Insert Media Lingkungan, 2008-05-22

Berebut Air Di Tengah Surplus Beras

Oleh :Rustam

Musim kemarau sangat ditakuti para petani sawah. Banyak sawah menjadi kering dan tak dapat diolah akibat krisis air.  Ancaman konflik sesama petani pun kerap terjadi hanya untuk mendapatkan suplai air dari bendungan. Ketakutan itu membayangi warga desa di kecamatan Abuki, kabupaten Konawe. Ada sekitar 1.000 ha sawah di delapan desa di kecamatan Abuki kesulitan air saat musim kemarau. Petani harus antri mendapatkan air, itu pun berebutan. 

“Wah, kalau musim kemarau mas tidak usah dicerita. Kami sering bertengkar dengan teman-teman gara-gara air,” tutur Pardi, salah seorang petani padi. 

Menurut Pardi, saat ini musim tidak lagi menentu dan sulit diprediksi. “Kalau dulu musim hujan dan musim panas kita masih bisa tahun bulannya, tapi sekarang sudah tidak bisa lagi,” ujarnya.

Petani lainnya, Idim menuturkan, saat musim kemarau dia terpaksa menanam padi jangka pendek, seperti padi Mekongga, 64, dan padi Seram. Sedangkan pada musim hujan, dia menanam padi jangka panjang seperti padi Sarti, Ciliwung, 33 dan Santana. Musim kemarau juga terancam gagal panen dan banyak penyakit yang bermunculan.

“Ini terpaksa kami lakukan karena harus menyesuaikan ketersediaan air. Di musim kemarau terkadang banyak penyakitnya dan rumput yang tumbuh susah dicabut,” ujarnya

Keluhan para petani ini baru dirasakan tahun 2000-an, saat debit air sungai Lahambuti, yang berada di DAS Konaweha mulai menurun. DAS yang kita bahas ini adalah suatu bentang lahan yang dibatasi oleh punggung bukit pemisah aliran (topographic divide), yang menerima, menyimpan, dan mengalirkan air hujan melalui jaringan sungai dan bermuara di satu patusan (single outlet) di sungai utama menuju danau atau laut. Seluruh wilayah daratan terbagi habis dalam DAS-DAS. Setiap DAS terbagi habis ke dalam Sub DAS.

DAS Konaweha meliputi enam wilayah administrasi yaitu Kolaka Utara, Kolaka,Konawe,Konawe Utara, Konawe Selatan dan Kota Kendari. DAS yang mengairi Konawe, Kolaka dan Konawe Selatan menjadikan wilayah ini dikenal sebagai sentra produksi pangan di Sultra khususnya beras. 

Dekade 90-an, air yang melimpah menyebabkan para petani tidak perlu antrean. “Tapi sekarang? kami harus berebutan air,” kata Sutrisno, petani padi lainnya.

Kepala desa Asolu, H.Fatahuddin yang tinggal sejak 1985 di desa itu menuturkan, belasan tahun sebelumnya penebangan kayu dan pembukaan lahan untuk perkebunan kerap terjadi. Aktivitas itu terhenti setelah pemerintah mengeluarkan larangan penebangan kayu. Tapi terlambat, kerusakan itu telah menjalar dan menyebabkan sedimentasi di DAS Konaweha.  “Saya lalu sampaikan ke dewan, kalau tidak segera diperhatikan, 10 tahun kedepan sungai itu akan kering,” ujarnya.

Selain mengingatkan DPRD, pihak desanya mengupayakan pengawasan hutan agar debit air terjaga. “Kami buat Peraturan desa yang melarang melakukan pembukaan lahan di pegunungan, yah tapi kadang  masih dilanggar juga,” kata Fatahuddin. 

Minus atau Surplus?

Dinas Pertanian Konawe menyatakan tahun 2007 lalu terjadi surplus beras yang cukup mengembirakan. Tapi ternyata surplus tersebut diiringi pembukaan atau pencetakan sawah baru. Data Dinas Pertanian Sultra menunjukkan pada  tahun 2007 lalu, Konawe memperoleh ratusan ha untuk pencetakan sawah baru. 

Tahun 2008 ini, Konawe kembali memperoleh kuota 1.000 ha untuk mencetak sawah baru. Dengan adanya penambahan sawah baru, Pemda Konawe tetap optimis tahun ini masih terjadi surplus. Pertanyaannya, apakah percetakan sawah baru bisa menyelesaikan persoalan yang disebabkan oleh menurunnya debit air?

“Makanya ini yang harus dibicarakan bersama,” kata Imam Subagiyo, Kadis Pertanian Sultra. Menurutnya, fakta di lapangan menunjukkan sejumlah kawasan persawahan yang mengandalkan bendungan kini mengalami kekeringan. “Kita harus duduk bersama membicarakan pengelolaan DAS. Semua kabupaten harus terlibat karena memanfaatkan air dari sungai Konaweha,” kata Imam Subagiyo.   

Kondisi DAS Konaweha sangat  tergantung pada kestabilan hutan di sekitar hulu, hilir dan bagian tengah. Hasil inventarisir Badan Pengelola Daerah Aliran (BP DAS) Sampara menunjukkan, bagian sungai mulai dari hulu hilir dan bagian tengah saat ini telah mengalami tekanan yang hebat akibat terjadinya konversi lahan untuk perkebunan, pertanian lahan kering yang tidak konservatif, pengembangan wilayah otonom (pemekaran). Tekanan itu menimbulkan sedimentasi tinggi dan mempengaruhi pola aliran sungai dan kualitas air.

Kasubdin Pengembangan Program BP DAS Sampara, Mahendro menjelaskan saat ini telah terjadi kerusakan daerah resapan air  di sekitar DAS Konaweha. Akibatnya, debit air pada sungai Lahambuti dan sungai Konawe menurun drastis.  Dampaknya adalah krisis air yang paling dirasakan oleh petani sawah. 

“Kita memerlukan kerjasama lintas kabupaten, lembaga, profesi antar kelompok warga di hulu, tengah maupun hilir  untuk membahas ini,” ujarnya. 

Ia mengatakan, saat ini pengeloaan DAS tumpang tindih lintas sektoral, baik antara Dinas Kehutanan, BP DAS dan Dinas Pekerjaan Umum bidang pengairan yang seharusnya berkontribusi mengamankan kawasan hutan di daerah hulu DAS, mengurangi air limpasan (Run Off), memperbanyak resapan air (Infiltrasi) melalui rehabilitasi hutan dan lahan. 

Kepala Badan Metereologi dan Geofisika (BMG) Kendari, Adi Setiadi mengatakan kerusakan hutan sangat mempengaruhi curah hujan. Semakin besar kerusakan hutan, semakin menurun pula curah hujan. Kerusakan hutan secara global juga menyebabkan bergesernya musim.

“Saat ini musim mulai bergeser. Petani sulit lagi memprediksikan kapan musim hujan dan musim panas tiba. Ini juga disebebkan kerusakan vegetasi di bumi. Hujan yang seharusnya turun tidak jadi akibat pengaruh angin yang begitu kencang,” ujarnya. (***)  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: