Rubrik Wonua, 2008-04-29

Fokus

Si Alternatif yang Terabaikan.

Hado Hasina, Wakil Kepala Dinas Pertambangan Propinsi Sultra mengatakan bahwa sumber daya yang menunjang kegiatan energi fosil di Sultra tidak ada, di sisi lain BUMN seperti PLN dan Pertamina dituntut untuk menyediakan kebutuhan energi kepada masyarakat secara optimal. “Ini pekerjaan besar buat kami”, kata Hado Hasina kepada wartawan dalam acara Kelas Energi yang diselenggarakan oleh WWF Indonesia di Hotel Plaza In 14/4 lalu.

Berdasarkan data dinas pertambangan propinsi Sultra tahun 2007, sekitar 611 desa belum teraliri listrik dari 1.911 desa yang ada di Sultra, bila dibandingkan dengan data PLN cabang Kendari tahun 2005, 1.733 Desa di 117 Kecamatan yang tersebar pada 10 Kabupaten/Kota se Sulawesi Tenggara (Sultra), sekitar 63% diantaranya belum terlayani aliran listrik PLN.  Untuk itu, lanjut Hado Hasina, saat ini PLN tidak dapat diandalkan untuk menyuplai kebutuhan listrik di Sultra. Menurutnya, satu-satunya jalan yang akan ditempuh oleh pihaknya adalah melakukan konversi energi.  Pemerintah Daerah Sultra lalu berusaha mengajak investor untuk berinvestasi pembangkit tenaga listrik non BBM, yakni 57 % batu bara.

Ia mengatakan, Indonesia dianugerahi dengan limpahan gas alam dan batu bara, pancaran sinar matahari sepanjang tahun dan banyaknya bentangan aliran sungai yang deras. Hampir tidak dapat dipercaya bila bangsa ini kekurangan energi. Potensi ini, mestinya membuat seluruh pelosok tanah air terang benderang dan usaha kegiatan usaha bisa berjalan maksimal dengan produk yang bermutu.

Sayangnya, pemerintah maupun orang yang berkompeten dalam bidang ini tidak memanfaatkan potensi sumber energi itu. Kenyataannya, bangsa ini makin terpuruk. Semua sendi kehidupan bangsa ini mengalami krisis. Begitu krisis energi mulai melanda Indonesia, masyarakat maupun kaum intelktual menyambutnya dengan histeris. Demonstrasi yang rusuh dan kemacetan adalah aksi yang sudah lumrah bagi pemerintah.

Bisa dibilang, masyarakat tidak sempat menduga akan adanya krisis listrik, kelangkaan BBM dan krisis energi lainnya. Saat ini, demam krisis energi merupakan gejala yang sudah mewabah dikalangan masyarakat Indonesia, kemudian muncul pertanyaan dibenak kita, siapa yang salah? Apakah pemerintah yang over akting mengeksploitasi habis-habisan sumber energi mineral Indonesia, ataukah diri kita sendiri yang tidak pernah berpikir untuk menghemat energi tersebut.

Seperti kita ketahui, demi peningkatan devisa pemerintah orde baru menjadikan energi fosil sebagai komoditas unggulan yang diekspor secara besar-besaran. Sebaliknya, negara lain malah menimbun energi fosilnya dalam tanah. Alhasil, stok energi fosil Indonesia makin minipis, sampai-sampai untuk melayani kebutuhan energi, pemerintah mulai mengimpornya dari negara lain. Dari tahun ketahun, harga bahan mentah minyak dunia selalu menunjukan kenaikan, kita tidak perlu heran akan hal ini, karena suplai pasokan bahan minyak mentah dunia khususnya Indonesia semakin berkurang. Dari berbagai kenyataan tersebut, hendaknya pemerintah lebih proaktif untuk mencari sumber energi baru dan terbaharukan.

Di satu sisi masalah peningkatan konsumsi energi listrik ini mendapat sorotan dari berbagai pihak untuk segera dipecahkan. Seperti yang dilansir harian Kompas menunjukan kian banyak kegiatan usaha yang tidak mengandalkan sepenuhnya pasokan listrik dari PLN. Mereka terpaksa membangun pembangkit listrik sendiri walau berakibat pada peningkatan biaya tetap, sehingga menggerogoti daya saing. Sedangkan usaha kecil yang tak mampu mengadakan listrik sendiri, terpaksa harus pasrah dengan mengurangi jam produksi mereka karena PLN kerap melakukan pemadaman.

Perlu kita pahami, kebutuhan energi global dalam 30 tahun ke depan akan meningkat dua kali lipat per tahunnya. Pada 40 tahun mendatang, kebutuhan meningkat lagi menjadi tiga kali lipat atau setara dengan energi 20 miliar ton minyak bumi.

Jejak

Arkgh…?,?,**!! Mati Lampu

Pertanyaan tersebut merupakan kutipan surat salah seorang anak Kelas III Sekolah Dasar di kota Kendari yang dibacakannya langsung di depan Gubernur Sultra Nur Alam dalam acara hari Bumi pada 19 April lalu. Ini salah satu pertanyaan anak Indonesia yang sudah sering kita dengarkan. Sangat wajar, bila anak seusia dini sudah mulai khwatir dengan kritis listrik yang ada saat ini.

Sudah hampir setahun ini hingga beberapa bulan kedepan PT. PLN (PERSERO) cabang Kendari memberlakukan program pemadaman bergilir sejak pukul 17.30  hingga 23.00. wita, sebagai akumulasi dari program penghematan energi listrik. Program PLN ini justru mendapat kritikan tajam dari berbagai pihak. Abdul Muis misalnya, kesehariaanya sebagai pengusaha es batu yang di jual kepada nelayan, mengaku usahanya sangat rugi, karena seringnya pemadaman listrik. “Saya terpaksa harus mengurangi pasokan es batu, takut esnya tak membeku”, katanya.

Bahkan Rumah Sakitpun tidak luput dari rutinitas pemadaman listrik bergilir. Pihak rumah sakit Propinsi Sultra melalui Kapala bagian hubungan masyarakatnya, Defriana Delli mengatakan mereka merasa dilematis menghadapi kendala krisis listrik ini. “Satu sisi kami berusaha optimalkan pelayanan pasien, tapi kenyataannya, jadwal operasi harus disesuaikan dengan jadwal pemadaman bergilir dari PLN,” katanya.

Yunaningsih (28 th) adalah pasien yang operasi ginjalnya disesuaikan dengan jadwal pemadaman listrik.

Fauzi Arubusman, PT. PLN (Persero) Cabang Kendari menjelaskan PLN kini tengah menghadapi krisis energi.  Mesin pembangkit listrik yang telah berusia belasan tahun tak mampu ketersediaan listrik disaat beban puncak. PLN juga membutuhkan biaya besar untuk merawat semua mesin tersebut.

Menurutnya, PLN mengalami kerugian dari tahun ke tahun. Perusahaan ini tak diuntungkan selama beroperasi di Sulawesi Tenggara. “Banyak yang berpikir,semakin tinggi biaya yang mereka bayar ke PLN semakin untung kami, padahal itu tidak,” kata Fauzi. Justru sebaliknya, semakin banyak penggunaan perangkat listrik, beban PLN besar pula.

Kota Kendari saat ini memiliki dua sektor utama yang menyuplai energi listrik ke masyarakat, salah satu diantaranya adalah Pembangkit Listrik Jawa Bali (PJB) Poasia yang berkapasitas 12,5 Mega Watt (MW). Di sektor ini terdapat lima mesin pembangkit listrik berjensi diesel yang menggunakan bahan bakar MFO sejenis fill oil (kualitasnya di bawah solar).

Apa yang terjadi saat ini menjelaskan satu hal ; Pemerintah berkewajiban mencari alternatif pembangkit listrik yang lebih ramah lingkungan dan mampu memenuhi kebutuhan listrik warga. Selain itu warga juga dituntut hemat listrik, terutama saat disaat beban puncak yakni pukul 17.30- 23.00. Karena itu saatnya mengatakan pada Pemerintah ; bantu listrik kami dengan energi yang ramah lingkungan.

Dari Kami

Krisis Energi

Rasanya tak aneh lagi bila lampu padam tiba-tiba. Dalam setahun belakangan, kita menjadi biasa pada pergiliran pemadaman listrik yang dilakukan PLN.  PLN kesulitan dan tak mampu membiayai operasional pembangkit listriknya. Sedang pemerintah masih dalam tahap mencari investasi yang cocok bagi pengembangan energi listrik di Sulawesi Tenggara. Kita bisa saja maklum, tapi sekaligus bertanya ; mengapa pengembangan energi alternatif tak menjadi pemikiran pemerintah maupun pihak swasta sejak dulu? Padahal Sulawesi Tenggara kaya dengan sumberdaya alam yang bisa dimanfaatkan sebagai pembangkit. Bisa saja tak mudah karena teknologi membutuhkan biaya besar dan keberanian regulasi Pemerintah. Di satu sisi, sebagai warga kita dituntut untuk mulai menghemat energi, sesuatu yang ternyata bisa habis dan tak terpulihkan. So mari dorong pemerintah untuk mencari alternatif pembangkit listrik.
Editor

Komentar

Hati-hati CO2

Ir. Hakku Wahab Kadis Pertambangan dan Energi propinsi Sultra mengatakan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil setidaknya memiliki tiga ancaman serius, yakni: (1) Menipisnya cadangan minyak bumi yang diketahui (bila tanpa temuan sumur minyak baru), (2) Kenaikan/ketidakstabilan harga akibat laju permintaan yang lebih besar dari produksi minyak, dan (3) Polusi gas rumah kaca (terutama CO2) akibat pembakaran bahan bakar fosil. Kadar CO2 saat ini disebut sebagai yang tertinggi selama 125,000 tahun belakangan.

Bila ilmuwan dan pakar eknomi masih memperdebatkan besarnya cadangan minyak yang masih bisa dieksplorasi, efek buruknya CO2 adalah terhadap pemanasan global, ini menimbulkan ancaman serius bagi kehidupan makhluk hidup di muka bumi. Oleh karena itu, pengembangan dan implementasi bahan bakar terbarukan yang ramah lingkungan perlu mendapatkan perhatian serius dari berbagai negara.

Pemerintah sebenarnya telah menyiapkan berbagai peraturan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil (misalnya: Kebijakan Umum Bidang Energi (KUBE) tahun 1980 dan Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No 996.K/43/MPE/1999 tentang pioritasi penggunaan bahan bakar terbarukan untuk produksi listrik yang hendak dibeli PLN). Namun sayang sekali, pada tataran implementasi belum terlihat adanya usaha serius dan sistematik untuk menerapkan energi terbarukan guna substitusi bahan bakar fosil.

Hanya Cukup Hingga 18 Tahun

Adanya rencana pemerintah untuk menaikan harga BBM Industri dalam waktu dekat, justru menjadikan masalah energi dan pertambangan menjadi perhatian berbagai elemen masyarakat. Selama ini PLN cabang Kendari memakai mesin diesel berbahan bakar minyak sebagai pembangkit listrik. Lonjakan harga minyak hingga US$ 124 per barel mempengaruhi aktifitas perekonomian di berbagai belahan dunia, uatamanya Indonesia. Di Sultra, kemelut kelangkaan BBM merupakan pemandangan yang bisa dijumpai di berbagai daerah di tanah air. Dari segi APBN, subsidi BBM yang mencapai 25% dinilai sebagai sesuatu yang tidak wajar dan memberatkan. Krisis BBM ini disinyalir merupakan penyebab melemahnya rupiah terhadap dolar.

Sementara itu, Energy Information Administration (EIA) memperkirakan pemakaian energi hingga tahun 2025 masih didominasi bahan bakar fosil, yakni minyak bumi, gas alam, dan batubara, sedangkan menurut data Departemen Energi dan Sumber Daya Manusia menyebutkan, cadangan minyak bumi di Indonesia hanya cukup untuk 18 tahun kedepan, gas bumi masih bisa mencukupi hingga 61 tahun lagi. Kemudian cadangan batubara diperkirakan habis dalam waktu 147 tahun lagi.

Seputar Energi Alternatif

Potensi Sumber Energi Terbarukan di Indonesia

Indonesia sesungguhnya memiliki potensi sumber energi terbarukan dalam jumlah besar. Beberapa diantaranya bisa segera diterapkan di tanah air, seperti: bioethanol sebagai pengganti bensin, biodiesel untuk pengganti solar, tenaga panas bumi, mikrohidro, tenaga surya, tenaga angin, bahkan sampah/limbah pun bisa digunakan untuk membangkitkan listrik. Hampir semua sumber energi tersebut sudah dicoba diterapkan dalam skala kecil di tanah air. Momentum krisis BBM saat ini merupakan waktu yang tepat untuk menata dan menerapkan dengan serius berbagai potensi tersebut. Meski saat ini sangat sulit untuk melakukan substitusi total terhadap bahan bakar fosil, namun implementasi sumber energi terbarukan sangat penting untuk segera dimulai.

Bioethanol
Bioethanol adalah ethanol yang diproduksi dari tumbuhan. Brazil, dengan 320 pabrik bioethanol, adalah negara terkemuka dalam penggunaan serta ekspor bioethanol saat ini. Di tahun 1990-an, bioethanol di Brazil telah menggantikan 50% kebutuhan bensin untuk keperluan transportasi; ini jelas sebuah angka yang sangat signifikan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Bioethanol tidak saja menjadi alternatif yang sangat menarik untuk substitusi bensin, namun dia mampu menurunkan emisi CO2 hingga 18% di Brazil. Dalam hal prestasi mesin, bioethanol dan gasohol (kombinasi bioethanol dan bensin) tidak kalah dengan bensin; bahkan dalam beberapa hal, bioethanol dan gasohol lebih baik dari bensin. Pada dasarnya pembakaran bioethanol tidak menciptakan CO2 neto ke lingkungan karena zat yang sama akan diperlukan untuk pertumbuhan tanaman sebagai bahan baku bioethanol.

Bioethanol bisa didapat dari tanaman seperti tebu, jagung, singkong, ubi, dan sagu; ini merupakan jenis tanaman yang umum dikenal para petani di tanah Sultra. Efisiensi produksi bioethanol bisa ditingkatkan dengan memanfaatkan bagian tumbuhan yang tidak digunakan sebagai bahan bakar yang bisa menghasilkan listrik.

Biodiesel
Serupa dengan bioethanol, biodiesel telah digunakan di beberapa negara, seperti Brazil dan Amerika, sebagai pengganti solar. Biodiesel didapatkan dari minyak tumbuhan seperti sawit, kelapa, jarak pagar, kapuk, dan sebagainya. Beberapa lembaga riset di Indonesia telah mampu menghasilkan dan menggunakan biodiesel sebagai pengganti solar, misalnya BPPT serta Pusat Penelitian Pendayagunaan Sumber Daya Alam dan Pelestarian Lingkungan ITB. Kandungan sulfur yang relatif rendah serta angka cetane yang lebih tinggi menambah daya tarik penggunaan biodiesel dibandingkan solar.

Seperti telah diketahui, tingginya kandungan sulfur merupakan salah satu kendala dalam penggunaan mesin diesel, misalnya di Amerika. Serupa dengan produksi bioethanol, pemanfaatan bagian tanaman yang tidak digunakan dalam produksi biodiesel perlu mendapatkan perhatian serius. Dengan kerjasama yang erat antara pemerintah, industri, dan masyarakat, bioethanol dan biodiesel merupakan dua kandidat yang bisa segera diimplementasikan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Tenaga Panas Bumi
Menurut data Departemen Sumberdaya Energi dan Mineral, Indonesia sebagai negara yang terletak di daerah ring of fire diperkirakan memiliki cadangan tenaga panas bumi tak kurang dari 27 GW. Jumlah tersebut tidak jauh dari daya total pembangkitan listrik nasional yang saat ini mencapai 39.5 GW. Pemanfaatan tenaga panas bumi di Indonesia masih sangat rendah, yakni sekitar 3%. Tenaga panas bumi berasal dari magma (yang temperaturnya bisa mencapai ribuan derajad celcius).

Panas tersebut akan mengalir menembus berbagai lapisan batuan di bawah tanah. Bila panas tersebut mencapai reservoir air bawah tanah, maka akan terbentuk air/uap panas bertekanan tinggi. Ada dua cara pemanfaatan air/uap panas tersebut, yakni langsung (tanpa perubahan bentuk energi) dan tidak langsung (dengan mengubah bentuk energi). Untuk uap bertemperatur tinggi, tenaga panas bumi tersebut bisa dimanfaatkan untuk memutar turbin dan generator yang selanjutnya menghasilkan listrik. Sedangkan uap/air yang bertemperatur lebih rendah (sekitar 100 oC) bisa dimanfaatkan secara langsung untuk sektor pariwisata, pertanian, industri, dsb. Dengan adanya UU No 27 Tahun 2003 tentang panas bumi serta inventarisasi data panas bumi yang telah dilakukan Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral, maka eksploitasi tenaga panas bumi ini bisa segera direalisasikan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil.

Mikrohidro
Mikrohidro adalah pembangkit listrik tenaga air skala kecil (bisa mencapai beberapa ratus kW). Relatif kecilnya energi yang dihasilkan mikrohidro (dibandingkan dengan PLTA skala besar) berimplikasi pada relatif sederhananya peralatan serta kecilnya areal tanah yang diperlukan guna instalasi dan pengoperasian mikrohidro. Hal tersebut merupakan salah satu keunggulan mikrohidro, yakni tidak menimbulkan kerusakan lingkungan. Mikrohidro cocok diterapkan di pedesaan yang belum terjangkau listrik dari PT PLN. Mikrohidro mendapatkan energi dari aliran air yang memiliki perbedaan ketinggian tertentu. Energi tersebut dimanfaatkan untuk memutar turbin yang dihubungkan dengan generator listrik. Mikrohidro bisa memanfaatkan ketinggian air yang tidak terlalu besar, misalnya dengan ketinggian air 2.5 m bisa dihasilkan listrik 400 W [7]. Potensi pemanfaatan mikrohidro secara nasional diperkirakan mencapai 7,500 MW, sedangkan yang dimanfaatkan saat ini baru sekitar 600 MW. Meski potensi energinya tidak terlalu besar, namun mikrohidro patut dipertimbangkan untuk memperluas jangkauan listrik di seluruh pelosok nusantara.

Minihidro
Hado Hasino mengatakan, untuk dapat mengatasi kritis listrik yang ada di Sultra Pemerintah Daerah sedang berupaya membangun PLTA di beberapa jalur sungai yang ada, khususnya di daerah daratan (Kolaka Utara, Kolaka, Konawe, Konawe utara dan Konawe Selatan). Minihidro adalah sejenis PLTA dalam ukuran sedang. Minihidro ini sangat cocok dengan kondisi topografi sungai di Sultra yang pendek.

Tenaga Surya
Energi yang berasal dari radiasi matahari merupakan potensi energi terbesar dan terjamin keberadaannya di muka bumi. Berbeda dengan sumber energi lainnya, energi matahari bisa dijumpai di seluruh permukaan bumi. Pemanfaatan radiasi matahari sama sekali tidak menimbulkan polusi ke atmosfer. Perlu diketahui bahwa berbagai sumber energi seperti tenaga angin, bio-fuel, tenaga air, dsb, sesungguhnya juga berasal dari energi matahari. Pemanfaatan radiasi matahari umumnya terbagi dalam dua jenis, yakni termal dan photovoltaic.

Pada sistem termal, radiasi matahari digunakan untuk memanaskan fluida atau zat tertentu yang selanjutnya fluida atau zat tersebut dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik. Sedangkan pada sistem photovoltaic, radiasi matahari yang mengenai permukaan semikonduktor akan menyebabkan loncatan elektron yang selanjutnya menimbulkan arus listrik. Karena tidak memerlukan instalasi yang rumit, sistem photovoltaic lebih banyak digunakan. Sebagai negara tropis, Indonesia diuntungkan dengan intensitas radiasi matahari yang hampir sama sepanjang tahun, yakni dengan intensitas harian rata-rata sekitar 4.8 kWh/m2 [2].

Meski terbilang memiliki potensi yang sangat besar, namun pemanfaatan energi matahari untuk menghasilkan listrik masih dihadang oleh dua kendala serius: rendahnya efisiensi (berkisar hanya 10%) dan mahalnya biaya per-satuan daya listrik. Untuk pembangkit listrik dari photovoltaic, diperlukan biaya US $ 0.25 – 0.5 / kWh, bandingkan dengan tenaga angin yang US $ 0.05 – 0.07 / kWh, gas US $ 0.025 – 0.05 / kWh, dan batu bara US $ 0.01 – 0.025 / kWh [13]. Pembangkit lisrik tenaga surya ini sudah diterapkan di berbagi negara maju serta terus mendapatkan perhatian serius dari kalangan ilmuwan untuk meminimalkan kendala yang ada.

Tenaga Angin
Pembangkit listrik tenaga angin disinyalir sebagai jenis pembangkitan energi dengan laju pertumbuhan tercepat di dunia dewasa ini. Saat ini kapasitas total pembangkit listrik yang berasal dari tenaga angin di seluruh dunia berkisar 17.5 GW [17]. Jerman merupakan negara dengan kapasitas pembangkit listrik tenaga angin terbesar, yakni 6 GW, kemudian disusul oleh Denmark dengan kapasitas 2 GW [17]. Listrik tenaga angin menyumbang sekitar 12% kebutuhan energi nasional di Denmark; angka ini hendak ditingkatkan hingga 50% pada beberapa tahun yang akan datang. Berdasar kapasitas pembangkitan listriknya, turbin angin dibagi dua, yakni skala besar (orde beberapa ratus kW) dan skala kecil (dibawah 100 kW).

Perbedaan kapasitas tersebut mempengaruhi kebutuhan kecepatan minimal awal (cut-in win speed) yang diperlukan: turbin skala besar beroperasi pada cut-in win speed 5 m/s sedangkan turbin skala kecil bisa bekerja mulai 3 m/s. Untuk Indonesia dengan estimasi kecepatan angin rata-rata sekitar 3 m/s, turbin skala kecil lebih cocok digunakan, meski tidak menutup kemungkinan bahwa pada daerah yang berkecepatan angin lebih tinggi (Sumatra Selatan, Jambi, Riau [10], dsb) bisa dibangun turbin skala besar. Perlu diketahui bahwa kecepatan angin bersifat fluktuatif, sehingga pada daerah yang memiliki kecepatan angin rata-rata 3 m/s, akan terdapat saat-saat dimana kecepatan anginnya lebih besar dari 3 m/s – pada saat inilah turbin angin dengan cut-in win speed 3 m/s akan bekerja. Selain untuk pembangkitan listrik, turbin angin sangat cocok untuk mendukung kegiatan pertanian dan perikanan, seperti untuk keperluan irigasi, aerasi tambak ikan dan sebagainya.

Akhirnya, sekali lagi kritis energi saat ini mengajarkan kepada bangsa Indonesia bahwa harus ada usaha serius dan sistematis untuk mengembangkan dan menerapkan sumber energi terbarukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Penggunaan sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan juga berarti menyelamatkan lingkungan hidup dari berbagai dampak buruk yang ditimbulkan akibat penggunaan BBM. Kerjasama antar Departemen Teknis serta dukungan dari industri dan masyarakat sangat penting untuk mewujudkan implementasi sumber energi terbarukan tersebut.
Sumber : Ika Heriansyah dalam Potensi Pengembangan Energi dari Biomassa Hutan di Indonesia

Ayo Hemat Energi
SMART SAVING, SMART LIVING!
Di Rumah, kantor, dan sekolah

1. Matikan lampu dan peralatan elektronik (lampu, televisi, komputer, stereo, mesin cuci, oven, hingga video game) bila tidak diperlukan: saat makan siang, rapat, pulang kantor, dst. Jangan meninggalkannya dalam keadaan stand-by. Mereka masihmengonsumsi listrik!

2. Beli alat elektronik dengan model paling hemat energi.

3. Memasak air minum? Didihkan sesuai kebutuhan. Untuk mandi, gunakan pemanas tenaga matahari. Dan, dijaga jangan sampai air mengalir terus menerus.

4. Bersihkan saringan penghisap debu, termasuk saringan AC. Saringan yang tersumbat menyebabkan motor bekerja lebih berat sehingga menggunakan lebih banyak listrik.

5. Manfaatkan cahaya matahari dan angin yang alami secara optimal di siang hari. Buka jendela lebar-lebar. Nyalakan lampu saat menjelang sore. Jangan lupa lampudiganti dengan lampu hemat energi. Dan, lampu dijaga selalu bersih supaya terang dengan maksimal.

6. Pintu lemari es harus ditutup rapat dan hanya dibuka seperlunya. Isi lemari es secukupnya. Terlalu penuh akan menghalangi sirkulasi udara pendingin. Sama halnya ketika kita memasukkan makanan/minuman panas. Ini akan membuat kulkas bekerja lebih keras.

7. Atur suhu AC sesuai kebutuhan. Karena semakin dingin suhu semakin banyak energi listrik yang diperlukan.

8. Gunakan mesin cuci hanya bila cucian Anda banyak. Atau, sesuai kapasitas. Lalu, isi air sesuai petunjuk. Gunakan panas matahari untuk pengeringan secara alami. Mesin cuci yang efisien mampu menghemat air hingga 1.500 liter per tahun. Hemat listrik, hemat air, hemat biaya! Lembar Fakta

9. Bersihkan bagian bawah setrika dari kerak/kotoran. Setrika otomatis lebih hemat listrik. Atur setrika listrik, sesuai dengan tingkat panas yang diperlukan.

10. Cegah kebocoran air pada kran atau pipa.

11. Pertimbangkan untuk membeli laptop dibanding desktop atau personal computer karena laptop lebih hemat 5 kali lipat dibanding desktop. Ketika Anda sudah memiliki desktop dianjurkan menggunakan layar monitor LCD dibanding CRT.

12. Bila perlu, atur “energy audit” secara berkala untuk gedung Anda. Para ahli energi akan menganalisa kapan dan dimana saja terjadi pemborosan energi dan apa yang bisa dilakukan agar energi tersebut bisa digunakan secara lebih efisien. Audit ini biasanya gratis. Termasuk audit untuk proses produksi dan kendaraan yang dipakai oleh semua pemakai gedung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: