Insert Media Lingkungan, 2008-04-30

Sultra Krisis Energi

Listrik padam? Itu bukan hal baru bagi saya, kata Herman. Bisa dibilang, hampir setiap malam di rumahku mati lampu, lanjut Herman. Pria tua yang keseharianya jualan bakso di pinggiran jalan Kendari Beach ini mengaku sudah kebal dengan yang namanya listrik padam. Herman hanyalah salah satu dari anda yang merasa bahwa kebutuhan listrik kita saat ini sudah terbatas. Namun herannya, belum ada pihak pemerintah yang mau memberikan solusi terbaik dalam kritis listrik ini.

Dalam beberapa bulan belakangan, istilah pemadaman bergilir di kota Kendari mulai menjadi trend tersendiri buat masyarakat.  Di kota Kendari, terdapat dua sektor utama yang menyuplai energi listrik ke masyarakat, salah satu diantaranya adalah Pembangkit Listrik Jawa Bali (PJB) Poasia yang berkapasitas 12,5 Mega Watt (MW). Di sektor ini terdapat lima mesin pembangkit listrik berjenis diesel yang menggunakan bahan bakar MFO sejenis fill oil (kualitasnya di bawah solar).

Dalam keadaan seperti ini, kemelut kelangkaan BBM justeru mencul dari berbagai daerah di tanah air. Dari segi APBN, subsidi BBM yang mencapai 25% dinilai sebagai sesuatu yang tidak wajar dan memberatkan pemerintah walaupun krisis BBM itu disinyalir merupakan penyebab melemahnya rupiah terhadap dolar. Adanya rencana pemerintah untuk menaikan harga BBM Industri dalam waktu dekat, bakal menjadikan masalah energi dan pertambangan menjadi perhatian berbagai elemen masyarakat, disisi lain PT. PLN cabang Kendari memakai mesin diesel berbahan bakar minyak sebagai pembangkit listrik, lonjakan harga minyak hingga US$ 124 per barel mempengaruhi aktifitas perekonomian di berbagai belahan dunia, utamanya Indonesia, Sultra pun tidak ketinggalan.

Di satu sisi masalah peningkatan konsumsi energi listrik ini mendapat sorotan dari berbagai pihak untuk segera dipecahkan. Seperti yang dilansir harian Kompas menunjukan kian banyak kegiatan usaha yang tidak mengandalkan sepenuhnya pasokan listrik dari PLN. Mereka terpaksa membangun pembangkit listrik sendiri walau berakibat pada peningkatan biaya tetap, sehingga menggerogoti daya saing. Sedangkan usaha kecil yang tak mampu mengadakan listrik sendiri, terpaksa harus pasrah dengan mengurangi jam produksi mereka karena PLN kerap melakukan pemadaman.

Berdasarkan data dinas pertambangan propinsi Sultra tahun 2007, sekitar 611 desa belum teraliri listrik dari 1.911 desa yang ada di Sultra, bila dibandingkan dengan data PLN cabang Kendari tahun 2005, 1.733 Desa di 117 Kecamatan yang tersebar pada 10 Kabupaten/Kota se Sulawesi Tenggara (Sultra), sekitar  63% diantaranya belum terlayani aliran listrik PLN.

Hado Hasina wakil Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Sulawesi Tenggara, mengatakan saat ini PLN tidak dapat diandalkan untuk menyuplai kebutuhan listrik di Sultra. Satu-satunya jalan yang akan ditempuh oleh Pemerintah Daerah adalah melakukan konversi energi.  Rencananya, Pemerintah Daerah Sultra berusaha mengajak investor untuk berinvestasi pembangkit tenaga listrik non BBM dengan 57 % dari batu bara.

Sementara itu, lanjut Hado Hasina, sumber daya yang menunjang kegiatan energi fosil di Sultra tidak ada, di sisi lain BUMN seperti PLN dan Pertamina dituntut untuk menyediakan kebutuhan energi kepada masyarakat secara optimal. “Ini pekerjaan besar buat kami”, kata Hado Hasina kepada wartawan dalam acara Kelas Energi yang diselenggarakan oleh WWF Indonesia di Hotel Plaza In 14/4 lalu.

Dalam kesempatan itu juga, Manager PT. PLN (Persero) Cabang Kendari, Fauzi Arubusman mengatakan bahwa saat ini PLN sedang menghadapi krisis energi, selain itu mesin pembangkit listrik yang mereka miliki telah berusia belasan tahun sehingga tidak mampu memberikan ketersediaan listrik disaat beban puncak. PLN juga membutuhkan biaya besar untuk merawat semua mesin tersebut.

Menurutnya, PLN mengalami kerugian dari tahun ke tahun. Perusahaan ini tak diuntungkan selama beroperasi di Sulawesi Tenggara. “Banyak yang berpikir,semakin tinggi biaya yang mereka bayar ke PLN semakin untung kami, padahal itu tidak,” kata Fauzi. Justru sebaliknya, semakin banyak penggunaan perangkat listrik, beban PLN besar pula.

Di tempat terpisah, Ir. Hakku Wahab Kadis Pertambangan dan Energi propinsi Sultra saat ditemui di kantornya mengatakan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil setidaknya memiliki tiga ancaman serius, yakni: (1) Menipisnya cadangan minyak bumi yang diketahui (bila tanpa temuan sumur minyak baru), (2) Kenaikan/ketidakstabilan harga akibat laju permintaan yang lebih besar dari produksi minyak, dan (3) Polusi gas rumah kaca (terutama CO2) akibat pembakaran bahan bakar fosil. Kadar CO2 saat ini disebut sebagai yang tertinggi selama 125,000 tahun belakangan.

Bila ilmuwan dan pakar eknomi masih memperdebatkan besarnya cadangan minyak yang masih bisa dieksplorasi, efek buruknya CO2 adalah terhadap pemanasan global. Hal ini menimbulkan ancaman serius bagi kehidupan makhluk hidup di muka bumi. Oleh karena itu, pengembangan dan implementasi bahan bakar terbarukan yang ramah lingkungan perlu mendapatkan perhatian serius dari berbagai negara, kata Hakku Wahab.

Pemerintah sebenarnya telah menyiapkan berbagai peraturan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil (misalnya: Kebijakan Umum Bidang Energi (KUBE) tahun 1980 dan Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No 996.K/43/MPE/1999 tentang pioritasi penggunaan bahan bakar terbarukan untuk produksi listrik yang hendak dibeli PLN). Namun sayang sekali, pada tataran implementasi belum terlihat adanya usaha serius dan sistematik untuk menerapkan energi terbarukan guna substitusi bahan bakar fosil.

Indonesia sesungguhnya memiliki potensi sumber energi terbarukan dalam jumlah besar. Beberapa diantaranya bisa segera diterapkan di tanah air, seperti: bioethanol sebagai pengganti bensin, biodiesel untuk pengganti solar, tenaga panas bumi, mikrohidro, tenaga surya, tenaga angin, bahkan sampah/limbah pun bisa digunakan untuk membangkitkan listrik. Hampir semua sumber energi tersebut sudah dicoba diterapkan dalam skala kecil di tanah air.

Sementara untuk di Sultra sendiri, potensi yang bisa menjadi pembangkit energi yang tepat adalah Tenaga Surya dan Mini hidro. “hal ini sesuai dengan kondisi penyerapan sinar matahari dan topografi sungai di sultra yang bersifat pendek,” lanjut Hakku Wahab. Momentum krisis BBM saat ini merupakan waktu yang tepat untuk menata dan menerapkan dengan serius berbagai potensi tersebut. Meski saat ini sangat sulit untuk melakukan substitusi total terhadap bahan bakar fosil, namun implementasi sumber energi terbarukan sangat penting untuk segera dimulai.(Saban)

One Response

  1. Artikel di blog ini sangat bagus dan berguna bagi para pembaca. Agar lebih populer, Anda bisa mempromosikan artikel Anda di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di seluruh Indonesia. Telah tersediaa plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!

    http://www.infogue.com
    http://energi.infogue.com/sultra_krisis_energi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: