Jurnalis Trip Kolaka dan Soroako (19-27 Maret 2008)

Wawancara Masyarakat Sekitar PertambanganWawancara Masyarakat Sekitar Pertambangan 4Wawancara Masyarakat Sekitar Pertambangan 3

Wawancara Masyarakat Sekitar Pertambangan 2Wawancara Dengan Karyawan Tambang PT INCOWawancara Dengan Karyawan Tambang PT INCO 3

Wawancara Dengan Karyawan Tambang PT INCO 2

SELAMAT datang di kota tambang. Hilir mudik kendaraan besar dan berbagai tanda larangan yang berdiri mengingatkan satu hal ; hati-hati. Saat ini jalan provinsi masih gabung dengan jalan produksi. Artinya, kecelakaan bisa saja terjadi. Yah, kami berada di Pomalaa, kota berjarak 25 kilometer dari Kabupaten Kolaka. Pomalaa menjadi incaran perusahaan tambang sejak tahun 1909, ketika pertamakalinya bijih nikel-logam yang terbentuk secara alamiah dari proses alam-dinyatakan memenuhi perut bumi Pomalaa. PT Aneka Tambang, perusahaan milik negara berada di sini, memegang konsensi seluas 8,314 hektar. Selain itu, 10 Kuasa Tambang (KP) yang beroperasi atas izin Bupati Kolaka juga beroperasi di sini. Sebagian besar perusahaan tersebut mengirim ore-tanah campuran bijih nikel– ke negara-negara penerima ekspor. Warga setempat menjadi pekerja tambang yang bekerja full time. Di satu sisi, kita menyaksikan kemajuan ekonomi bagi warga di sini, tapi untuk selanjutnya-pasca tambang-tambang tersebut selesai beroperasi, siapa yang akan bertanggungjawab terhadap pengelolaan wilayah Pomalaa?

Ini kota yang tak kalah sibuknya. Sorowako, Provinsi Sulawesi Selatan. Jalanan lebar dan kendaraan dengan pucuk-pucuk bendera melaju di atas aspal mulus. PT Inco memegang konsensi seluas 118,387 hektar di wilayah ini. Di Sultra, PT Inco memegang konsensi 63,506 hektar dan di Sulawesi Tengah seluas 36,635 hektar. Kontrak karya pertama PT Inco dimulai tahun 1968 dan perpanjangan kontrak dilakukan kembali tahun 1995 yang akan berlaku hingga tahun 2025. PT Inco menjanjikan komitmen lingkungan, integrasi Coorporate Social Responsibilty (CSR) dan komitmen sosial ekonomi bagi warga sini. Tapi tetap saja berbagai tuntutan masuk untuk PT Inco dengan satu alasan; apa yang telah dilakukan (oleh para pengelola tambang itu) tak akan pernah lagi memperbaiki kerusakan yang timbul.

Advertisements

One Response

  1. merusak lingkungan butuh aktu sekejab saja, tapi untuk melakukan rehabilitasi butuh waktu yang lama. masyarakat hanya dibodoh2hi dengan alasan pembangunan. kemudian masyarakat tidak dan belum merasakan atau mungkin merasakan tapi tidak bisa berbuat apa2 betapa menderitanya masyarakat akibat kegiatan pertambangan.

    dengan iming2 gula (CSR, CD, Bantuan Langsung) masyarakat mempertaruhkan SDA. iyo mbe’,,, sekali waktu korasakan… akibatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: