabaena memiliki cara pengolahan dan pengemasan berbeda. Namun, warga desa Rahadopi menguasai tehnik pembuatan yang baik sehingga ciri khas rasa dan bentuknya tetap seperti dulu. Produk ini sangat potensial dikembangkan menjadi usaha rumahan yang dapat diandalkan untuk menambah pendapatan masyarakat. Hambatan masih berkisar bahan baku gula yang baik, pasar, penyempurnaan tehnik pengolahan dan pengemasan. (wawancara; warga & pemerintah desa rahadopi)
     METE OLAHAN.
    Sementara ini jenis produk ini belum dikembangkan. Lebih banyak produk yang keluar dari desa Rahadopi berupa mete gelondongan (raw cashew) hingga pendapatan ekonomi petani dari produk ini masih terbatas. Produk mete olahan berpotensi dikembangkan dan dapat dilakukan. Hambatan masyarakat berupa pasar, teknik pengolahan yang baik, dan tehnologi pengemasan. (observasi; potensi desa rahadopi)
     SERABUT ENAU (ijuk).
    Produk yang berbahan dasar ijuk enau sementara ini masih dimanfaatkan secara terbatas dan tidak bertujuan komersial oleh masyarakat setempat, berupa tali ijuk. Sedang bahan dasarnya sendiri (ijuk) sangat banyak dan mudah diperoleh. Produk yang potensial dikembangkan dari ijuk enau di desa Rahadopi adalah produk peralatan rumah tangga (sikat, sapu, kemoceng ijuk, pemijah nener/ikan, dll). Kendala berupa pasar, teknik pengolahan yang baik, dan tehnologi pengemasan. (observasi; potensi desa rahadopi)
     KOLANG-KALING.
    Produk yang satu ini termasuk produk yang sangat potensial dikembangkan. Sebagai produk makanan, buah enau sangat banyak dan saat ini tidak dimanfaatkan dengan baik, padahal potensi pasarnya sangat terbuka dan luas. Kendala berupa pasar, teknik pengolahan yang baik, dan tehnologi pengemasan. (observasi; potensi desa rahadopi)
     TEPUNG ENAU.
    Produk ini termasuk dalam produk yang sangat dibutuhkan masyarakat. Di desa rahadopi pemanfaatan tepung/sagu enau memang belum intensif dilakukan, sebab pohon enau baru dimanfaatkan sebagai sumber sadapan nira enau sebagai bahan dasar pembuatan gula enau. Kendala berupa pasar, teknik pengolahan yang baik, dan tehnologi pengemasan. (observasi; potensi desa rahadopi)
     MADU HUTAN.
    Di desa Rahadopi, madu juga termasuk HHNK (hasil hutan non kayu). Warga sepanjang desa rahadopi, sampalakambula dan tangkeno tetap menjaga hutan seperti dahulu kala. Penebangan kayu diatur dengan hukum adat jadi tidak dilakukan secara sembarangan. Aturan adat itulah yang membuat HHNK terjaga dan melimpah, salah satunya madu hutan (alam). Madu hutan sangat banyak antara bulan agustus sampai november, puncaknya pada bulan oktober dan november setiap tahunnya. Masyarakat menandai awal pengambilan madu hutan yakni pada saat bunga mangga telah jatuh ke tanah. Belum ada data tentang jumlah madu yang dihasilkan setiap musim madu, namun yang pasti madu hutan dari desa Rahadopi termasuk madu bermutu tinggi, tanpa bahan campuran atau pengawet apapun. Kendala berupa pasar, teknik pengolahan yang baik, dan tehnologi pengemasan. (wawancara & observasi; pengumpul / pemerintah desa rahadopi)
     GULA SEMUT.
    Produk ini termasuk produk olahan lain dari gula aren. Dengan tehnik dan cara pembuatan yang berbeda, produk ini kerap menggantikan penggunaan gula pasir/tebu dalam keseharian. Kendati warga belum secara intensif menggunakan produk ini sebagai alternatif pengganti gula pasir, namun sangat besar kemungkinan produk ini dikembangkan lebih jauh. Kendala berupa pasar, teknik pengolahan yang baik, dan tehnologi pengemasan. Cara pembuatan (wawancara; pemerintah desa rahadopi)
    c. Produk lain :
     MEUBEL BAMBU (Meja/kursi dan perabot rumah tangga lainnya) (wawancara; pemerintah desa rahadopi)
     KERAJINAN BAMBU/BULUH. (wawancara; warga & pemerintah desa rahadopi)
     KERAJINAN TANGAN (Handycraft): (observasi; pemerintah desa rahadopi)
    1. Motif khas moronene (ukir, cetak kain, dll).
    2. Produk daun pandan (tikar, tas, keranjang, dll).

    * angka komoditas (dalam ton).
    ** observasi & wawancara; warga, pemerintah desa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: